SAMARINDA – Menjelang momentum besar Ramadan, ketidakpastian nasib melanda ratusan pedagang penyewa Pasar Pagi Samarinda. Merasa digantung tanpa kepastian kios, perwakilan pedagang mendatangi Kantor DPRD Samarinda di Jalan Basuki Rahmat pada Selasa, 3 Februari 2026, untuk mengadu dan meminta keadilan terkait proses relokasi.
Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, menegaskan bahwa polemik ini tidak bisa dipandang sederhana. Saat ini, terdapat selisih kekurangan sekitar 280 unit kios antara jumlah pemilik Surat Keterangan Tempat Usaha Berjualan (SKTUB) dengan penyewa aktif. Iswandi mendesak Dinas Perdagangan (Disdag) untuk segera melakukan sinkronisasi data agar kebijakan yang diambil bersifat proporsional dan tidak memicu konflik horizontal antarpedagang.
"Pemerintah kota harus memberikan solusi yang masuk akal dan adil. Adil itu tidak harus sama, tapi proporsional. Kami mengawal agar data disinkronkan supaya tidak ada kejanggalan, seperti pedagang yang punya banyak kios tapi tidak pernah membayar retribusi," tegas Iswandi.
Senada dengan itu, Anggota Komisi II, Joha Fajal, menyoroti adanya 400 kios yang belum terserap dari total 1.800 unit yang disiapkan pemerintah. Ia mendesak agar persoalan ini tuntas sebelum Ramadan tiba. Namun, ia juga mengingatkan para pedagang untuk jujur terkait kewajiban mereka. "Jangan hanya menuntut hak jika kewajiban (retribusi) belum dilaksanakan. Kami akan cek lapangan mengapa masih banyak kios yang belum diambil," imbuhnya.
Dari sisi pedagang, kondisi di lapangan kian terjepit. Ketua Koordinator Pedagang Penyewa, Jumraniadil alias Ady, mengungkapkan bahwa para penyewa kini harus merogoh kocek pribadi untuk membayar sewa di lokasi relokasi Segiri Grosir Samarinda (SGS) setelah subsidi pemerintah berakhir Desember lalu. Besaran sewa berkisar antara Rp800 ribu hingga Rp2,5 juta per bulan.
"Kami bingung karena belum ada informasi valid dari Dinas Perdagangan, padahal Ramadan sudah dekat. Harapan kami sederhana, setidaknya kami mendapat kios meski jumlahnya mungkin dikurangi dari sebelumnya, agar kami bisa tetap berjualan di momen lebaran nanti," pungkas Ady. Berdasarkan data koordinator, terdapat sekitar 272 penyewa aktif yang nasibnya kini masih menggantung di tengah proses revitalisasi pasar legendaris tersebut. (hun/beb)
Editor : Indra Zakaria