Meski Serie A masih tersisa dua giornata lagi, secara de facto musim Juventus telah usai.
BOLOGNA - Juventus telah memastikan finis lima besar yang artinya otomatis lolos ke Liga Champions musim depan. Selain itu, Juve baru saja memenangi Coppa Italia (16/5). Tetapi, masih ada satu tugas besar untuk Juve. Bianconeri, sebutan Juve, butuh menyiapkan allenatore baru setelah memecat Massimiliano Allegri usai memenangi Coppa Italia.
Petinggi Juve seperti Presiden Gianluca Ferrero, CEO Maurizio Scanavino, dan Direktur Olahraga Cristiano Giuntoli telah menentukan pilihan kepada allenatore Bologna FC Thiago Motta. Sebelum final Coppa Italia, Juve disebut telah menyodori draf kontrak berdurasi tiga musim untuk Motta.
Masalahnya, Motta belum mengiyakan. Padahal, tugasnya bersama Rossoblu, sebutan Bologna FC, boleh dibilang selesai dengan berhasil lolos ke Liga Champions musim depan. ”Dalam beberapa hari ke depan aku akan bertemu dengan manajemen. Kami akan membahas semuanya secara terperinci. Tentu saja aku masih sangat menghormati klub ini (kontraknya di Rossoblu masih berlaku hingga tahun depan, Red),” papar Motta seperti dilansir La Gazzetta dello Sport.
Giornata ke-37 bakal krusial bagi Motta dalam menentukan sikap. Sebab, Rossoblu menjamu Juve dini hari nanti (siaran langsung beIN Sports 1/Vidio pukul 02.45 Wita). Laga di Stadio Renato Dall’Ara itu bukan hanya pertandingan kandang terakhir Rossoblu musim ini, melainkan juga bisa jadi arena perpisahan Motta dengan pendukung Rossoblu.
Laga dini hari nanti sekaligus kesempatan bagi Motta mengenal karakter Juve dari dekat. Selain itu, bisa membuat petinggi Juve tidak salah memilihnya jika sukses mengalahkan Bianconeri. Apalagi Bologna disebut mulai berburu allenatore baru. Media-media Italia menyebut bahwa Maurizio Sarri yang mundur dari SS Lazio per 12 Maret lalu merupakan kandidat kuat kalau Motta pergi.
Sementara itu, Juve sudah menunjuk pelatih Juve U-19 (Juve Primavera) Paolo Montero sebagai karteker untuk dua laga terakhir di Serie A musim ini. Ada keraguan karena pelatih 52 tahun itu mencatat statistik kurang apik bersama Juve Primavera dengan hanya mencatatkan 30 kemenangan dari 78 laga. Jika dirata-rata, Montero hanya meraih 38,4 persen kemenangan. Tetapi, selalu ada antitesis ketika melatih tim utama.
”Paolo Montero legenda kami. Dia tentu memiliki DNA dan memahami filosofi bermain tim ini,” bunyi pernyataan resmi Juve merujuk Montero yang pernah sembilan tahun menjadi bek Juve (1996–2005) di laman resmi klub.
Montero sejatinya sudah memulai karier kepelatihan sedekade lalu di negaranya, Uruguay, bersama tim muda Penarol. Dia lalu berkelana ke Argentina bersama Boca Unidos, Colon, dan Rosario Central, hingga berlabuh ke Italia bersama klub Serie D AC Sambenedettese. Dua tahun lalu, Montero mulai menangani Juve Primavera. (io/c17/dns/jpg/er/k16)
Editor : Indra Zakaria