Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Azzurri Is Still at Home

izak-Indra Zakaria • Sabtu, 26 Maret 2022 - 20:33 WIB
Dominic Berardy luapkan kecewa.
Dominic Berardy luapkan kecewa.

Ketika memenangi Piala Euro 2020, Italia mengejek Inggris dengan mengatakan “It’s Coming to Rome” sebagai balasan slogan “It’s Coming to Home”. Kini Gli Azzurri tetap akan di rumah ketika Piala Dunia 2022 di Qatar berlangsung November–Desember nanti.

 

PALERMO—Tidak ada yang lebih sedih di akhir Maret ini selain menerima kenyataan bahwa Italia kembali absen di putaran final Piala Dunia. Ya, ini adalah kedua kali mereka gagal lolos secara berturut setelah absen edisi Piala Dunia 2018 di Rusia.

Asa Italia dihancurkan oleh timnas peringkat 67 dunia, Makedonia Utara yang mengalahkan mereka 1-0 di semifinal play-off Path C Kualifikasi Piala Dunia Zona Eropa, kemarin dini hari. Dalam laga di Stadio Renzo Barbera tersebut, gol kemenangan tim tamu diciptakan oleh Aleksandar Trajkovski pada menit 90+2’. 

“Jelas kami hancur dan hancur, kekosongan besar akan tetap ada dalam diri kami,” kata bek Italia Giorgio Chiellini usai laga.

Kegagalan Italia yang peringkat 6 dunia memang sangat mengecewakan banyak penggemar. Pasalnya, setelah ditangani Roberto Mancini sejak Mei 2018, Italia sudah bangkit dari kegagalannya. Itu terbukti dengan rekor Gli Azzurri sebagai timnas yang tidak tersentuh kekalahan dalam 37 laga, sejak Oktober 2018 hingga Oktober 2021.

Pada Euro 2020 yang digelar 11 Juli 2021, Italia berhasil mengangkat trofi setelah mengalahkan Inggris di final yang berlangsung di Stadion Wembley, London. Dengan skuad yang ada saat ini, terutama dengan trio gelandang Nicolo Barella, Jorginho, dan Marco Veratti, Italia sempat digadang untuk dapat mengawinkan gelar Piala Euro dengan Piala Dunia. Namun, mimpi itu pun buyar lebih dulu.

“Sulit untuk mengatakan sesuatu sekarang, aku tidak tahu harus berkata apa,” kata pelatih Roberto Mancini kepada wartawan.

“Musim panas lalu adalah kegembiraan yang paling indah, sekarang datang kekecewaan terbesar. Tidak mudah untuk memikirkan hal-hal lain, aku sangat menyesal untuk para pemain. Tapi aku lebih mencintai mereka malam ini daripada Juli lalu,” ungkapnya.

Dari analisa Whoscored, salah satu faktor penyumbang kegagalan Italia adalah tidak maksimalnya lini serang. Lorenzo Insigne dan Ciro Immobile bermain di bawah rata-rata pemain lain. Padahal, di lini tengah, Marco Veratti sudah berusaha keras mengendalikan permainan dengan menyentuh bola paling banyak yakni 118.

Immobile yang melakukan tujuh tembakan hanya sekali yang mengenai target, begitu juga dengan Insigne hanya mampu mengenai satu target dari tiga kali tembakan. Dominco Berardi masih lebih baik, di mana penyerang sayap kanan itu membuat tujuh tembakan di mana dua di antaranya mengenai target. Upaya Roberto Mancini yang menurunkan senjata baru, Joao Pedro untuk menggantikan Berardi pada sepuluh menit akhir juga tidak klimaks. Italia total terhitung melakukan 32 tembakan sedangkan Makedonia Utara 5. Tetapi kiper Makedonia Stole Dimitrievski tidak melakukan penyelamatan yang sulit.

Pelatih Makedonia Utara Blagoja Milevski mengatakan, mereka mencoba meniru gaya permainan Italia untuk memenangi laga tersebut. “Kami memenangi gaya Italia melawan tim Italia, sebuah gol dengan dua tembakan tepat sasaran,” katanya kepada wartawan. “Aku sangat senang atas kemenangan ini, aku bangga untuk para pemain.”

Makedonia Utara, yang belum pernah lolos ke Piala Dunia, akan menghadapi Portugal pada Rabu depan (30/3) untuk memperebutkan satu tempat di Qatar. Andaikan mereka kalah, Makedonia Utara akan selalu diingat karena mengalahkan timnas dengan banyak bakat, Italia di Palermo. (tom/k8)

Editor : izak-Indra Zakaria