Belum genap beroperasi empat tahun, Pondok Pesantren Al-Abqory di Tenggarong Seberang ini sudah kembangkan berbagai usaha. Fokusnya untuk kemandirian pesantren juga agar dapat memberdayakan masyarakat sekitar.
RADEN RORO MIRA, Kutai Kartanegara
MENDAPAT izin operasional pada 2021, setahun setelahnya pesantren mendapat bantuan. Inkubasi bisnis Rp 75 juta dijadikan modal untuk usaha alat tulis kantor (ATK) dan fotokopi. Bukan tanpa alasan, lokasi strategis dan minimnya pesaing jadi peluang.
“Lingkungan pondok ini dekat dengan rumah sakit, ada kantor desa juga, ada sekolah dasar, jalan di sini juga dilalui lima desa. Selain itu, usaha fotokopi di daerah sini hanya ada satu. Jadi relatif potensial untuk membangun kemandirian lewat usaha tersebut,” ujar Pimpinan Ponpes Muhibin Ali.
Manajemen yang sudah sejak awal dibentuk, membuat usaha berjalan lancar. Beberapa bulan setelahnya, lahir unit bisnis lain yakni depo air isi ulang. Menyusul usaha lain yakni kantin santri, toko sembako hingga merambah ke perikanan.
“Alhamdulillah sejak awal kami menggunakan konsep manajemen ekonomi ketuhanan. Artinya ya mengalir saja, ibaratnya kalau berbisnis dengan Allah itu tidak akan rugi,” lanjut pria yang karib disapa Muhib itu.
Posisi pesantren yang dekat dengan Sungai Mahakam jadi alasan kenapa akhirnya mengembangkan usaha perikanan. Peluang dan potensi yang sayang dilewatkan. Seluruh unit bisnis berada di bawah naungan CV Putra Abqory.
“Alhamdulillah untuk ikan sudah panen, kita ada ikan nila. Dijual parsial dan sudah ada yang beli misal 30–50 kilogram. Setiap unit usaha sudah ada karyawan yang benar-benar serius mengelola,” ujarnya.
Seluruh unit usaha tersebut dikelola oleh masyarakat sekitar. Pemberdayaan yang lebih dikedepankan. Utamanya untuk masyarakat kurang mampu. Muhib berharap, kehadiran Ponpes Al-Abqory dapat menjadi solusi dari masalah yang ada di masyarakat.
“Misal masyarakat tidak bisa baca tulis Al-Qur’an, ponpes jawabannya. Masyarakat tidak bisa membiayai pendidikan anak, ponpes solusinya. Ketika masyarakat kekurangan beras atau sembako, niatnya kami yang menjadi solusi. Jadi benar-benar bisa memberi manfaat ke sekitar,” paparnya.
Dijelaskan jika harapan itu sudah perlahan terwujud. Laba atau keuntungan usaha disisihkan untuk kebermanfaatan. Setiap minggu, rutin donatur mengirimkan sayuran segar dengan kapasitas banyak. Tidak hanya untuk kebutuhan pondok, namun juga berbagi untuk masyarakat sekitar.
Bahkan untuk depo air isi ulang, menerapkan sistem ambil sepuasnya dan bayar seikhlasnya. Muhib menyebut jika lebih dari 50 persen santri berasal dari keluarga pra-sejahtera, sebagian besar tidak ada pungutan biaya selama mondok alias gratis. Namun sejauh ini, operasional pesantren tetap terpenuhi.
“Logikanya kebutuhan beras itu sekitar 1 ton sebulan, dirupiahkan bisa Rp 50–60 juta. Kalau bicara bisnis secara konvensional enggak akan nyambung. Faktanya kebutuhan santri terpenuhi, usaha juga alhamdulillah lancar. Seperti yang saya singgung sebelumnya, konsepnya adalah manajemen ekonomi ketuhanan itu,” bebernya.
Selagi tetap bermanfaat serta tidak mendatangkan mudarat, berbagai peluang usaha dikembangkan. Apalagi dijelaskan, biaya honor pembimbing atau guru juga tak sedikit nilainya.
“Peluang usaha lain, ada hamba Allah yang memberi kita tanah 2 hektare. Rencana mau buka usaha perkebunan buah. Jadi benar-benar fokus di kemandirian juga menjadikan pesantren solusi terhadap masalah yang dihadapi masyarakat,” sebut Muhib.
Pihaknya juga mendorong kemandirian santri lewat berbagai program ekstrakurikuler terkait kewirausahaan. Sehingga ketika lulus, santri tak hanya memiliki bekal ilmu agama, namun juga keterampilan. “Memproses dan melihat lalu mengarahkan. Anak-anak ini potensinya di mana,” pungkasnya. (ndu/k8/bersambung)
Editor : Indra Zakaria