Masyarakat Berau, tentu tidak asing sudah dengan dunia pertambangan. Namun, tidak sembarang orang bisa bebas masuk ke area objek vital tersebut. Kemarin (20/7), Berau Post berkesempatan masuk ke area tersebut, tepatnya di PT Supra Bara Energi, untuk melihat lebih dalam tentang dunia pertambangan.
PERJALANAN dari Tanjung Redeb menuju ke Site PT Supra Bara Energi (SBE), membutuhkan waktu 45 menit menggunakan mobil. Setiba di pintu masuk site, terdapat pos pemeriksaan, dimana setiap tamu yang hendak masuk harus mendaftar diri lebih dulu untuk bisa mendapatkan kartu akses masuk.
Selesai melewati pos penjagaan, masuk kurang lebih 200 meter, di kiri kanan langsung terlihat aktivitas penambangan batu bara. Menurut Manager External Affairs, PT Supra Bara Energi (SBE) Kasan Mulyono, area tersebut merupakan Pit 1.
Pemeriksaan dilakukan cukup ketat, melewati GAR 55 sampai di office PT SBE, setiap pengunjung kembali dilakukan pemeriksaan. Di office tersebut, seluruh tamu yang datang diwajibkan untuk menggunakan alat pelindung diri, mulai dari sepatu safety, helm, hingga rompi, sebelum masuk lebih jauh. Juga diberikan pemahaman tentang dunia pertambangan, mulai dari apa yang harus dihindari, tanda-tanda peringatan, dan lainnya. “Ini prosedur keselamatan yang harus dilalui,” ujar Kasan.
Untuk diketahui, beber Kasan, PT SBE tergabung dalam Mitra Jaya Group, berawal pada tahun 1981 dengan berdirinya PT. Sumber Mitra Jaya. Saat Dato Drs. K. Gowindasamy memulai perusahaan ini, SMJ pemula menghadapi banyak tantangan untuk membangun dirinya di pasar karena sumber daya yang terbatas. Bahkan, kontrak pertamanya yakni proyek TPA di Jakarta, berhasil diselesaikan menggunakan truk pinjaman. Namun, kesuksesan proyek pertama itu dengan cepat menghasilkan serangkaian kontrak yang lebih besar dan sukses.
SMJ kemudian menyelesaikan berbagai proyek di Jakarta dan selanjutnya di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Setelah itu, mulai melebarkan sayapnya ke wilayah lain di Indonesia. Pada tahun 1987, SMJ kemudian ditunjuk sebagai mitra terpercaya Departemen Pekerjaan Umum DKI Jakarta dan Ditjen Bina Marga. Selain proyek, SMJ melebarkan sayapnya ke dunia pertambangan.
Dari benih usaha tunggal SMJ, Mitra Jaya Group lahir. Grup Mitra Jaya kini telah tumbuh menjadi perusahaan besar yang bergerak di beberapa sektor. Setelah membangun reputasi yang kokoh sebagai mitra terpercaya dalam pembangunan infrastruktur, industri pertambangan, manufaktur, pertanian di Indonesia, Mitra Jaya Group kini juga memasuki dua bidang industri baru, yakni farmasi dan properti, mengantarkan era baru pertumbuhan dan perkembangan.
Memiliki portofolio di beberapa negara dan wilayah di seluruh Asia Pasifik, Mitra Jaya Group terus berkembang, memberikan nilai yang berkelanjutan kepada para pemangku kepentingan.
Adapun Supra Bara Energi (SBE), telah beroperasi selama 11 tahun atau sejak 2009 lalu di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dengan banyak mitra terpercaya. SBE secara profesional berafi liasi dengan APBI ICMA (Asosiasi Pertambangan Batu bara Indonesia). Berlokasi di Sambaliung, kini PT SBE telah memiliki total area konsesi seluas 2.543 hektare, dengan nilai kalori 5.500 GAR Operasi.
“Penambangan SBE dilakukan dengan kerja sama beberapa perusahaan lain. PT Sumber Mitra Jaya sebagai kontraktor utama, sedangkan PT Sucofindo melakukan Quality Control Pit-to-Port,” bebernya.
Dengan jarak efektif dari jalan angkut ke dermaga, SBE memiliki kapasitas logistik yang lebih baik dan operasi penambangan yang optimal, sehingga menghasilkan nilai produksi yang kompetitif dan peningkatan efisiensi. Operasi SBE sendiri disebutnya meliputi pengangkutan batu bara dari lubang tambang ke lokasi dermaga, penyimpanan batu bara dan melakukan kontrol kualitas, serta tongkang dan pengiriman batu bara ke Muara Pantai, Tarakan dan Samarinda.
Bagi SBE, praktik berkelanjutan merupakan inti dari operasinya. Dengan mengatasi dampak dan manfaat pertambangan terhadap lingkungan, ekonomi, kesehatan dan sosial, SBE berkomitmen untuk beroperasi dengan tanggung jawab lingkungan dan sosial. Selain itu, SBE berupaya menegakkan standar kesehatan dan keselamatan kelas dunia di lokasi untuk melindungi semua karyawan.
“Pendiri kami, Bapak Gowindasamy, yang hingga saat ini masih aktif menjalankan bisnis untuk Mitra Jaya Group, juga berfokus pada kegiatan filantropi di berbagai negara,” sebutnya.
Ditambahkannya juga, di Indonesia, Gowindasamy telah mendirikan yayasan amal yakni Yayasan Saroja Ammal Sejahtera, untuk menyumbang ke berbagai tujuan. Salah satunya adalah mendukung pendidikan gratis di Medan bagi masyarakat kurang mampu, serta memberikan donasi yang cukup besar untuk beberapa kegiatan keagamaan, juga berkontribusi dalam renovasi candi-candi di Malaysia dan India.
“Kami di Berau juga tidak tutup mata pastinya. Apa yang dilakukan pendiri kami, itu juga kami lakukan di Bumi Batiwakkal, melalui dana CSR,” tambahnya.
Setelah melakukan perjalanan beberapa jam, perjalanan pun berakhir di dermaga jety. Tempat dimulainya perjalanan batu bara hendak diekspor ke berbagai negara seperti India, Filipina, dan beberapa negara pasar Asia lainnya.
“Di sinilah proses berakhir, sebelum perjalanan jauh menuju berbagai negara di Asia,” tutupnya. (hmd/adv/sam)
Editor : uki-Berau Post