Ancam Cabut 1.000 Lapak Pasar Pagi, Pemkot Samarinda Dinilai Tutup Mata atas Nasib Pedagang

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 10:30 WIB
Potret deretan lapak di Pasar Pagi Samarinda yang masih banyak tutup.
Potret deretan lapak di Pasar Pagi Samarinda yang masih banyak tutup.

SAMARINDA – Kemegahan wajah baru Pasar Pagi Samarinda menyimpan cerita kelam bagi para pedagangnya. Di balik fisik bangunan enam lantai yang estetik, denyut ekonomi di pasar tersebut justru lesu darah. Hingga kini, tingkat keterisian pasar dilaporkan baru menyentuh angka 40 persen dengan 1.000 lapak yang masih mangkrak.

Kondisi sepi pembeli yang mencekik leher pedagang ini memicu keprihatinan mendalam dari Komisi II DPRD Samarinda. Pasalnya, Dinas Perdagangan mengancam akan menarik lapak pedagang yang masih kosong setelah deadline 31 Agustus 2026. Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, yang menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi mengaku terenyuh mendengar rintihan para pedagang. Menurutnya, mengancam mencabut lapak tanpa menyelesaikan akar masalah sepinya pengunjung adalah langkah yang keliru.

"Dari lantai satu sampai lantai enam jarang sekali saya melihat yang tersenyum. Semua merengut, pusing memikirkan retribusi sementara dagangannya belum laku," tegas Iswandi usai mengelilingi Pasar Pagi. Iswandi membeberkan fakta memprihatinkan di lapangan di mana banyak pedagang bahkan tidak mengantongi omzet sama sekali selama berbulan-bulan.

"Tadi kita dengar ada yang sudah tiga bulan, satu pun tidak ada terbeli dagangannya. Ada yang satu minggu cuma satu saja terbeli, ada juga yang satu hari satu," ungkapnya dengan nada prihatin.

Sistem Pembagian Lapak Bikin Biaya Operasional Membengkak

Selain sepinya pengunjung, masalah penataan dan tata letak lapak juga dikritik tajam. Iswandi menemukan fakta bahwa sejumlah pedagang menerima lebih dari satu lapak, namun posisinya terpencar di lantai yang berbeda. Hal ini justru membebani pedagang karena biaya operasional dan penjaga kios membengkak.

"Ada yang punya dua sampai tiga kios tetapi tersebar ke mana-mana. Satu kios saja belum menghasilkan, bagaimana harus membuka semuanya? Cost operasinya bertambah, sementara manfaatnya tidak sebanding," serunya. Kondisi makin parah dirasakan oleh para pedagang yang dialokasikan di area sudut belakang pasar. Posisi yang tersembunyi membuat mereka hampir tidak pernah disinggahi oleh calon pembeli.

"Kasihan juga, sudah dapatnya di belakang, tidak pernah didatangi orang. Sudah berbulan-bulan. Ini harus kita pikirkan bersama," lanjut Iswandi. Atas temuan tersebut, DPRD Samarinda mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) untuk mengevaluasi total sistem tata kelola dan promosi Pasar Pagi, daripada sekadar memberi ancaman tenggat waktu 31 Agustus. "Jangan sampai kita melihat pasar ini bagus, indah secara estetik, tapi secara fungsinya sangat memprihatinkan," pungkas Iswandi menohok. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Pasar Pagi Samarinda