SAMARINDA- Rencana sterilisasi Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) dari kendaraan berat tampaknya masih menemui hambatan di lapangan. Hingga Rabu (28/1/2026) sore, portal pembatas yang dijanjikan akan membendung laju kendaraan bertonase besar belum juga berdiri. Padahal, personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Kalimantan Timur telah bersiaga melakukan pengawalan sejak Selasa malam, namun eksekusi pemasangan di kawasan Sungai Kunjang tersebut urung terlaksana.
Keterlambatan ini berdampak langsung pada kondisi lalu lintas di atas jembatan. Kendaraan dengan bobot di atas 8 ton terpantau masih leluasa melenggang, baik dari arah Samarinda maupun arah Loa Janan, seolah tidak ada ancaman terhadap struktur jembatan pasca-insiden. Tak hanya di darat, aktivitas di bawah jembatan pun tetap sibuk dengan lalu-lalang ponton batu bara yang dipandu oleh Pelindo dan KSOP, meski status keamanan jembatan sebenarnya sedang dalam sorotan tajam.
Kepala Bidang Trantibum Satpol PP Kaltim, Edwin Noviansyah Rachim, menegaskan bahwa penutupan akses ini merupakan perintah langsung dari Dinas PUPR Kaltim demi keselamatan publik. Larangan melintas bagi kendaraan berat ini bersifat sementara hingga serangkaian pengujian krusial—seperti uji beban dinamis, uji geometri, dan non-destructive test (NDT)—selesai dilakukan. Pengetatan ini ditegaskan bukan untuk mengganggu arus logistik secara permanen, melainkan langkah darurat untuk mencegah hilangnya nyawa manusia jika terjadi kerusakan struktur yang lebih parah.
Mengenai spesifikasi pengaman, Edwin memaparkan bahwa portal yang akan dipasang nantinya memiliki ketinggian 2,4 meter, serupa dengan standar yang diterapkan di Jembatan Achmad Amins. Material baja kokoh dipilih sebagai bahan utama konstruksi portal agar tidak mudah ditembus atau dirusak oleh pengemudi nakal. Meski pengaturan lalu lintas berada di bawah kendali Dinas Perhubungan dan Kepolisian, Satpol PP berkomitmen untuk menyiagakan personel secara bergantian guna mengawasi portal tersebut begitu terpasang nantinya.
Pihak berwenang berharap para pelaku usaha dan sopir kendaraan berat dapat memahami situasi darurat ini. Dukungan juga datang dari warga sekitar yang setuju dengan pemasangan portal demi keamanan bersama. Kini, publik menunggu langkah nyata di lapangan agar pembatasan tersebut tidak hanya sekadar menjadi wacana di tengah risiko infrastruktur yang mengancam. (*)
Editor : Indra Zakaria