PROKAL.CO, SAMARINDA – Hasil evaluasi program Cek Kesehatan Gratis (CKG) tahun 2025 mengungkap fakta mengkhawatirkan mengenai kondisi kesehatan warga Kota Samarinda. Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi dan obesitas tercatat mendominasi kelompok usia dewasa, sementara masalah gigi berlubang menghantui generasi muda di Kota Tepian.
Data yang dirilis Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda menunjukkan angka yang cukup mencolok. Sebanyak 38,42 persen penduduk usia di atas 18 tahun di Samarinda menderita hipertensi, dan 30,23 persen lainnya mengalami obesitas. Kondisi ini sejalan dengan tren nasional yang dipaparkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam konferensi pers, Jumat (23/1/2026).
Tidak hanya pada orang dewasa, ancaman kesehatan juga menyasar anak-anak. Di Samarinda, hampir separuh balita (49,44 persen) memiliki kondisi gigi tidak sehat, dan angka ini melonjak menjadi 53,06 persen pada kelompok remaja. Selain itu, angka bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) tercatat berada di angka 5,14 persen.
Kepala Dinkes Kota Samarinda, dr. Ismed Kusasih, menegaskan bahwa temuan ini harus menjadi alarm bagi masyarakat untuk segera mengubah pola hidup, terutama bagi warga di wilayah perkotaan. Sebagai solusi, pemerintah memastikan mulai tahun 2026, program CKG tidak lagi sekadar pendataan atau skrining, melainkan langsung berlanjut ke tahap penanganan medis.
"Mulai tahun ini, bagi pasien yang terdeteksi hipertensi dan diabetes di puskesmas, mereka bisa langsung mendapatkan obat pada hari yang sama setelah diagnosis. Bagi peserta BPJS aktif, penanganan akan diintegrasikan melalui skema JKN," ujar dr. Ismed.
Pemerintah Kota Samarinda kini menyiagakan 26 puskesmas di seluruh wilayah untuk melayani program CKG secara cuma-cuma. Meski tantangan partisipasi masih membayangi—karena banyak warga merasa sehat sehingga enggan memeriksakan diri—Dinkes terus mendorong deteksi dini untuk mencegah komplikasi yang lebih berat di masa depan. (*)
Editor : Indra Zakaria