DERU sungai Mahakam kembali menjadi saksi bisu insiden yang menimpa Jembatan Mahakam I. Itu setelah jembatan pertama yang melintasi Sungai Mahakam itu dihantam kapal tongkang pada 16 Februari 2025. Akibatnya jembatan ikonik yang menghubungkan dua sisi Kota Samarinda ini akan ditutup sementara untuk inspeksi keamanan menyeluruh.
Penutupan direncanakan dimulai pada Kamis, 27 Februari 2025, atau paling lambat di awal Maret. Diperkirakan penutupan akan berlangsung selama dua minggu. Keputusan ini diambil guna memastikan kondisi struktur jembatan tetap aman sebelum dibuka kembali.
Dalam upaya menjaga kelancaran lalu lintas, Pemprov Kaltim melalui Diskominfo menggelar konferensi pers pada Selasa (25/2). Plt Kepala Dinas Perhubungan Kaltim, Irhamsyah mengungkapkan, selama penutupan berlangsung, arus kendaraan akan dialihkan ke Jembatan Mahkota IV atau jembatan kembar yang sementara akan diberlakukan sebagai jalur dua arah.
"Penutupan ini dilakukan demi keselamatan masyarakat. Kami memastikan bahwa rekayasa lalu lintas berjalan optimal dengan mengalihkan arus kendaraan ke Jembatan Mahakam IV," ujar Irhamsyah.
Dengan perubahan ini, pengendara yang datang dari Jalan APT Pranoto dan Jalan Cipto Mangunkusumo (Loa Janan Ilir) harus memutar melalui Tugu Pesut sebelum bisa mengakses Jembatan Mahkota IV.
Sementara itu, pengendara dari Jalan Untung Suropati (Big Mall) tidak lagi dapat memutari Tugu Air Mancur Pesut untuk menuju jembatan, melainkan harus berbelok di Jalan Slamet Riyadi. Titik belok terdekat tersedia di sekitar Masjid Darunni’mah dan Lapangan Panahan Samarinda.
Kasat Lantas Polresta Samarinda, Kompol La Ode Prasetyo, menegaskan bahwa meski diberlakukan dua jalur, pemisahan antara jalur kendaraan roda dua dan roda empat tetap akan diterapkan di Jembatan Mahkota IV.
"Keamanan dan kelancaran lalu lintas menjadi prioritas utama. Kami akan terus melakukan pengawasan serta memberikan arahan kepada pengendara agar dapat beradaptasi dengan pola lalu lintas baru ini," ujarnya.
Selain itu, pembatasan tonase kendaraan tetap berlaku. Sama seperti di Jembatan Mahakam I, kendaraan dengan bobot lebih dari 8 ton dilarang melintas di Jembatan Mahkota IV untuk menjaga keamanan struktur jembatan.
Pemkot Samarinda melalui Dishub Kota juga turut berperan. Kepala Bidang Lalu Lintas Jalan (LLJ) Dishub Samarinda, Didi Zulyani menyatakan bahwa pihaknya siap mendukung kebijakan yang diambil oleh Pemprov Kaltim. Bahkan ia sudah berancang untuk menyiapkan barrier untuk mengatur arus lalu lintas yang nantinya akan dibuat skema dua arah.
“Kami sudah berkoordinasi dan tentunya kami mengikuti arahan dari Dishub Kaltim dalam pengaturan rekayasa lalu lintas," kata Didi usai menghadiri konferensi pers di Kantor Diskominfo Kaltim, Selasa (25/2).
Didi menambahkan bahwa Pemkot Samarinda juga akan berkoordinasi dengan Satlantas Polresta Samarinda demi memastikan kelancaran arus kendaraan. Sehingga dirinya pun berharap proses investigasi dan perbaikan Jembatan Mahakam I bisa berjalan dengan baik.
"Semoga tidak ada hambatan dan kami akan segera menyiapkan skema lalu lintasnya," terang Didi. Namun, di balik segala upaya ini, muncul pertanyaan dari masyarakat terkait langkah antisipasi jangka panjang.
Penutupan jembatan karena tabrakan tongkang bukanlah hal baru, tetapi hingga kini, belum ada kebijakan yang betul-betul efektif untuk mencegah peristiwa serupa terjadi lagi.
"Seharusnya ada pelindung tambahan. Jangan tunggu ada kerusakan besar baru bertindak. Saya setiap hari melintas pulang kerja, jadi was-was karena takut seperti Jembatan di Tenggarong," pungkas Pratama.
Jembatan Mahakam I bukan sekadar infrastruktur penghubung, tetapi juga bagian dari sejarah panjang Samarinda. Diresmikan pada 2 Agustus 1986 oleh Presiden Soeharto, jembatan ini telah menjadi urat nadi mobilitas warga selama hampir empat dekade. Namun, perjalanannya tak selalu mulus.
Sejak pertama kali digunakan, Jembatan Mahakam I tercatat telah 22 kali mengalami tabrakan oleh kapal tongkang. Insiden terbaru yang terjadi pada 16 Februari 2025 menjadi pukulan telak, menyebabkan kerusakan signifikan pada fender pelindung jembatan. (kis/hun/nha)
Editor : Indra Zakaria