Ada kisah menarik ketika Real Madrid berhasil memastikan pemuncak grup Liga Champions dengan kemenangan kandang 4-2 atas Napoli pada Kamis (30/11). Salah satu pemain Los Blancos terlihat cengar-cengir, dan tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya di Santiago Bernabeu.
Dia adalah Nico Paz. Pemain jebolan akademi Real Madrid yang berhasil mencetak satu gol dari tendangan luar kotak penalti pada menit ke-84. Keunggulan Madrid semakin tak tergoyahkan ketika satu gol tambahan berhasil dicetak Joselu pada perpanjangan waktu.
Meskipun baru bermain di tim senior selama kurang dari 90 menit, aksi pemain berusia 19 tahun itu ternyata memukau banyak penggemar Madrid. Bahkan sang juru taktik, Carlo Ancelotti, secara blak-blakan memuji wonderkid-nya dalam konferensi pers sebelum pertandingan pada Selasa (28/11) lalu. Ancelotti seolah-olah sudah memprediksi gelandang serang itu akan bersinar bersama Los Merengues di kemudian hari.
“Anda banyak berbicara tentang (pemain) akademi yang tidak bermain, namun inilah waktu yang tepat untuk memanfaatkan mereka. Nico Paz, Mario Martin, ada juga Theo Zidane. Raul (pelatih akademi Real Madrid Castilla) melakukan pekerjaan yang luar biasa,” kata pelatih berusia 64 tahun itu.
Terlepas hubungan baiknya dengan Raul, Ancelotti nyatanya tidak mau terburu-buru memberikan banyak menit bermain kepada pemain akademinya. Bahkan, dia dikenal pelit memberikan menit bermain kepada pemain-pemain yang masih belia. Namun, pada pertandingan menghadapi Napoli, semuanya berbeda. Setelah menerima instruksi dari asisten pelatih Davide Ancelotti, Paz masuk di pertengahan babak kedua menggantikan Brahim Diaz dan diplot sebagai penyerang.
Saat itu, skor timnya sama kuat dengan Gli Azzurri (2-2) dan Paz punya kesempatan selama 25 menit beserta perpanjangan waktu untuk menunjukkan kualitasnya di lapangan hijau.
Debut senior Paz bisa dikatakan berjalan dengan buruk. Dia tidak bisa menyesuaikan ritme dengan baik. Dia terlihat bermain terlalu konservatif dan kehilangan penguasaan bola beberapa kali.
Sebelum matchday kelima Liga Champions, Paz hanya bermain 22 menit di tim utama dalam tiga pertandingan terakhir sebagai pengganti. Dua kali di La Liga dan sekali di Liga Champions, ketika debut seniornya menghadapi Braga tiga minggu lalu.
Namun, semuanya berubah dalam sekejap ketika dia menghadapi Napoli. Paz, yang menerima umpan dari Antonio Rudiger di tengah lapangan, berhasil menguasai bola dan berbelok tajam melewati Jens Cajuste dalam lima sentuhan.
Dia terus melaju ke tepi kotak penalti. Di sentuhan ketujuh, dia menendang dengan kaki kiri. Sontekannya tidak bisa dihalau kiper Alex Meret. Dan, gol ketiga pun tercipta saat Real Madrid unggul 3-2. Meski Joselu menambah satu gol, namun gol milik Paz-lah yang menentukan arah pertandingan. Penonton Bernabeu meledak dengan kebahagiaan. Bukan hanya karena tendangan Paz yang indah, melainkan juga keberadaan si pemain yang makin meramaikan sorak-sorak penggemar.
Sudah sejak lama penggemar kampiun 14 kali Liga Champions itu menaruh harapan besar pada pemain muda akademi mereka. Dalam hal ini, Paz sudah diakui sebagai salah satu permata tersembunyi yang dimiliki Real Madrid.
Ketika merayakan golnya, Paz berlari menuju pojok kiri dengan senyum bahagia, dan nampak seperti kehabisan tenaga. Rekan setimnya kemudian mengerumuninya, Rudiger meraih dan menariknya dengan gembira. Bek tengah asal Jerman itu menemaninya dalam perjalanan kembali sebelum kick-off, sembari mendengarkan nama Paz dinyanyikan di tribun.
Pasca pertandingan, Ancelotti menyambut hangat Paz dan kembali memuji playmaker muda tersebut saat konferensi pers. “Nico (Paz) telah menunjukkan, di saat-saat sulit, apa yang diharapkan semua orang. Baginya, ini adalah malam yang spesial. Dia adalah pemain masa depan Real Madrid. Dia memiliki semua kualitas yang harus dimiliki oleh seorang pemain di skuad Real Madrid,” kata pria asal Italia itu.
Paz merupakan pemain kelahiran Spanyol, tepatnya di Tenerife di Kepulauan Canary. Meski demikian, dia lebih memilih untuk bermain bersama Argentina U-20. Darah sepak bolanya mengalir dari sang ayah, Pablo Paz, bek Argentina pada Olimpiade 1996 dan Piala Dunia 1998.
Dia sudah ikut di kompetisi negara U-20 di Amerika Selatan. Paz juga pernah masuk dalam skuad tim senior sementara Argentina beranggotakan 44 orang sebelum Piala Dunia tahun lalu. Kisahnya bersama akademi muda Madrid pertama kali terjadi di musim 2016 pasca hijrah dari Tenerife. Meski saat ini sudah merasakan bermain di level senior, jalan yang ditempuh Paz tidak semudah yang dibayangkan. Dia bahkan sempat diabaikan karena kalah saing dengan pemain akademi lain.
Bakat Paz mulai menarik perhatian ketika musim 2021/2022 bersama tim Juvenil B U-18. Direktur akademi Madrid yang mengetahui kemampuannya menyebut Paz memiliki kualitas dan kekuatan untuk menahan perlakukan fisik yang keras dari saingan-saingannya. Salah satu kelebihan utamanya adalah bisa mengontrol bola di ruang sempit, sesuatu yang dianggap mampu menaikkannya ke tim utama. Pada paruh kedua musim ini, dia tampil menonjol dengan raihan enam gol dan satu asisst dari 10 pertandingan bersama Castilla. Aksinya itu perlahan-lahan membuat Ancelotti kepincut untuk membawanya ke sesi latihan senior.
Sempat dimasukkan ke dalam skuad Copa del Rey pada Januari dan La Liga kontra Real Sociedad Mei lalu, Paz harus menunggu hingga bulan November untuk bisa merasakan debut senior perdananya. Meski baru merasakan empat kali bermain di tim senior setelah tujuh tahun mengabdi di akademi, jalan Paz untuk mendapatkan pengalaman bersama Real Madrid baru saja dimulai. (*)
Editor : izak-Indra Zakaria