Pemerintah akhirnya membuka pintu penerbangan internasional dari Balikpapan menuju Arab Saudi. Hal itu kemudian disambut maskapai, travel, hingga otoritas bandara.
PERGI ke Tanah Suci adalah mimpi lama Fatimah, sejak puluhan tahun lalu. Hingga akhirnya kini doa tersebut diijabah. Nenek 75 tahun itu tak bisa menyembunyikan kebahagiaan. Sorot matanya lembut. Senyuman terus mengembang sembari terus mengucap talbiyah. Ia pun mengucap syukur bisa berangkat melaksanakan ibadah umrah.
“Alhamdulillah bisa berangkat umrah berkat anak-anak saya. Mereka menabung biar saya bisa melihat Makkah. Pengin dari dulu berangkat. Tapi dulu kan mesti fokus ke keluarga dan belum punya biayanya,” ucap warga yang menetap di kawasan Sepinggan, Balikpapan itu kepada awak media di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Sabtu (28/1).
Tidak banyak hal dia ucapkan. Tetapi di usianya yang kian senja, ia mengaku tetap semangat ingin menuntaskan seluruh rangkaian ibadah. Berharap kelak anak cucunya bisa berangkat umrah. Fatimah merupakan salah satu dari 212 jamaah umrah rombongan Samira Travel.
Usai melepas rombongan umrah, Direktur Utama Samira Travel Fauzi Wahyu Guntoro menuturkan, jauh sebelum pandemi, sempat ada layanan penerbangan langsung dari Balikpapan menuju Madinah, Arab Saudi. Namun sempat terhenti setelah Covid-19 mewabah dunia. Penerbangan tanpa transit itu adalah yang perdana setelah pandemi.
“Sudah lama ditunggu-tunggu, agar penerbangan direct cepat dibuka kembali. Namun sempat terkendala entry point yang belum dibuka akibat pandemi. Sekarang alhamdulillah, kasus Covid-19 mereda dan pelonggaran. Bandara Sepinggan sudah kembali menjadi entry point,” terang Fauzi.
Pihaknya sudah bekerja sama dengan Lion Air sejak 2018. Dengan penerbangan langsung itu diharapkan biayanya bisa lebih murah. Sehingga jamaah tidak perlu bolak-balik transit karena akan menghabiskan waktu lebih panjang.
Minat terhadap ibadah umrah menurut Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Balikpapan Johan Marpaung semakin meningkat, terutama bagi warga Kaltim, utamanya Balikpapan banyak yang kerap bepergian. Kendati harga biaya umrah mengalami kenaikan, itu tidak menghalangi niat masyarakat.
Lewat layanan direct atau penerbangan langsung ke Tanah Suci, ia berharap jamaah mendapatkan kemudahan untuk melakukan ibadah umrah. Sehingga bisa lebih mendorong lagi minat masyarakat untuk melaksanakan umrah.
Johan berpesan kepada jamaah maupun petugas yang mendampingi selalu menjaga kesehatan. Serta mengingatkan agar tetap mematuhi segala peraturan dan menjaga nama baik Indonesia, terutama Balikpapan.
“Penerbangan secara langsung atau direct yang membawa jamaah umrah Samira Travel ini menggunakan Lion Air. Merupakan pertama kalinya dilakukan pihak maskapai di Balikpapan. Semoga bisa membuat masyarakat lain tergugah pula dan tahu bahwa kita juga bisa berangkat umrah tanpa harus transit lagi,” pungkasnya.
MEMENUHI SYARAT
Secara perdana, mulai 28 Januari 2023 dari Bandara Internasional SAMS Sepinggan Balikpapan, Lion Air melayani penerbangan umrah program sembilan hari tujuan Bandara Internasional King Mohammad bin Abdul Aziz di Madinah dan Bandara Internasional King Abdul Aziz di Jeddah.
Penerbangan tujuan Jeddah dan Madinah itu terlaksana setelah Lion Air memenuhi semua kualifikasi dan persyaratan dari Kementerian Perhubungan dan otoritas penerbangan sipil Arab Saudi atau General Authority of Civil Aviation (GACA). Termasuk audit keselamatan serta keamanan dari Federal Aviation Administration (Otoritas Penerbangan Federal Amerika Serikat) dan European Aviation Safety Agency (EASA) sebagai Badan Keselamatan Penerbangan Eropa.
Corporate Communications Strategic of Lion Air Danang Mandala Prihantoro mengatakan, upaya itu untuk mendukung ekosistem penyelenggaraan umrah dari Pulau Kalimantan terutama dari wilayah Kaltim, Kaltara, dan Kalteng dalam menyediakan kemudahan perjalanan udara bagi masyarakat yang berasal dari daerah tersebut.
“Penerbangan langsung umrah dari Balikpapan menjadi embarkasi ke-10 setelah Jakarta, Surabaya, Makassar, Deli Serdang, Majalengka, Padang, Aceh Besar, Batam, dan Pekanbaru,” paparnya.
Danang mengungkapkan, Lion Air mengoperasikan rata-rata pesawat berusia muda. Pesawat yang dimaksud memiliki tingkat keamanan dan keselamatan tinggi. Seluruh pesawat telah menjalani perawatan intensif, dalam kondisi terbaik dan layak terbang (airworthy for flight). Pada penerbangan langsung, Lion Air mengoperasikan armada generasi modern, yaitu Boeing 737 yang berkapasitas 215 kursi kelas ekonomi dengan tata letak 3-3 lorong tunggal (single aisle).
Sehingga tiap jamaah umrah bisa merasakan terbang nyaman karena setiap kursi berlapis kulit. Sangat ergonomis dan dilengkapi sandaran kepala (head rest), jarak antarkursi (seat pitch) tergolong lega.
Ruang penyimpanan barang di dalam kabin/atas kursi (overhead) atau kompartemen memiliki ukuran lebih besar. Keuntungannya, bisa mengakomodasi barang bawaan sesuai ketentuan yang boleh dibawa dan memudahkan penyusunan.
“Selama penerbangan Balikpapan-Madinah dan Jeddah-Madinah itu jamaah umrah juga diberikan dua kali layanan makanan dan minuman (inflight meals), serta prioritas awak kabin pramugari dan pramugara dari daerah asal agar mempermudah proses komunikasi,” urainya.
Layanan umrah, kata Danang, pihaknya mengupayakan tingkat kinerja ketepatan waktu (on time performance/OTP) lebih dari 93 persen. Keseriusan itu seiring bentuk memberikan layanan terbaik kepada jamaah umrah. Penerbangan umrah juga dilaksanakan mengikuti permintaan pasar yang dikembangkan secara bertahap.
“Itu sebagai bagian kesungguhan Lion Air menghidupkan kembali sektor umrah dan mempermudah lebih banyak jamaah menuju Arab Saudi dari Indonesia. Terlebih, tingkat peminat umrah dari masyarakat Indonesia menunjukkan peningkatan positif. Sehingga mendatang pasar wisata religi dan ibadah optimistis terus tumbuh,” bebernya.
Berdasarkan data, pada periode 30 Juli hingga 4 Oktober 2022, tercatat 1.267.490 jamaah dari berbagai negara melakukan ibadah umrah. Dengan perincian, jamaah asal Indonesia sebanyak 317.200 orang, Pakistan 195.224 orang, India 133.517 orang, dan Irak 86.803 orang.
Maka, dia mengimbau setiap jamaah agar mempersiapkan dokumen perjalanan mengikuti persyaratan. Memahami ketentuan membawa barang bawaan dan bagasi sesuai ketentuan. Dalam kaitan perjalanan udara sesuai aspek keselamatan, Lion Air mewajibkan kepada seluruh jamaah tidak membawa barang berbahaya (dangerous goods) ke pesawat.
Kemudian, tidak menerima titipan barang dalam bentuk apapun dari orang lain ke dalam pesawat. Barang elektronik harus dilepas dari baterainya. Lalu penggunaan pengisi daya mandiri atau baterai portabel (power bank) harus sesuai kriteria dari segi kapasitas yang boleh dibawa ke dalam kabin. Juga tidak diperbolehkan untuk digunakan selama penerbangan.
“Jamaah mesti memastikan kesehatan pribadi, perlengkapan, dan peralatan kesehatan sesuai anjuran tim medis harap dibawa. Penggunaan barang elektronik seperti telepon genggam (handphone), power bank, dan laptop, mengikuti peraturan penerbangan,” ujarnya.
Danang menyampaikan terima kasih atas koordinasi dan dukungan dari seluruh pihak dari regulator, pengelola bandara, pengatur lalu lintas udara, mitra perjalanan udara yakni tour and travel umrah, pihak terkait otoritas bandara, kantor kesehatan pelabuhan, imigrasi, BMKG serta lembaga berwenang yang lain, hingga kru pesawat maupun seluruh karyawan.
Dia menjelaskan, Lion Air mengapresiasi bentuk kerja sama. Sehingga memberikan nilai lebih kepada jamaah umrah dalam mempermudah perjalanan udara dari dan menuju Arab Saudi.
“Lion Air terus berupaya meningkatkan kualitas penyelenggaraan ibadah umrah. Dan seluruh pelaksanaan penerbangan sesuai standar operasional prosedur. Lion Air pun terus menjalankan ketentuan operasional menurut masing-masing negara dan aturan internasional,” tutupnya. (rom/k8)
ULIL
yin.khazan@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria