SAMARINDA – Pemerintah Kota Samarinda mulai meninggalkan pola lama dalam menangani masalah banjir yang selama ini hanya mengacu pada data historis. Menyadari adanya ancaman anomali cuaca yang kian ekstrem, Pemkot Samarinda kini menggandeng Flood Impacts, Carbon Pricing and Ecosystem Sustainability (FINCAPES) Project—sebuah program besutan University of Waterloo, Kanada—untuk menyusun kajian risiko banjir yang lebih futuristik dan komprehensif.
Project Officer Flood Risk FINCAPES, Mawardi Muhammad, mengungkapkan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk memasukkan indikator perubahan iklim ke dalam perencanaan tata kota. Berbeda dengan kajian sebelumnya, riset ini akan memproyeksikan dampak kenaikan suhu global hingga skenario ekstrem 2 derajat Celsius. Tujuannya adalah memetakan potensi risiko banjir Samarinda dalam rentang waktu jangka panjang, mulai dari 10 tahun hingga satu abad ke depan.
Hasil akhir dari kajian ini diharapkan melahirkan rekomendasi adaptasi yang lebih realistis bagi Kota Tepian. Mawardi menjelaskan bahwa penanganan banjir ke depan tidak selalu harus berupa proyek fisik raksasa. Strategi yang ditawarkan mencakup kombinasi solusi struktural, seperti penguatan sistem drainase dan pompa, hingga konsep nature-based solution melalui penanaman pohon di daerah tangkapan hujan guna meningkatkan daya serap air tanah.
Salah satu inovasi yang menarik dalam kajian ini adalah pemanfaatan ruang terbuka publik, seperti taman kota atau lapangan, untuk dialihfungsikan sebagai kolam retensi sementara saat terjadi hujan ekstrem. Selain itu, tim ahli juga akan menyoroti fenomena penurunan muka tanah akibat penggunaan air tanah berlebihan dan kondisi tanah gambut yang selama ini memperparah durasi genangan di beberapa titik di Samarinda.
Kajian risiko banjir ini ditargetkan rampung dalam kurun waktu 9 hingga 10 bulan ke depan. Setelah data pemetaan risiko tersedia, pemerintah berencana melanjutkan riset pada tahap penghitungan kerugian ekonomi. Langkah ini penting dilakukan agar pemerintah daerah memiliki acuan yang jelas dalam menghitung dampak kerusakan pada sektor perkantoran, pasar, hingga aktivitas ekonomi masyarakat setiap kali bencana banjir melanda.(*)
Editor : Indra Zakaria