Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Jejak Kōzō Okamoto: Simbol Solidaritas Internasional dan Garis Perjuangan Tentara Merah Jepang untuk Palestina

Redaksi Prokal • Jumat, 27 Maret 2026 - 15:45 WIB

Kōzō Okamoto
Kōzō Okamoto

BEIRUT – Nama Kōzō Okamoto tetap menjadi salah satu figur paling kontroversial sekaligus simbolik dalam sejarah perlawanan lintas negara pada era 1970-an. Sebagai seorang revolusioner asal Jepang yang memilih meninggalkan tanah airnya demi bergabung dengan Tentara Merah Jepang (Japanese Red Army), Okamoto mengabdikan seluruh garis hidupnya untuk berdiri di pihak rakyat Palestina dalam menentang pendudukan Israel.

Puncak dari keterlibatannya dalam perjuangan bersenjata terjadi pada tahun 1972, saat ia berpartisipasi dalam operasi di Bandara Lod, Israel. Operasi yang dilakukan melalui koordinasi erat dengan faksi Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) – Komando Umum tersebut, berujung pada penangkapan dirinya. Akibat aksinya, pengadilan Israel menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup bagi Okamoto, menjadikannya salah satu tahanan asing paling diawasi saat itu.

Namun, dinamika politik Timur Tengah membawa perubahan pada nasibnya di tahun 1985. Melalui skema pertukaran tahanan yang bersejarah, Okamoto akhirnya dibebaskan dari jeruji besi. Ia kemudian memutuskan untuk menetap di Lebanon, sebuah wilayah yang tidak hanya memberikan perlindungan fisik baginya, tetapi juga suaka politik secara resmi. Selama puluhan tahun di bawah perlindungan faksi-faksi Palestina, ia menjalani sisa hidupnya sebagai tokoh yang sangat dihormati oleh masyarakat setempat.

Di masa senjanya, Okamoto sering kali mengenang pilihan hidup yang ia ambil dengan keyakinan teguh. Ia pernah menyatakan bahwa masa mudanya sepenuhnya didedikasikan untuk perjuangan rakyat Palestina, sebuah keputusan yang didasari atas prinsip universal mengenai keadilan. Baginya, selama penindasan masih berlangsung di muka bumi, perlawanan bukanlah sekadar hak yang dimiliki oleh mereka yang tertindas, melainkan sebuah kewajiban moral yang harus dijalankan.

Kini, sosok Kōzō Okamoto berdiri sebagai potret dari fenomena solidaritas internasional yang melampaui batas etnis dan negara. Di Lebanon dan di antara para pejuang Palestina, namanya tidak hanya diingat sebagai seorang mantan gerilyawan, tetapi sebagai manifestasi dari keyakinan bahwa perjuangan melawan ketidakadilan adalah bahasa yang dimengerti oleh seluruh dunia, menghubungkan narasi perlawanan dari Timur Jauh hingga ke tanah Mediterania.(*)

 

Editor : Indra Zakaria