Studio animasi Pixar siap merilis film terbaru. Berjudul Soul, animasi tiga dimensi yang akan dirilis 25 Desember mendatang di platform Disney+ Hotstar itu mengangkat tema tujuan hidup dalam kemasan yang menarik.
---
Joe Gardner (Jamie Foxx) bercita-cita menjadi musisi jazz ternama di Kota New York. Salah satu impiannya ialah bersanding dengan Dorothea Williams (Angela Bassett), bintang jazz idolanya. Sambil menunggu impian itu tercapai, Joe bekerja sebagai guru musik untuk menghidupi dirinya.
Suatu ketika, impian Joe menjadi kenyataan. Well, hampir sih. Sebab, ketika mendapat undangan untuk bermain bersama grup jazz idolanya, Joe malah terjatuh ke lubang gorong-gorong. Dia lalu terdampar di The Great Before, tempat untuk jiwa-jiwa manusia mendapat karakter dan dipersiapkan sebelum lahir ke dunia.
Petualangan Joe –yang juga berubah menjadi sesosok jiwa– di The Great Before akan membuka pandangannya tentang apa yang sebenarnya jadi tujuan hidup. Terkadang, ada yang lebih penting daripada sekadar cita-cita.
Sutradara Pete Docter menjadi nakhoda proyek tersebut. Sutradara animasi pemenang Academy Awards 2016 lewat Inside Out itu mendapat ide cerita Soul saat melihat anaknya yang kini berusia 23 tahun. ’’Kupikir, setiap orang lahir dengan jiwa yang unik. Kami yakin jiwa itu tidak asal jadi, tetapi dipersiapkan bahkan sebelum kita lahir,’’ ujarnya dalam wawancara bersama Jawa Pos.
Docter dan timnya juga percaya bahwa sejak kecil, setiap manusia menunjukkan keistimewaan, bakat, dan cita-cita yang akan menentukan hidup mereka di masa depan. Karena itu, tim penulis cerita sampai melakukan riset ke lembaga pendidikan anak usia dini.
Kristen Lester, story supervisor Soul, menuturkan, timnya telah mengobservasi bagaimana anak usia 3–4 tahun menunjukkan bakat dan minatnya sebagai referensi cerita. ’’Kami amati bagaimana mereka belajar mengenal diri dan mengeksplorasi kemampuan sejak dini,’’ katanya.
Setelah mendapat konsep tentang keunikan setiap individu, para filmmaker berupaya membuat cerita film yang relevan dengan masa kini. Ketika banyak orang, terutama milenial, bingung mencari tujuan hidup. Mereka harus menyeimbangkan passion dan tuntutan hidup mapan. Persis seperti Joe yang bercita-cita menjadi musisi, tapi dituntut punya penghasilan tetap sebagai guru.
Sayang, tak semua orang punya akses yang sama untuk meraih impian. ’’Kadang-kadang, hidup ini bukanlah perkara mencapai impian. Ada saatnya kita mengedepankan perasaan nyaman dan senang ketika melakukan sebuah pekerjaan yang bahkan bukan impian kita,’’ ucap Kemp Powers, co-director dan penulis naskah.
Agar mendapat pemaparan yang pas, tim pengembang cerita melakukan survei. Mereka bertanya ke sejumlah orang yang tidak atau belum sepenuhnya mencapai impian, tapi merasa bahagia dengan yang dikerjakan sekarang. Misalnya, para guru sekolah. Mengingat karakter Joe adalah seorang guru. Salah satu yang dicari ialah bagaimana menyeimbangkan hidup mereka saat melakukan dua pekerjaan berbeda.
Tim pengembang cerita juga menyurvei kehidupan para musisi jazz di kelab-kelab Kota New York. Mereka menceritakan berbagai hal terkait esensi musik jazz dan hidup mereka sebagai musisi. ’’Kami coba angkat, apakah mereka benar-benar bahagia dengan pekerjaan mereka dan sudah cukup puas dengan bekerja sesuai passion,’’ jelas Lester.
Selain fenomena tuntutan versus passion, Docter dan timnya juga memasukkan unsur cerita dan karakter yang lebih pesimistis. Yakni, karakter 22 (Tina Fey), sosok jiwa yang enggan hidup di bumi karena merasa kehidupan yang ditawarkan tidak berguna. ’’Dia menjadi penyeimbang karakter Joe yang optimistis. Apalagi, sekarang banyak orang, terutama di usia muda, yang mudah pesimistis dalam menjalani hidup,’’ papar Powers.
Dengan mengangkat topik-topik seperti kehidupan sebelum lahir, tujuan hidup, dan cita-cita, Docter dan timnya harus berhati-hati. Sebab, Soul ditujukan untuk keluarga, yang berarti anak-anak bisa menontonnya. Topik abstrak itu harus bisa ditampilkan dengan cara yang menyenangkan. ’’Selain dialog yang mudah dipahami, kami masukkan berbagai elemen yang menyenangkan seperti humor dan karakter yang menyenangkan. Anak-anak bisa ikut menikmati,’’ terang Docter. (len/c18/ayi)
Pertama Karakter Utama Kulit Hitam
Soul mengukir sejarah di jagat film Pixar. Film yang seharusnya dirilis Juni lalu itu menjadi animasi Pixar pertama yang karakter utamanya adalah pria kulit hitam. Bukan sekadar tokoh yang berdiri sendiri, tapi juga hidup bersama keluarga dari golongan kulit hitam.
Sutradara Pete Docter ingin Pixar ikut andil dalam keberagaman di layar sinema. Dia berharap Joe Gardner menjadi karakter yang punya andil dalam keterwakilan karakter kulit hitam dalam film.
Kemp Powers, co-director dan penulis naskah, merupakan salah satu kru kulit hitam. Ketika membuat cerita Joe dan keluarganya, pria asal California itu merasa terhubung dengan karakter Joe. ’’Aku pernah tinggal di New York, bekerja sebagai kritikus musik, dan menyukai jazz. Sebagai orang kulit hitam, aku ingin memberikan penghargaan untuk golongan dan komunitas tempatku berasal,’’ ungkapnya.
Selain Powers, Pixar juga melibatkan filmmakers yang merupakan orang kulit hitam. Di antaranya, story artist Aphton Corbin dan Michael Yates. Saat membantu Powers mengembangkan cerita, mereka juga memberikan input berdasar pengalaman pribadi mereka dan orang kulit hitam lainnya. Mulai pengalaman bekerja, masa lalu, hingga kehidupan keluarga. ’’Kami ingin film ini mewakili keberadaan budaya kulit hitam,’’ kata Corbin.
Tak hanya dari internal Pixar, tim pembuat film juga menggandeng pihak luar yang terdiri atas konsultan dan seniman kulit hitam. Di antaranya, musisi Questlove, Jon Batiste, pianis Herbie Hancock, aktor Daveed Diggs, dan akademisi Johnnetta Cole. Selain itu, untuk menambah referensi, tim Pixar mengunjungi National Museum of African American History and Culture di Washington DC.
Aktor kulit hitam Jamie Foxx pun dipilih sebagai pengisi suara Joe. Menurut Docter dan Powers, selain sama-sama berkulit hitam, Foxx punya kesamaan yang kuat dengan Joe. ’’Mereka sama-sama pengejar mimpi dan suka musik. Jamie adalah pilihan terbaik untuk mengisi suara Joe,’’ tegas Docter.
Dengan representasi kulit hitam, Docter dan timnya berharap film mereka bisa memberi kontribusi dalam keterwakilan dan representasi black culture. Apalagi, tagar #BlackLivesMatter kembali mencuat Mei lalu. ’’Kami sebenarnya mendapat ide cerita ini jauh sebelum kejadian itu. Semoga film kami bisa memberikan hiburan sekaligus hal positif bagi siapa pun yang menonton,’’ ucap Corbin. (len/c18/ayi)
Karakter di Soul
Joe Gardner (Jamie Foxx)
Guru musik yang bercita-cita menjadi musisi jazz. Dia menjaga mimpinya sambil menghidupi dirinya dari mengajar. Setelah terdampar di The Great Before, Joe berusaha keras untuk kembali ke dunia agar bisa bermain bersama grup jazz idolanya.
22 (Tina Fey)
Salah satu jiwa di The Great Before yang enggan terlahir ke dunia. ’’Dia mewakili orang-orang yang takut mengambil risiko dan takut tersakiti saat menjalani hidup. Aku yakin banyak orang yang pernah merasa seperti itu,’’ ujar Fey.
Libba Gardner (Phylicia Rashad)
Ibu Joe, seorang pebisnis tailor di Queens. Dia mendukung cita-cita Joe sebagai musisi, tetapi juga mendorongnya agar punya rencana lain. Joe menganggap itu sebagai bentuk minimnya support sang ibu. Padahal, Libba ingin sang anak bisa bahagia.
Dorothea Williams (Angela Bassett)
Penyanyi jazz kenamaan idola Joe. Dia benar-benar memperhitungkan siapa saja yang bisa bermain musik mengiringinya.
Moonwind (Graham Norton)
Sosok yang dulu membantu mengarahkan jiwa-jiwa yang hilang untuk kembali menemukan tubuh mereka. Kini, Moonwind tinggal di Manhattan.
The Counselors
Sosok jamak yang membantu jiwa-jiwa baru di The Great Before. Mereka memberikan kemampuan, karakter, sifat, dan berbagai atribut pada sebuah jiwa.
Editor : izak-Indra Zakaria