Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Harga Jual Turun Biaya Produksi Naik, Daya Beli Petani Kaltara Tertekan di Awal 2026

Redaksi Prokal • 2026-02-08 12:30:00
PERTANIAN: Penurunan NTP dipengaruhi melemahnya kinerja sebagian besar subsektor pertanian, khususnya tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan rakyat. (FAISAL/HRK)
PERTANIAN: Penurunan NTP dipengaruhi melemahnya kinerja sebagian besar subsektor pertanian, khususnya tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan rakyat. (FAISAL/HRK)

 

TANJUNG SELOR – Kabar kurang sedap datang dari sektor agraris di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara melaporkan bahwa daya beli petani di wilayah ini mengalami tekanan pada pembukaan tahun 2026. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Januari 2026 tercatat turun 0,34 persen dibandingkan bulan sebelumnya, yakni merosot dari angka 117,08 menjadi 116,68.

Kepala BPS Kaltara, Mustaqim, menjelaskan bahwa penurunan ini merupakan cerminan dari kondisi pasar yang tidak menguntungkan bagi para pahlawan pangan. Harga yang diterima petani atas hasil produksinya cenderung menurun, sementara di saat yang bersamaan, biaya yang harus mereka keluarkan untuk kebutuhan rumah tangga maupun modal produksi justru merangkak naik.

Berdasarkan data BPS, subsektor tanaman perkebunan rakyat menjadi yang paling terdampak dengan penurunan paling tajam mencapai 1,32 persen. Menyusul di belakangnya, subsektor hortikultura turun 0,34 persen dan tanaman pangan menyusut 0,05 persen. Pelemahan harga komoditas perkebunan di tingkat petani ditengarai menjadi pemicu utama merosotnya angka tersebut.

Meski demikian, tidak semua petani di Kaltara bernasib serupa. Para peternak justru sedikit bernapas lega karena subsektor peternakan mencatat kenaikan NTP sebesar 0,22 persen, yang didorong oleh menguatnya harga unggas dan hasil ternak di pasar. Begitu pula dengan sektor perikanan tangkap yang masih mampu tumbuh tipis sebesar 0,07 persen.

Meningkatnya beban yang dibayar petani dipicu oleh kenaikan harga barang modal dan pengeluaran rumah tangga yang terjadi hampir di seluruh subsektor. Hal ini memaksa petani merogoh kocek lebih dalam untuk bisa terus berproduksi di tengah harga jual yang belum stabil.

Walaupun posisi NTP Kaltara saat ini secara umum masih berada di atas angka 100—yang berarti petani secara teknis masih mengalami surplus—tren penurunan ini menjadi sinyal peringatan bagi pemerintah daerah. Stabilitas harga hasil produksi dan pengendalian biaya produksi menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi agar kesejahteraan petani di Bumi Benuanta tidak terus tergerus.(*)

Editor : Indra Zakaria