LAS VEGAS – Hasil duel perebutan sabuk interim kelas ringan antara veteran Justin Gaethje melawan bintang baru Paddy Pimblett di UFC 324, Minggu (25/1/2026), memicu reaksi keras dari para petarung papan atas. Sang juara kelas welter, Islam Makhachev, turut memberikan komentar pedas nan misterius terkait hasil tersebut.
Makhachev, yang merupakan mantan penguasa kelas ringan sebelum naik divisi, membagikan sebuah pesan singkat di media sosialnya yang diduga kuat menyindir performa atau keputusan UFC memasangkan kedua petarung tersebut.
"Apa yang disajikan di piring itu malah jadi hidangan yang tak bisa dimakan," tulis Makhachev singkat, mengisyaratkan ketidakpuasannya terhadap jalannya pertarungan atau kelayakan Pimblett di laga tersebut.
Laga ini memang sejak awal menuai polemik. Paddy Pimblett, petarung sensasional asal Inggris, dinilai banyak pihak belum layak maju ke duel perebutan gelar secara peringkat. Namanya terpilih melompati Arman Tsarukyan yang secara statistik lebih diunggulkan, sebuah langkah yang dituding banyak orang sebagai murni kepentingan komersial UFC.
Namun, di atas oktagon, pengalaman berbicara lebih keras. Justin Gaethje (37) menunjukkan kelasnya sebagai legenda hidup. The Highlight berhasil memenangi pertarungan melalui keputusan angka mutlak (unanimous decision). Hasil ini membuat Gaethje resmi menyandang status juara interim kelas ringan, sembari menunggu Ilia Topuria menyelesaikan masa cutinya untuk duel penyatuan gelar.
Sentilan dari Dustin Poirier Rival lama Gaethje, Dustin Poirier, juga tak ketinggalan memberikan tanggapan. Lewat unggahan media sosial, Poirier tampak bangga dengan kemenangan sang sesama veteran atas jagoan muda tersebut.
"Selamat datang di liga yang besar, Patrick (Pimblett)," tulis Poirier bernada sarkas. "Skor 1-0 untuk para legenda," tambahnya.
Pimblett Akui Kehebatan Sang Legenda
Meski kalah, Pimblett menunjukkan sportivitas tinggi. Ia mengakui bahwa Gaethje adalah sosok yang ia kagumi sejak kecil dan merupakan "orang yang tepat" untuk memberikannya kekalahan pertama di panggung perebutan gelar.
"Justin adalah sosok legendaris. Jika saya harus kalah, maka orang yang paling pantas mengalahkan saya adalah dia," ujar Pimblett. "Saya tetap ingin pensiun membawa sabuk itu, tapi malam ini menunjukkan betapa kuatnya Justin."
Dengan hasil ini, divisi kelas ringan UFC kembali membara. Pertanyaan besarnya kini: apakah Gaethje mampu menyatukan gelarnya saat menghadapi Ilia Topuria nanti, ataukah kutukan sabuk interim akan kembali berlanjut? (*)
Editor : Indra Zakaria