SAMARINDA — Kawasan pendidikan di Jalan Perjuangan kini memiliki opsi hunian baru yang menawarkan keamanan ekstra bagi para mahasiswi. Perumda Varia Niaga secara resmi mengelola Bebaya Kos Syariah, sebuah aset milik Pemerintah Kota Samarinda yang lokasinya sangat strategis diapit oleh berbagai kampus besar seperti Universitas Mulawarman, STMIK Wicida, dan UWGM. Meskipun mengusung label syariah, hunian ini bersifat inklusif karena terbuka bagi penyewa nonmuslim, dengan penekanan utama pada sistem pengelolaan dan standar perilaku yang berbasis nilai-nilai kesantunan dan kenyamanan bersama.
Direktur Utama Perumda Varia Niaga, Syamsuddin Hamade, mengungkapkan bahwa sejak mulai dioperasikan secara penuh, respons pasar terbilang sangat positif dengan tingkat okupansi yang telah melampaui angka 60 persen dari total 50 kamar tersedia. Pencapaian ini menjadi catatan penting bagi perusahaan mengingat operasional dimulai bukan pada masa puncak tahun ajaran baru. Dengan tarif sewa berkisar antara Rp 2 juta hingga Rp 2,3 juta per bulan, fasilitas yang ditawarkan setara dengan apartemen, mulai dari kamar mandi dalam dengan pendingin udara (AC), ruang kerja bersama (working space), hingga integrasi dengan Bebaya Mart untuk memudahkan penghuni memenuhi kebutuhan harian mereka.
Selain sebagai penyedia jasa hunian, Bebaya Kos Syariah dirancang sebagai instrumen baru untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Samarinda. Melalui skema pembagian hasil yang transparan, Pemkot Samarinda mendapatkan porsi 60 persen dari laba bersih, sementara 40 persen sisanya dikelola oleh Varia Niaga sebagai biaya operasional dan pengembangan. Menariknya, dari porsi yang dikelola Varia Niaga tersebut, perusahaan masih diwajibkan menyetorkan kembali 30 persen laba bersihnya ke kas daerah, sehingga kontribusi terhadap pembangunan kota menjadi lebih maksimal.
Aspek keamanan menjadi nilai jual utama yang ditonjolkan bagi para orang tua yang ingin memberikan perlindungan terbaik bagi putri mereka. Syamsuddin menegaskan bahwa pengawasan di area kos dilakukan secara ketat dengan melibatkan personel keamanan perempuan, pembatasan kunjungan tamu, hingga pengaturan teknisi yang harus mendapatkan izin manajemen sebelum memasuki area. Lingkungan yang terkontrol ini diharapkan menjadi solusi bagi mahasiswi untuk tetap fokus pada prestasi akademik dalam lingkungan tinggal yang sehat dan aman. (*)
Editor : Indra Zakaria