Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Iran Tegaskan Program Rudal Harga Mati, Tolak Tuntutan AS dalam Perundingan Nuklir

Redaksi Prokal • 2026-02-09 08:45:00
USS Abraham Lincoln sudah mendekati Timur Tengah.
USS Abraham Lincoln sudah mendekati Timur Tengah.

TEHERAN – Pemerintah Iran mengeluarkan pernyataan keras terkait kedaulatan pertahanan nasionalnya di tengah upaya diplomasi yang sedang berlangsung. Teheran menegaskan bahwa program rudal balistik mereka tidak akan pernah menjadi bahan negosiasi dalam pembicaraan apa pun dengan Amerika Serikat (AS).

Meskipun menyatakan kesiapan untuk melanjutkan dialog terkait isu nuklir, Iran secara terang-terangan menolak tekanan dari Washington. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan bahwa segala bentuk agresi terhadap wilayah Iran akan dibalas dengan serangan langsung ke pangkalan-pangkalan militer AS yang tersebar di kawasan Timur Tengah.

"Program rudal adalah bagian dari kedaulatan pertahanan nasional kami dan bersifat tidak bisa dinegosiasikan. Kami siap mencapai kesepakatan yang menenangkan dunia terkait pengayaan nuklir, namun hak Iran untuk melakukan pengayaan adalah hak yang tidak dapat dicabut," tegas Araghchi dalam wawancara dengan Al Jazeera, Minggu (8/2/2026).

Kebuntuan Diplomasi dan Sanksi Baru

Pernyataan ini muncul setelah adanya perundingan tidak langsung antara Iran dan AS di Muscat, Oman. Meski Araghchi menyebutnya sebagai langkah awal yang positif, situasi di lapangan justru semakin memanas. Presiden AS Donald Trump baru saja menandatangani perintah eksekutif yang memberlakukan tarif ketat terhadap negara-negara yang masih berdagang dengan Iran, serta menjatuhkan sanksi tambahan pada sektor pengapalan minyak.

Langkah Washington ini dipandang sebagai upaya untuk memaksa Iran memasukkan isu rudal balistik dan dukungan regional mereka ke dalam meja perundingan—tuntutan yang juga didukung kuat oleh Israel. Namun, Teheran tetap bergeming dan menilai perluasan agenda tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan.

Di saat diplomasi sedang diuji, ketegangan militer pun ikut meningkat. AS telah mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah sebagai bentuk strategi "perdamaian melalui kekuatan". Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Trump pekan depan untuk menyamakan persepsi terkait pembatasan militer Iran.

Di tingkat domestik, publik Teheran cenderung pesimistis melihat arah perundingan ini. Banyak warga khawatir dialog akan kembali menemui jalan buntu karena kedua negara tetap bersikukuh pada posisi prinsipil masing-masing. Araghchi menutup pernyataannya dengan harapan agar AS menghentikan retorika ancaman jika benar-benar ingin jalur diplomasi tetap terbuka.(*)

Editor : Indra Zakaria