Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Laporan Media AS: Belasan Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Hancur dan Tak Layak Huni

Redaksi Prokal • Kamis, 26 Maret 2026 - 18:46 WIB

Salah satu pangkalan militer AS di Timur Tengah sebelum diserang Iran.
Salah satu pangkalan militer AS di Timur Tengah sebelum diserang Iran.

 

NEW YORK – Laporan investigasi terbaru dari media ternama Amerika Serikat, The New York Times (NYT), mengungkap kondisi memprihatinkan dari infrastruktur militer Amerika di kawasan Timur Tengah. Dalam laporan tersebut, NYT mengonfirmasi bahwa sebagian besar dari 13 pangkalan militer yang dikelola pasukan AS di wilayah strategis tersebut kini dalam kondisi hancur, kosong, dan tidak lagi layak huni bagi para personel militer.

Kondisi ini menandakan adanya pergeseran besar dalam postur keamanan AS di wilayah yang penuh gejolak tersebut. Laporan tersebut merinci bahwa banyak fasilitas pertahanan yang dulunya menjadi pusat operasi penting, kini hampir tidak memiliki fasilitas dasar yang memadai untuk operasional jangka panjang. Kerusakan ini diduga dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari eskalasi konflik regional hingga kurangnya pemeliharaan infrastruktur di tengah perubahan prioritas kebijakan luar negeri Washington.

Dari belasan titik tersebut, pangkalan militer di Kuwait yang berbatasan langsung dengan wilayah pengaruh Iran, disebut-sebut mengalami kerusakan yang paling parah. Pangkalan yang secara geografis berada di garda terdepan ini dilaporkan mengalami degradasi struktur yang signifikan, menjadikannya titik paling rentan dalam jaringan pertahanan AS di Teluk. Pengosongan pangkalan-pangkalan ini memicu pertanyaan besar mengenai kesiapan taktis Amerika Serikat jika terjadi eskalasi militer mendadak di kawasan tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Pentagon belum memberikan komentar resmi terkait detail kerusakan yang dipublikasikan oleh NYT. Namun, pengosongan dan kehancuran pangkalan-pangkalan ini diprediksi akan mengubah peta kekuatan geopolitik di Timur Tengah, sekaligus memberikan sinyal mengenai potensi pengurangan kehadiran militer permanen Amerika di wilayah yang selama puluhan tahun menjadi fokus utama kebijakan luar negeri mereka.(*)

Editor : Indra Zakaria