Sangat mudah mencari alasan Scott Parker jadi pelatih pertama di Premier League, bahkan lima liga elite Eropa, yang dipecat musim ini. Yakni, kekalahan memalukan 0-9 AFC Bournemouth oleh Liverpool FC dalam matchweek keempat Premier League di Anfield pekan lalu (27/8).
Namun, rekor kekalahan terbesar dalam sejarah Premier League itu bukan faktor utama Parker kehilangan jabatan hanya 26 hari sejak Premier League musim ini dimulai.
Sebagaimana dilansir The Sun, pemilik Bournemouth Maxim Demin kesal dengan curhatan Parker sesaat setelah kekalahan di Anfield. Parker mengeluh tentang kebijakan transfer klub berjuluk The Cherries tersebut. Menurut Parker, belanja The Cherries tidak sesuai standar untuk bersaing di Premier League. Selama musim panas, Bournemouth hanya mengeluarkan GBP 24,2 juta (Rp 419 miliar) untuk belanja empat pemain.
Itu pun bukan untuk nama populer. Rekrutan yang familier hanya penjaga gawang Brasil yang diperoleh secara gratis dari FC Barcelona, Neto.
Nominal itu kalah jauh semisal dibandingkan dengan klub promosi Premier League lain, Nottingham Forest, dengan belanja GBP 141,3 juta (Rp 2,44 triliun). ’’Kami sudah mencoba segala cara untuk mendatangkan pemain berkualitas. Tetapi, ada jutaan alasan untuk membuatnya tidak terjadi,” curhat Parker seperti dilansir Sky Sports.
Parker sejatinya jadi sosok berjasa ketika membawa Bournemouth kembali ke Premier League musim ini. Kali terakhir Bournemouth berada di Premier League adalah pada musim 2019–2020.
”Promosi bersama Parker dan timnya musim lalu jadi salah satu momentum terbaik klub ini. Tetapi, kami juga harus tetap cermat agar tim ini bertahan sesuai rencana yang sudah ditentukan,’’ kata Demin di laman resmi klub.
Sean Dyche dan Jonathan Woodgate jadi dua nama teratas yang bisa menggantikan Parker. Woodgate bahkan pernah melatih Bournemouth tahun lalu meski hanya bertahan empat bulan (Februari–Juni 2021). Saat ini The Cherries menunjuk Gary O’Neill sebagai pelatih interim. (jpc)
Editor : izak-Indra Zakaria