LILLE– Melihat Atletico Madrid (ATM) mengungguli Real Madrid dan FC Barcelona dalam perburuan juara La Liga musim ini memang capaian hebat. Keberhasilan Inter Milan menghentikan hegemoni Juventus di Serie A selama sembilan musim beruntun juga luar biasa. Tetapi, dibutuhkan kata lebih dari hebat dan luar biasa atas sepak terjang Lille OSC (LOSC) menjadi kampiun Ligue 1 musim ini.
LOSC tidak termasuk jajaran klub mapan di Ligue 1. Jangankan dengan klub paling tajir di Prancis Paris Saint-Germain (PSG), LOSC belum berada dalam level kepopuleran yang sama dengan Olympique Lyon, AS Monaco, maupun Olympique Marseille.
Secara finansial, LOSC yang berganti kepemilikan ke perusahaan investasi Luksemburg, Merlyn Partners SCSp, pada Desember tahun lalu juga berada di bawah Stade Rennais maupun OGC Nice. Stade Rennais bukan lagi klub kaleng-kaleng sejak dibeli miliarder Prancis Francois-Henri Pinault. Suami aktris Hollywood Salma Hayek itu dinobatkan Forbes sebagai bos klub sepak bola terkaya di dunia. Sementara itu, OGC Nice dimiliki salah satu orang terkaya di Inggris, Jim Ratcliffe.
Tanpa kekuatan finansial yang selaras dengan kekuatan skuad hingga dukungan pemain ke-12 alias suporter seiring masih dalam pandemi Covid-19, kenapa LOSC bisa juara? Seperti diulas France Football, LOSC diracik entraineur Christophe Galtier sebagai kekuatan kolektif. Tanpa bintang dengan setiap pemain dalam setiap starting XI bisa menjadi penentu.
Lihat saja striker timnas Turki Burak Yilmaz. Sudah berusia 35 tahun dan baru kali pertama bermain di luar negerinya, Burak tampil sebagai top scorer klub (16 gol di Ligue 1) dengan enam gol di antaranya tercipta dalam lima laga terakhir. Kombinasi padu senior-junior seperti kapten Benjamin Andre (30 tahun) dan gelandang Boubakary Soumare (23 tahun) hingga duet bek tengah Jose Fonte (37 tahun)-Sven Botman (21 tahun) juga punya peran.
Seiring hanya kebobolan 23 gol, pertahanan Les Dogues lebih baik ketimbang ATM yang kebobolan 25 gol maupun juara Premier League Manchester City (32 gol) dan Inter Milan sebagai scudetto Serie A (35 gol). Kiper Mike Maignan dengan 21 clean sheet juga sukses mengungguli Keylor Navas (PSG/15).
Gara-gara performa moncer, Maignan banjir tawaran. Salah satunya dari AC Milan. Belum lagi Soumare (Leicester City dan Everton) hingga winger Jonathan Ikone (Borussia Dortmund). Ditambah banyak pemain LOSC yang kontraknya hanya tersisa semusim. ”(LOSC hanya) sensasi semusim? Saya tidak tahu karena saya hanya ingin menikmati kesuksesan ini,” ujar Fonte yang kontraknya habis akhir Juni nanti kepada Made in Dogues.
Tanpa mengecilkan perjuangan LOSC, performa angin-anginan PSG sehingga mengalami pergantian pelatih (Thomas Tuchel ke Mauricio Pochettino) turut membantu kesuksesan Les Dogues. (ren/c19/dns)
Editor : izak-Indra Zakaria