Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Daftar Valuasi Klub Elite Super League 2026: Persib Bandung Memimpin Takhta Termahal Sementara Persebaya Surabaya Berada di Posisi Paling Buncit

Redaksi Prokal • 2026-02-06 06:45:00
Persebaya Surabaya masuk 10 tim termahal di putaran kedua Super League 2025/2026. (Persebaya)
Persebaya Surabaya masuk 10 tim termahal di putaran kedua Super League 2025/2026. (Persebaya)

PROKAL.CO- Dinamika sepak bola Indonesia kembali memanas menjelang penutupan bursa transfer tengah musim Super League 2025/2026. Di tengah agresivitas klub-klub besar dalam merombak skuad, Persebaya Surabaya mencuri perhatian dengan fakta yang cukup mengejutkan. Berdasarkan data terbaru hingga 5 Februari 2026, klub berjuluk Green Force ini tercatat sebagai tim dengan nilai pasar terendah di jajaran sepuluh besar klub elite Indonesia. Dengan total nilai pasar sebesar Rp 76,48 miliar dari 27 pemain, Persebaya berada di posisi paling buncit dalam daftar tim dengan valuasi tertinggi.

Kesenjangan nilai pasar ini terlihat mencolok jika dibandingkan dengan sang pemuncak klasemen sekaligus pemegang nilai pasar tertinggi, Persib Bandung. Maung Bandung memimpin daftar dengan total valuasi mencapai Rp 138,36 miliar, disusul oleh Persija Jakarta di posisi kedua dengan nilai Rp 118,63 miliar. Persija sendiri tampil sangat aktif dengan mendatangkan pemain Timnas Indonesia, Mauro Zijlstra, sementara Persib membuat gebrakan besar dengan memboyong mantan pemain PSG, Layvin Kurzawa. Bahkan, bursa transfer kali ini berpotensi memecahkan rekor tertinggi melalui isu perpindahan Mariano Peralta dari Borneo FC menuju Bandung.

Situasi ini menjadi tantangan besar bagi manajemen Persebaya Surabaya mengingat jendela transfer akan resmi ditutup pada 6 Februari 2026 pukul 23.59 WIB. Waktu yang tersisa tinggal hitungan jam bagi klub untuk merampungkan seluruh proses administrasi dan pendaftaran pemain ke dalam sistem FIFA Transfer Matching System (TMS). Di saat tim lain seperti Bhayangkara FC jor-joran dengan mengoleksi hingga 12 pemain asing, atau PSM Makassar yang mengandalkan kedalaman skuad muda, Persebaya justru tampil lebih ramping secara finansial di putaran kedua ini.

Meskipun menyandang label sebagai tim "paling murah" di jajaran elite, sejarah sepak bola sering membuktikan bahwa nilai pasar bukanlah satu-satunya variabel penentu prestasi di atas lapangan. Strategi pelatih dalam meramu komposisi pemain lokal dan asing seringkali menjadi kunci yang lebih efektif dibandingkan sekadar deretan pemain mahal. Namun, tekanan waktu menjelang penutupan bursa transfer tetap memberikan tanda tanya besar bagi para pendukung Green Force, apakah tim kebanggaan mereka akan memberikan kejutan di detik-detik terakhir atau tetap bertahan dengan skuad yang ada. (*)

Editor : Indra Zakaria