Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Nekat Gelar Olimpiade, Terlalu Banyak yang Dipertaruhkan

izak-Indra Zakaria • Kamis, 19 Maret 2020 - 17:44 WIB
Photo
Photo

TOKYO- Di antara banyak event besar yang dijadwalkan berlangsung tahun ini, Olimpiade Tokyo 2020 menjadi satu yang menyita perhatian. Khususnya di tengah pandemi Covid-19 yang semakin meluas. Tanda-tanda gangguan tersebut sudah muncul Februari lalu, ketika beberapa ajang kualifikasi Olimpiade ditunda dan harus direlokasi.

Bukannya mereda, penundaan demi penundaan masih bergulir. Rencana pemusatan latihan negara peserta yang disiapkan berlangsung di 16 kota Jepang dipastikan batal. Yakni, pelatnas tenis meja dan senam Kolombia, juga tim senam Tiongkok yang turut membatalkan rencana TC mereka bulan depan.  

Terbaru, kualifikasi senam dalam rangkaian World Cup Series harus dibatalkan. Penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020 kemarin telah membatalkan World Cup Series di Tokyo, yang dijadwalkan 4-5 April mendatang. Sebelumnya series lainnya di Baku (Azerbaijan), Stuttgart (Jerman), Birmingham (Inggris), dan Doha (Qatar) juga dipastikan batal. 

Covid-19 begitu menakutkan buat semua kalangan. Olimpiade 2020 berupaya tetap mempertahankan penyelenggaraan sesuai jadwal. Padahal, UEFA sudah mengambil langkah startegis dengan menunda setahun ke depan gelaran EURO 2020. Tetapi, EURO dan Olimpiade jelas membutuhkan pendekatan yang berbeda. Ancaman Covid-19 berpotensi lebih besar terjadi di Olimpiade. Apalagi, multievent empat tahunan itu akan mempertandingkan 339 event dari 33 cabang olahraga.

 Situasi itu jelas membutuhkan penanganan yang lebih besar ketimbang EURO yang hanya mempertandingkan sepak bola saja. Diprediksi ada sekitar 11 ribu atlet dari 206 negara yang akan ambil bagian. Dalam situasi pandemi saat ini, menggelar Olimpiade akan menempatkan bahaya buat para delegasi. 

Rencana menggelar pertandingan tanpa penonton menjadi opsi paling kuat. Tetapi, penyelenggara juga dihadapkan pada situasi pelik untuk melakukan screening ketat buat siapapun yang ada di arena. Di sisi lain, menunda Olimpiade berarti akan ada ekstra cost yang harus disiapkan Jepang. 

Penundaan Olimpiade juga berdampak pada persiapan atlet dan negara peserta. Mereka harus menyiapkan revisi program, dan penyesuaian dana pelatnas untuk mendukung semua berjalan.  

Namun, dalam jejak pendapat lokal, sekitar 70 persen warga Jepang tidak yakin Olimpiade akan berjalan tepat waktu pada 24 Juli 2020. Peraih medali emas lompat galah Olimpiade Rio 2016 Katerina Stefanidi mengkritisi sikap IOC saat ini. “Tidak ada penundaan, atau pembatalan. Tetapi, IOC menempatkan kami semua dalam risiko,” katanya sebagaimana dikutip The Guardian. 

Di sisi lain, IOC percaya diri dengan time schedule yang ada. Sampai saat ini, Jepang terus menjalankan persiapan untuk menjamu para delegasi negara peserta. “IOC berkomitmen untuk Olimpiade 2020. Saat ini tidak perlu ada keputusan yang drastis menjelang empat bulan menuju Olimpiade,” sebut pernyataan resmi IOC dikutip ESPN. (nap)

Editor : izak-Indra Zakaria
#olahraga dunia