MENJALANI bisnis, tentu harus memiliki tenaga yang turut membantu di dalamnya. Sebelum memiliki karyawan seperti sekarang, Coryn Stephanie Hurry dan Natalia Gonius sempat kesulitan. Alasannya, mereka berdua ingin mendapat karyawan yang sesuai dan paham soal kuku. Tak sampai di situ, ketika sudah mendapat karyawan, keduanya masih harus memberikan training yang tepat pada karyawan selama 1-2 bulan agar bisa memahami ritme kerja.
“Kita itu mau karyawan yang teliti dan kerjanya rapi. Memang sempat kesulitan, tapi ketika menyeleksi karyawan itu juga sudah kita lihat mana bagaimana cara kerjanya, telaten atau enggak. Perawatan kuku ini memang butuh orang yang telaten banget karena bidangnya kecil,” tutur Natali.
Beberapa karyawan memang sudah berpengalaman soal kuku. Namun, ada pula yang masih pemula. Terpenting, orang itu mampu bekerja secara rapi. Jika memang masih kesulitan mengerjakan kuku pelanggan, menurut Natali itu semua kembali ke pribadi masing-masing karyawan. Jika pribadinya memang telaten, pasti mudah mengerjakan. Desain kuku memang datang dari Coryn dan Natali, setelah itu mereka akan mengajari karyawan.
Evaluasi menjadi hal penting dilakukan. Tentunya, evaluasi selalu dilaksanakan secara langsung. Salah satunya dengan melihat dan menemani karyawan yang tengah melakukan perawatan kuku dari awal hingga akhir.
“Jadi bisa dilihat cara kerjanya dari awal sampai akhir itu bagaimana. Kalau memang ada salah, kita tegur. Kita beri tahu bagaimana yang benar, karena nail art enggak bisa hanya sebatas teori. Harus ada praktiknya. Kalau cuma teori, nanti pengerjaannya bakal beda dan enggak maksimal,” jelas Natali.
Kini, Coryn dan Natali telah memiliki lima pegawai yang turut membantu mereka menjalani bisnis. Meski sebagai pemilik salon, tak menutup kemungkinan keduanya ikut turun tangan menangani pelanggan. Terlebih, jika desain kuku yang harus dihias cukup rumit sehingga beberapa karyawannya dikira belum mampu, Coryn dan Natali siap membantu.
“Kalau dilihat, karyawan kita itu malah terlihat senang kalau bekerja. Ya selain bekerja, mereka juga dapat ilmu. Seperti ilmu menghias kuku, cara membersihkan kuku yang benar. Jatuhnya mereka seperti ikut kursus juga,” ungkap Natali.
Untuk ke depannya, mereka tentu berharap jika bisa menambah karyawan. Namun, sejauh ini masih ingin fokus mengajari dan mengarahkan kelima karyawan yang ada agar segala ilmunya dapat terserap dengan baik. Semua dijalani secara perlahan namun pasti.
Keduanya mengaku untuk tetap optimis menjalani bisnis. Sadar jika bisnis memang tak lepas dari persaingan, keduanya menganggap wajar dan tak terlalu ambil pusing. Setiap orang punya strategi berbeda dan mereka selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik. Berkat ketekunan dan keseriusan mereka dalam hal kuku, Coryn dan Natali mampu meraup keuntungan sekitar Rp 35 juta sampai Rp 50 juta dalam sebulan.
“Harapannya, kita pengin bisnisnya makin berkembang dan selalu sukses. Pokoknya, selama kita menikmati pekerjaan, enggak akan ada yang sulit dilewati,” harap Natali. “Inginnya sih menjadi trendsetter. Kalau orang mau buat kuku, ingatnya Bloom,” tutup Coryn tersenyum. (*/ysm*/rdm2)
Editor : izak-Indra Zakaria