GIZA – Selama ribuan tahun, Sphinx Agung telah berdiri sendirian menjaga piramida-piramida Mesir. Namun, sebuah pengumuman mengejutkan pada 26 Maret 2026 dari peneliti Italia, Filippo Biondi, mengguncang dunia arkeologi. Melalui pemindaian radar satelit terbaru, Biondi mengklaim telah menemukan jejak "saudara kembar" Sphinx yang terkubur di bawah gundukan pasir setinggi 108 kaki.
Penemuan ini bukanlah kebetulan semata. Biondi menggunakan teknologi getaran tanah halus untuk memetakan simetri geometris yang presisi. Dengan menarik garis dari pusat Piramida Khafre dan mencerminkannya melalui Piramida Agung, timnya menemukan titik lokasi yang identik di sisi berlawanan dataran tinggi tersebut.
"Kami menemukan korelasi geometris 100 persen dalam simetri tersebut," ujar Biondi saat berbicara di podcast Matt Beall Limitless. Dengan nada optimis, ia menambahkan, "Tingkat keyakinan kami terhadap penemuan ini berada di angka 80 persen."
Hasil pemindaian awal menunjukkan adanya poros vertikal dan lorong horizontal yang sangat mirip dengan struktur di bawah Sphinx yang asli. Alih-alih ruang kosong, radar menangkap garis-garis padat yang diyakini sebagai dinding terowongan bawah tanah yang masif.
Menariknya, bukti pendukung tidak hanya datang dari teknologi modern, tetapi juga dari masa lalu. Prasasti Mimpi yang didirikan Firaun Thutmose IV sekitar tahun 1401 SM secara spesifik menggambarkan dua sosok Sphinx yang duduk berdampingan. Selama ini, para ahli menganggapnya sebagai simbol keagamaan, namun Biondi memiliki sudut pandang berbeda.
"Penggambaran ganda pada prasasti tersebut mungkin bukan sekadar simbolis, melainkan catatan harfiah dari dua monumen yang memang pernah ada di sana," jelas Biondi.
Teori tentang Sphinx kembar sebenarnya bukan hal baru. Arkeolog Bassam El Shammaa telah menyuarakan hipotesis ini lebih dari satu dekade lalu, merujuk pada teks kuno tentang petir yang menyambar salah satu Sphinx hingga hancur.
Namun, tidak semua pihak sepakat. Mantan Menteri Purbakala Mesir, Zahi Hawass, dikenal sebagai penentang keras teori ini. Ia menegaskan bahwa area Giza telah digali secara ekstensif selama berabad-abad tanpa ditemukan bukti fisik adanya struktur kedua.
Meski demikian, Biondi tetap melangkah maju. Ia bahkan mengisyaratkan adanya "megastruktur bawah tanah" yang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan sebelumnya. "Ada satu lorong besar yang terhalang puing-puing. Jika dibersihkan, ini bisa menjadi akses aman menuju jaringan bawah tanah yang lebih dalam," ungkapnya.
Saat ini, tim Biondi tengah menyusun proposal formal kepada otoritas Mesir untuk melakukan investigasi geologi langsung di lokasi gundukan tersebut. Baginya, teknologi satelit hanyalah langkah awal.
"Kerja lapangan bersama para ahli geologi di lokasi tetap menjadi hal krusial sebelum kesimpulan pasti dapat ditarik," tegas Biondi.
Jika terbukti benar, penemuan ini akan mengubah peta sejarah Mesir Kuno selamanya. Keberadaan sistem bawah tanah yang simetris akan menantang asumsi lama mengenai fungsi kompleks Giza—apakah itu pusat administratif, situs astronomis, atau sesuatu yang jauh lebih sakral yang hingga kini masih terkunci rapat di bawah lapisan pasir padat. (*)
Editor : Indra Zakaria