Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Produksi Petani Lokal Samarinda Belum Maksimal, Keterbatasan Lahan dan Cuaca Tak Menentu

Redaksi Sapos • Rabu, 9 Oktober 2024 - 17:00 WIB
Petani memanen padi di areal sawah Desa Pabean Udik, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (29/8/2024). ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/tom/pri.
Petani memanen padi di areal sawah Desa Pabean Udik, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (29/8/2024). ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/tom/pri.

Ketergantungan Kota Samarinda terhadap pasokan pangan dari luar daerah, terutama dari Pulau Sulawesi dan Jawa, masih sangat tinggi. Meski petani lokal di Samarinda terus berupaya memproduksi pangan, upaya tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Ketapang Tani) Kota Samarinda, Muhammad Darham, menjelaskan bahwa lahan pertanian aktif di Samarinda masih terkonsentrasi di dua kecamatan, yakni Samarinda Utara dan Sambutan. Di kedua wilayah tersebut, setidaknya terdapat sekitar 200 kelompok tani yang secara aktif dibina oleh dinas terkait.“Luas lahan di Sambutan awalnya hanya 130 hektare, namun kini telah bertambah menjadi 180 hektare. Sementara di Samarinda Utara, kami masih memiliki 120 hektare lahan pertanian,” ujar Darham.

Meskipun begitu, Darham menegaskan bahwa luas lahan yang ada saat ini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Kota Samarinda yang terus meningkat. Terlebih, ancaman perubahan iklim yang tidak menentu, seperti kemarau panjang dan banjir, semakin memperburuk situasi. Tahun lalu, para petani di kota ini harus menghadapi dampak kekeringan yang cukup parah, menyebabkan gagal panen di area seluas 300 hektare sawah.“Setiap tahun, kita selalu menghadapi risiko perubahan cuaca yang bisa mengancam hasil panen. Tahun lalu, kita mengalami kekeringan yang cukup parah sehingga banyak sawah yang gagal panen. Selain itu, banjir juga menjadi ancaman besar bagi petani kita,” jelasnya.

Darham menambahkan, meskipun pemerintah, baik di tingkat kota maupun pusat, telah berupaya memberikan bantuan, termasuk penyediaan bibit, pupuk, serta alat-alat pertanian, tantangan cuaca tetap sulit diantisipasi. Pemerintah, melalui Dinas Ketapang Tani, juga rutin memberikan pendampingan dan pelatihan kepada kelompok tani agar mereka dapat memaksimalkan hasil pertanian.Darham mengakui bahwa masalah utama yang dihadapi oleh para petani lokal bukan hanya cuaca, tetapi juga keterbatasan lahan pertanian.

“Hampir 80 persen kebutuhan pangan kita masih dipasok dari luar daerah. Ini karena lahan yang tersedia di Samarinda tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam kota,” ungkapnya.

Menurutnya, peningkatan produksi pangan lokal sebenarnya sangat memungkinkan jika lahan yang tersedia lebih luas dan terjaga dari ancaman konversi menjadi lahan non-pertanian. Selain itu, upaya untuk mengatasi masalah irigasi serta optimalisasi penggunaan teknologi pertanian juga diperlukan agar hasil panen lebih maksimal.

“Produksi pangan dari petani lokal kita sebenarnya tidak kalah kualitasnya dibandingkan pasokan dari luar. Kendala utama yang kita hadapi adalah keterbatasan lahan dan ancaman cuaca. Jika lahan yang ada bisa diperluas, kita yakin ketergantungan pada pasokan pangan luar dapat dikurangi secara bertahap,” tambahnya.


Dia pun berharap ke depannya, pemerintah kota dapat lebih intensif dalam mendorong program perluasan lahan pertanian, terutama di daerah-daerah yang potensial untuk dikembangkan. Selain itu, dukungan dalam bentuk infrastruktur pertanian yang lebih baik, seperti irigasi dan akses jalan menuju lahan, juga sangat diperlukan agar para petani bisa bekerja lebih efektif.

Pemkot Samarinda, menurut Darham, juga terus berupaya memperkuat sektor pertanian dengan memberikan bantuan yang lebih optimal, termasuk dalam hal penyediaan bibit unggul dan pupuk berkualitas. Tidak hanya itu, pengembangan teknologi pertanian modern juga menjadi salah satu fokus pemerintah untuk meningkatkan produktivitas petani lokal. Alat-alat pertanian seperti traktor, pompa air, dan mesin pengolah hasil pertanian sudah mulai didistribusikan kepada kelompok tani yang membutuhkan.
“Kami berharap ke depan petani lokal bisa lebih mandiri dalam memproduksi pangan, terutama jika bantuan dari pemerintah terus berkelanjutan. Tantangan cuaca memang sulit diprediksi, tetapi dengan perencanaan yang matang dan dukungan teknologi, kami optimis ketergantungan pada pangan dari luar daerah bisa dikurangi,” pungkas Darham. (hun/beb)

 

 
 
Editor : Indra Zakaria