Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Demi Minyak, Filipina Incar Sabah! Robin Padilla Serukan Klaim Sah di Tengah Krisis Energi Dunia

Redaksi Prokal • Minggu, 29 Maret 2026 - 19:27 WIB

Senator Robin Padilla melontarkan seruan provokatif terkait sengketa wilayah Sabah atau Kalimantan Utara
Senator Robin Padilla melontarkan seruan provokatif terkait sengketa wilayah Sabah atau Kalimantan Utara

MANILA – Dinamika politik luar negeri Filipina kembali memanas setelah Senator Robin Padilla melontarkan seruan provokatif terkait sengketa wilayah Sabah atau Kalimantan Utara. Di tengah lonjakan tajam harga minyak bumi global, Padilla mendesak Presiden Ferdinand "Bongbong" Marcos Jr. untuk segera menghidupkan kembali klaim sah negara tersebut atas wilayah yang saat ini menjadi bagian dari kedaulatan Malaysia.

Melalui unggahan di media sosial resminya, Senator Padilla menegaskan bahwa momentum saat ini sangat tepat bagi Filipina untuk menuntut kembali hak-hak sejarah mereka. Ia memandang bahwa penguasaan kembali atas wilayah tersebut bukan sekadar masalah kedaulatan, melainkan solusi strategis bagi ketahanan energi nasional.

Dalam pernyataannya, Padilla juga menyisipkan kritik tajam terhadap fokus keamanan nasional saat ini. Ia secara spesifik menyindir Juru Bicara Penjaga Pantai Filipina (PCG), Jay Tarriela, beserta kelompoknya, agar mengalihkan semangat patriotisme mereka dari sengketa Laut China Selatan menuju klaim Sabah.

"Sudah saatnya kita menghidupkan kembali klaim sah kita atas Sabah. Tarriela dan kelompoknya seharusnya memfokuskan semangat patriotik mereka pada pulau tersebut, yang terlihat jelas baik saat air surut maupun saat air pasang," tegas Padilla dalam unggahannya.

Seruan ini muncul di saat Filipina tengah menghadapi tekanan ekonomi akibat melambungnya harga bahan bakar. Wilayah Sabah dikenal memiliki cadangan sumber daya alam yang melimpah, termasuk minyak dan gas bumi, yang diyakini Padilla dapat menjadi jawaban atas krisis energi yang sedang melanda negeri tersebut.

Bagi sang Senator, memperjuangkan klaim Sabah adalah langkah konkret untuk melindungi kepentingan ekonomi rakyat Filipina di masa depan. Namun, langkah ini diprediksi akan memicu ketegangan diplomatik baru dengan Malaysia, mengingat wilayah tersebut telah menjadi isu sensitif dalam hubungan bilateral kedua negara anggota ASEAN ini selama puluhan tahun.

Kini, publik menanti bagaimana respon resmi dari Istana Malacañang terhadap desakan yang disuarakan dari senat tersebut. Presiden Bongbong Marcos dihadapkan pada pilihan sulit antara menjaga stabilitas kawasan ASEAN atau mengakomodasi tekanan domestik untuk mengejar klaim wilayah yang secara historis pernah menjadi bagian dari Kesultanan Sulu.

Ketegasan pemerintah dalam menyikapi usulan ini akan menjadi penentu arah kebijakan luar negeri Filipina, sekaligus menguji sejauh mana Manila berani melangkah dalam memperebutkan akses sumber daya alam di tengah situasi geopolitik yang kian tidak menentu. (*)

Editor : Indra Zakaria