Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Cadev bulan Mei Meningkat, Rupiah Diproyeksi Rp 13.800 – 14.100 per USD

izak-Indra Zakaria • Rabu, 10 Juni 2020 - 17:24 WIB
Photo
Photo

JAKARTA– Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa (cadev) hingga akhir Mei sebesar USD 130,5 milar. Jumlah tersebut meningkat USD 2,6 miliar dibanding akhir bulan sebelumnya. Dengan demikian, cadev tahun 2020 tumbuh 1,01 persen secara year to date.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko menuturkan, jumlah cadev saat ini setara dengan pembiayaan 8,3 bulan impor atau 8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri (ULN) pemerintah. Selain itu, juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

”BI menilai cadev  tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” paparnya.

Menurut Onny, meningkatnya cadev dipengaruhi oleh penarikan ULN pemerintah dan penempatan valuta asing (valas) perbankan di BI. Dia memastikan, ke depan, kondisi cadev tetap memadai. Mengingat, kondisi saat ini didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang baik.

Gubernur BI Perry Warjiyo memastikan mekanisme pasar terjaga. Likuiditas di pasar uang dan pasar valas terjaga. Juga terus melakukan triple intervention untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Baik di mekanisme pasar spot, Domestic Non-deliverable Forward (DNDF), maupun pembelian SBN (Surat Berharga Negara) dari pasar sekunder.

“Yang kami pastikan adalah bagaimana penentuan nilai tukar di pasar. Baik melalui broker maupun antar bank itu konvergen. Kami pastikan dari pagi sampai sore Bank Indonesia selalu ada di pasar,” beber pria asal Sukoharjo itu.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menuturkan, kenaikan cadev ditopang oleh capital inflow ke pasar obligasi dan saham senilai USD 1,16 miliar. ”Dimana, USD 611 juta di pasar obligasi dan USD 552 juta ke pasar saham,” terang Josua kepada Jawa Pos. Masuknya dana investor asing tersebut turut menguatkan pergerakan rupiah sejak awal Mei.

Selain itu, penguatan rupiah didorong hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas yang berhasil dimenangkan sebesar USD 536 juta. Di sisi lain, juga didorong penarikan ULN serta penempatan valas oleh perbankan. Meningkatnya cadev juga mengisyaratkan bahwa kondisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II 2020 akan membaik dibanding kuartal sebelumnya.

Meski begitu, kata Josua, tren penguatan rupiah saat ini tanpa disertai intervensi yang signifikan dari BI. Hal tersebut menunjukkan bahwa kondisi neraca finansial tanah air perlahan sudah kembali pulih sejak Mei. Mengingat, pada Februari dan Maret terjadi aliran dana asing keluar yang cukup signifikan. ”Melihat peningkatan cadev yang disertai stabilnya kondisi pasar financial, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp 13.800 – 14.100 per USD di jangka menengah,” jelasnya. (han) 

Editor : izak-Indra Zakaria
#ekonomi nasional