Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Sembilan Tahun Berlalu, Rita Widyasari Kembali ke Kota Raja: Disambut Haru, Rindu Bakso GLG dan Keluarga

Elmo Satria Nugraha • Jumat, 12 Juni 2026 | 22:37 WIB
 Kedatangan Rita Widyasari, Bupati Kutai Kartanegara periode 2010-2017 di Tenggarong (Elmo/Prokal.co)
 Kedatangan Rita Widyasari, Bupati Kutai Kartanegara periode 2010-2017 di Tenggarong (Elmo/Prokal.co)

PROKAL.CO, TENGGARONG - Hampir sembilan tahun meninggalkan Kota Raja, Rita Widyasari akhirnya kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, Jumat (12/6/2026). Kepulangan mantan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) periode 2010-2017 itu berubah menjadi lautan kerinduan yang tak terbendung. Sorak-sorai, pelukan hangat, hingga tangisan warga mengiringi perjalanan Rita menuju Tenggarong. Banyak yang rela menunggu berjam-jam hanya untuk melihat sosok yang pernah memimpin Kukar selama dua periode tersebut kembali pulang.

Rita tiba melalui Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, Balikpapan, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kukar. Setibanya di kawasan Simpang Lembuswana, jalur Samarinda-Tenggarong, ia berganti menggunakan sepeda motor dan diarak masyarakat menuju Kota Raja.

Sepanjang perjalanan, rombongan terus membesar. Warga berdiri di tepi jalan, melambaikan tangan, mengabadikan momen dengan telepon genggam, hingga meneriakkan nama Rita. Memasuki kawasan Timbau, antusiasme masyarakat semakin terasa. Jalan-jalan utama dipenuhi warga yang ingin menyaksikan langsung kedatangannya. Tak sedikit yang berusaha mendekat sekadar untuk bersalaman, memeluk, atau menyampaikan rasa rindu. Bahkan beberapa warga terlihat menyodorkan makanan dan minuman kepada Rita di tengah arak-arakan menuju kediamannya di Jalan Melati, Kelurahan Panji.

Kedatangan Rita Widyasari, Bupati Kutai Kartanegara periode 2010-2017 di Tenggarong (Elmo/Prokal.co)
Kedatangan Rita Widyasari, Bupati Kutai Kartanegara periode 2010-2017 di Tenggarong (Elmo/Prokal.co)

Momen paling mengharukan terjadi ketika Rita mulai memasuki kawasan permukiman menuju rumahnya. Tangis pecah dari sejumlah warga yang selama bertahun-tahun hanya mengikuti kabarnya dari layar televisi dan media sosial.
Rita sendiri mengaku tidak pernah membayangkan sambutan sebesar itu.

“Terharu, apalagi tadi pas melewati jembatannya (Jembatan Kutai Kartanegara). Saya pikir enggak banyak orang yang menunggu, eh ternyata banyak yang menyambut dan mengiringi. Alhamdulillah, luar biasa. Jujur, itu enggak terbayangkan oleh saya,” ujarnya.

Perjalanan pulang itu juga menjadi momen nostalgia bagi Rita. Dari atas kendaraan yang membawanya memasuki Tenggarong, ia melihat sejumlah sudut kota yang pernah menjadi bagian dari program pembangunan saat dirinya menjabat. “Saya senang lihat Tenggarong sekarang. Dulu kan saya yang membongkar kawasan Tanjung. Cita-cita saya memang membuat begitu, buat tempat nongkrong. Alhamdulillah sekarang sudah jadi, bagus dan keren,” katanya.

Rita mengaku tak mampu menyembunyikan emosinya ketika melihat berbagai spanduk dan ucapan selamat datang yang masih menyematkan slogan yang identik dengan masa kepemimpinannya. “Tadi saya lihat ada spanduk-spanduk dan tulisan Bunda Rita Kukar Idaman lagi. Aduh, sedih rasanya. Saya sampai nangis,” ungkapnya.

Meski disambut meriah, Rita mengaku belum memiliki agenda besar setelah kembali ke Kukar. Untuk sementara, ia ingin menikmati waktu bersama keluarga dan kembali menyesuaikan diri dengan kampung halamannya. “Aku kan lahir di sini. Sudah lama sekali enggak tinggal di rumah ini. Jadi saya mau lihat-lihat dulu. Saya masih punya aset dan sebagainya di sini. Sementara ini saya mau di sini dulu, istirahat dulu sambil melihat situasi,” tuturnya.

“KPK juga masih ada pemeriksaan. Jadi sementara ini saya menetap di sini dulu,” sambungnya. Di antara banyak hal yang dirindukan selama menjalani masa tahanan, ada satu yang langsung terlintas dalam pikirannya saat kembali ke Tenggarong: Bakso GLG. Makanan legendaris itu rupanya menyimpan kenangan masa muda yang sulit dilupakan.

“Yang paling saya kangen itu bakso GLG. Dulu waktu umur 17 tahun, ulang tahun saya di rumah ini dan makanannya bakso GLG. Saya bisa tiga kali makan bakso,” kenangnya sambil tertawa.
Hubungan Rita dengan pemilik usaha bakso tersebut bahkan sudah terjalin sejak lama.

“Saya ini kayak endorser-nya bakso GLG dari bapaknya. Saya kenal baik sama yang punya,” katanya. Kerinduan terhadap cita rasa kampung halaman itu bahkan sempat terbawa hingga ke balik jeruji besi. “Kalau orang sering ngirimin saya bakso itu ke lapas, teman-teman bilang rasanya memang beda. Kalau bakso di Jawa kan beda rasanya,” ujarnya.

Selain menikmati makanan favoritnya, agenda yang paling ingin segera dilakukan Rita adalah berziarah ke makam anggota keluarga yang telah lebih dulu berpulang. Selama menjalani masa tahanan, ia mengaku kehilangan banyak momen bersama keluarga, termasuk ketika beberapa kerabat meninggal dunia.

“Saya mau ke kuburan bapak dan adik saya. Banyak keluarga yang meninggal selama saya menjalani masa tahanan. Bahkan ada yang baru saya tahu hari ini setelah pulang,” ucapnya. “Karena saya memang terputus hubungan dengan keluarga. Saya tahunya dari berita-berita,” lanjutnya.

Bagi Rita, kerinduan terhadap Kukar bukan hanya soal rumah atau keluarga, tetapi juga soal identitas yang melekat dalam dirinya sejak lahir. “Saya memang orang Kutai. Saya lahir di Jalan Mawar. Saya benar-benar lahir orang Kutai,” tegasnya. “Ibu saya kan turunan Dayang. Jadi saya memang kangen dengan segala makanan sini. Kangen cempedak saleh, kangen labu dan makanan-makanan khas lainnya,” imbuhnya.

Saat ditanya mengenai kemungkinan kembali ke dunia politik, Rita memilih tersenyum. Ia mengaku belum memiliki keinginan untuk kembali terlibat dalam kontestasi politik dalam waktu dekat. “Waduh, saya mau istirahat dulu. Aku ini dimusuhin orang banyak sekali. Pokoknya sekarang saya mau istirahat dulu, lihat-lihat aset dan berdoa.” “Kalau urusan politik, saya enggak mau dulu. Malas, capek saja,” katanya.

Yang menjadi prioritas saat ini adalah keluarga. Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan di balik tembok penjara, Rita ingin mengembalikan waktu-waktu yang hilang bersama orang-orang terdekatnya. “Pertama saya mau ketemu keluarga dulu. Saya sudah lama enggak ketemu keluarga dekat.” “Kalau tokoh-tokoh atau kawan-kawan lama yang mau ketemu, pasti saya temui. Saya memang siapa? Bukan siapa-siapa,” ujarnya.

Di Kota Raja yang terus berkembang selama hampir satu dekade terakhir, kepulangan Rita Widyasari menjadi lebih dari sekadar perjalanan pulang. Bagi banyak warga yang memadati jalan-jalan Tenggarong hari itu, momen tersebut adalah pertemuan kembali dengan sosok yang pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang Kutai Kartanegara. Sementara bagi Rita sendiri, kepulangan itu adalah awal untuk kembali menyambung silaturahmi, menunaikan ziarah keluarga, dan menikmati hal-hal sederhana yang selama ini hanya bisa dirindukan dari kejauhan. (moe)

Editor : Indra Zakaria
#rita widyasari