Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Geser Apple, Huawei Kembali Kuasai Pasar Ponsel Pintar China pada 2025

Redaksi Prokal • 2026-01-16 07:00:00

 

Salah satu ponsel pintar Huawei. (HUAWEI)
Salah satu ponsel pintar Huawei. (HUAWEI)

JAKARTA – Huawei kembali mengukuhkan posisinya sebagai jenama ponsel pintar dominan di pasar China pada tahun 2025. Pencapaian ini menandai kembalinya Huawei ke posisi puncak setelah lima tahun, sejak terakhir kali menduduki takhta tersebut pada tahun 2020 sebelum terhambat oleh berbagai pembatasan perdagangan.

Berdasarkan laporan International Data Corporation (IDC) yang dilansir dari Gizmochina pada Kamis, Huawei tercatat memimpin pasar dengan pangsa sebesar 16,4 persen melalui pengiriman sebanyak 46,7 juta unit. Angka ini membawa Huawei unggul tipis di atas Apple yang menempati posisi kedua dengan pangsa pasar 16,2 persen. Kebangkitan ini menjadi simbol pergeseran signifikan di pasar ponsel pintar terbesar di dunia, terutama setelah Huawei sempat tertekan selama bertahun-tahun akibat sanksi dari Amerika Serikat.

Pulihnya performa penjualan Huawei didorong oleh kembalinya dukungan teknologi 5G serta meningkatnya penggunaan chipset mandiri Kirin. Selain itu, lini ponsel premium mereka, khususnya seri Mate dan Pura, mendapatkan sambutan hangat dari konsumen. IDC mencatat bahwa keberhasilan Huawei memproduksi chip secara mandiri di dalam negeri berperan sangat krusial dalam mendorong volume penjualan secara keseluruhan.

Di sisi lain, Apple tetap menunjukkan persaingan yang sangat ketat melalui permintaan tinggi terhadap seri iPhone 17. Meskipun berada di posisi kedua untuk skala tahunan, Apple sempat memimpin pasar pada kuartal keempat dengan pangsa mencapai 21 persen. Di bawah Huawei dan Apple, posisi lima besar diikuti oleh Vivo di peringkat ketiga, kemudian disusul oleh Xiaomi dan Oppo, sementara Honor dilaporkan keluar dari jajaran elit lima besar tersebut.

Namun demikian, dominasi Huawei ini diraih di tengah kondisi pasar ponsel pintar secara keseluruhan yang masih mengalami penyusutan. Total pengiriman ponsel di China turun 0,6 persen secara tahunan menjadi sekitar 285 juta unit. Kondisi ini diperparah dengan kenaikan harga chip memori dan biaya produksi yang memaksa banyak produsen untuk menaikkan harga jual atau menunda peluncuran produk baru mereka.

Menatap masa depan, para analis memperingatkan bahwa mempertahankan posisi nomor satu akan menjadi tantangan yang lebih berat pada tahun 2026. Hal ini disebabkan oleh siklus penggantian perangkat oleh konsumen yang semakin melambat, biaya operasional yang terus meningkat, serta persaingan antar jenama yang diprediksi akan semakin agresif. (*)

Editor : Indra Zakaria