SAMARINDA – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus mengevaluasi pengoperasian mesin insinerator sebagai salah satu upaya mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Salah satu fokus utama evaluasi adalah memastikan sampah telah dipilah sejak dari Tempat Penampungan Sementara (TPS), sebelum masuk ke mesin pembakaran.
Asisten II Bidang Pemkot Samarinda, Marnabas Patiroy, menyampaikan pemilahan sampah menjadi faktor penting agar kinerja insinerator dapat berjalan optimal. Sebab, tidak semua jenis sampah dapat diproses menggunakan teknologi tersebut. "Yang paling utama adalah bagaimana pemilahan sampah di tingkat TPS. Jangan semua barang dimasukkan ke insinerator, karena alat ini juga memiliki kelemahan. Sampah anorganik dan bahan tertentu, seperti kaca beling dan besi, tidak bisa diolah di sana," ungkapnya. Senin (2/11/2026).
Menurut Marnabas, praktik pemilahan sampah yang telah berjalan di salah satu TPS di wilayah Loa Janan Ilir dapat menjadi contoh bagi kawasan lainnya. Dengan pemilahan yang baik, sampah yang masuk ke mesin insinerator menjadi lebih sesuai dengan kapasitas pengolahannya sehingga proses pembakaran dapat berlangsung lebih optimal.
“Selain meningkatkan efektivitas pengolahan, pemilahan juga dinilai berpengaruh terhadap pengendalian asap yang dihasilkan dari proses pembakaran. Pemkot Samarinda menggunakan teknologi penanganan asap dengan mengalirkan gas buang melalui sistem berbasis air sebelum dilepaskan ke udara," ucap Marnabas.
Namun, ia mengingatkan bahwa sampah yang tidak terpilah berpotensi memengaruhi proses pengolahan dan menimbulkan persoalan dalam pengoperasian insinerator. "Kemarin kami sudah melakukan brainstorming untuk melihat apa saja kendalanya, apa kelebihannya, dan di mana lokasi yang sudah berjalan baik. Yang bagus akan kita jadikan contoh untuk diterapkan di tempat lain," Jelas Marnabas.
Untuk memperkuat upaya tersebut, Marnabas berencana menggencarkan sosialisasi dengan melibatkan lurah, camat, hingga ketua RT. Masyarakat akan didorong membiasakan pemisahan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah tangga. Edukasi juga akan menyasar lingkungan sekolah. Anak-anak didik akan diperkenalkan dengan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya sekaligus memahami perbedaan sampah organik dan anorganik.
Ia menilai pendidikan mengenai pengelolaan sampah perlu dimulai sejak dini agar kebiasaan memilah sampah dapat terbentuk dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Terkait kapasitas pengolahan, ia menyebut satu unit insinerator ditargetkan mampu mengolah hingga 10 ton sampah per hari. Meski demikian, kapasitas tersebut masih akan dievaluasi berdasarkan hasil operasional di lapangan.
"Namanya juga masih baru. Dampaknya untuk mengurangi sampah sudah terlihat. Target kita satu insinerator bisa mengolah 10 ton per hari. Kita evaluasi dulu, kalau hasilnya bagus, kenapa tidak ditingkatkan," katanya.
Ke depan, Pemkot Samarinda juga berencana menyiapkan insinerator berkapasitas lebih besar di kawasan TPA. Dengan demikian, sampah yang masuk ke TPA nantinya diharapkan hanya berupa residu atau material yang memang tidak dapat dikelola melalui proses pengolahan lainnya.
Ia menjelaskan bahwa operasional insinerator yang sempat dihentikan sebelumnya kini telah kembali berjalan. Menurutnya, salah satu hal yang perlu diperkuat adalah sosialisasi kepada masyarakat mengenai teknologi yang digunakan, termasuk sistem penanganan asap.
Ia juga menyampaikan bahwa insinerator yang digunakan merupakan produk dalam negeri yang diperoleh dari Bandung. Melalui evaluasi teknologi, penguatan pemilahan di TPS, serta edukasi masyarakat dan sekolah, Pemkot Samarinda berharap pengelolaan sampah dapat dilakukan secara lebih terarah. “Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari strategi mengurangi beban TPA dengan memastikan sampah dipilah dan diolah sesuai karakteristiknya,”pungkas Marnabas. (adv/diskominfo/smd)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co