PROKAL.CO- Di tengah hamparan luas Asia Timur, terselip sebuah keunikan etnis yang jarang diketahui dunia. Kelompok etnis Salar, bagian dari rumpun Turkik Oghuz—saudara sedarah dengan bangsa Turki Anatolia, Azeri, dan Turkmen—menjadi satu-satunya entitas Turkik Oghuz yang bertahan di ujung timur benua. Namun, pada awal abad ke-20, nama Salar tidak dikenal karena keunikannya, melainkan karena kengerian yang dibawa oleh salah satu putra mereka: Ma Zhongying.
Ma Zhongying bukanlah sekadar panglima perang biasa. Di usianya yang baru menginjak 20 tahun, pemuda ini telah menguasai wilayah yang lebih luas dari negara Prancis. Visi yang dibawanya sangat ambisius sekaligus mengerikan; ia bermimpi membangkitkan kembali kejayaan Kekaisaran Timurid dan mengangkat dirinya sebagai Sultan Turan, mengikuti jejak penakluk legendaris, Timur Lenk.
Kekejaman pasukannya, yang terdiri dari orang-orang Salar dan Dungan, menjadi buah bibir yang menyebarkan teror ke seantero wilayah. "Dia membunuh semua orang," begitulah deskripsi singkat namun mengerikan yang tercatat pada tahun 1937 untuk menggambarkan sepak terjangnya. Pasukan pribadinya menaklukkan dan menjarah siapa pun yang mereka temui tanpa pandang bulu.
Saking tak terhentikannya badai perang yang dibawa Ma Zhongying, musuh-musuh bebuyutan seperti penduduk Mongol, Tiongkok, hingga Uighur terpaksa menyingkirkan perbedaan mereka. Mereka bersatu demi satu tujuan: bertahan hidup melawan keganasan Ma. Namun, persatuan itu terbukti sia-sia di hadapan energi tak terbatas sang panglima muda.
Penjelajah legendaris asal Swedia, Sven Hedin, yang menyaksikan langsung dampak kehancuran yang ditinggalkan Ma, memberikan julukan yang abadi dalam catatan sejarah. Ia menyebut Ma sebagai Penunggang Kuda Keempat dari Kitab Wahyu: Sang Maut.
"Ia seperti penunggang kuda pucat yang muncul ketika meterai keempat dibuka: Dan aku melihat, dan tampaklah seekor kuda pucat: dan nama orang yang menungganginya adalah maut, dan neraka mengikutinya," tulis Hedin menggambarkan karisma gelap sang panglima.
Kisah penakluk muda ini berakhir secepat ia muncul. Uni Soviet, yang memandang ambisinya sebagai ancaman besar, akhirnya harus menggunakan taktik tipu muslihat untuk menghentikannya. Ma Zhongying tewas setelah dijebak dalam sebuah upaya negosiasi palsu. Ia mengembuskan napas terakhir di usia yang sangat muda, 26 tahun.
Tidak ada pesan moral yang tertinggal dari lembaran sejarah ini. Yang tersisa hanyalah catatan tentang seorang pemuda dengan energi yang seolah tak ada habisnya, yang dalam waktu singkat hampir mengubah peta politik Asia dengan sebuah visi besar yang dibangun di atas tumpukan puing dan debu peperangan.(*)
Editor : Indra Zakaria