Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Bunuh Diri Bisa Dicegah

izak-Indra Zakaria • 2023-09-10 22:10:45
Photo
Photo

Asosiasi Internasional untuk Pencegahan Bunuh Diri bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia (WSPD) pada 10 September 2003 di Stockholm, Swedia. Harian Pontianak Post pun akan mengulas tentang bagaimana keinginan seseorang untuk melakukan upaya bunuh diri serta bagaimana pencegahan yang bisa dilakukan oleh orang-orang terdekat?

 

MARSITAH RIANDINI-SITI SULBIYAH, Pontianak

ADANYA keinginan untuk bunuh diri merupakan salah satu kasus gawat darurat yang harus segera ditolong. Jika dibiarkan, keinginan itu akan berubah menjadi tindakan untuk menghilangkan nyawa. Psikiater Jojor Putrini menjelaskan, jika sudah ada keinginan, bahkan bisikan untuk bunuh diri, maka segera konsultasi ke tenaga profesional. Psikiater akan melakukan observasi dan perawatan kepada pasien. Pemantauan dilakukan selama 24 jam, dan akan longgar ketika sudah yakin pasien tidak akan melakukan upaya bunuh diri. 

"Pasien akan dirawat tiga sampai tujuh hari, serta pemberian obat-obatan antidepresi," jelasnya. 

Sayangnya, kata Jojor, banyak pasien tidak menyadari hal ini, sehingga tidak memeriksakan dirinya. Maka, menurut dia, diperlukan peran penting keluarga untuk memahami kondisi pasien.

Bahkan, kata Jojor, ketika sudah tampak perubahan perilaku anggota keluarga seperti lebih banyak mengurung diri, sedih sepanjang hari, perubahan mood yang begitu cepat, segera lakukan pemeriksaan. "Apalagi jika sudah ada semacam bisikan atau halusinasi itu harus segera ditangani," paparnya. 

Jojor mengtakan, bunuh diri dipengaruhi beberapa faktor. Misalnya, penurunan serotonin yang tinggi, sehingga mengakibatkan peningkatan gangguan kesehatan seperti depresi dan cemas. Selain itu, seseorang yang mengalami kelebihan dopamine, menurutnya, dapat dihubungkan dengan beberapa komplikasi serius.

Beberapa gangguan yang dapat terjadi dan umumnya berhubungan dengan mental, dimisalkan dia, seperti skizofrenia dan kelainan bipolar. Kondisi ini, dikhawatirkan dia, dapat menyebabkan seseorang mengalami halusinasi. "Seperti ada bisikan, instruksi yang hanya didengar oleh dirinya untuk melukai dirinya, menjelek-jelekkan dirinya, menghina sampai pada disuruh menyilet-nyilet tangan, naik ke lantai atas kemudian terjun," ungkapnya.

Bisikan ini, menurut dia, bisa didengar di telinga kiri atau kanan, bahkan keduanya. Bisa seperti suara perempuan atau laki-laki, bisa juga campuran.

Orang dengan bipolar, kata Jojor, juga bisa memicu untuk melakukan bunuh diri. Sebab, perubahah mood yang begitu cepat dari manik menjadi depresi. "Dari yang tadinya bahagia banget paginya, tiba-tiba malamnya depresi terlihat sedih, mengurung diri. Akhirnya karena tadi ada energi besar pada fase manik, menjadi lebih ‘semangat’ untuk bunuh diri ketika berubah menjadi depresi," paparnya.

Upaya bunuh diri, menurut dia, juga bisa muncul akibat penyakit kronik yang diderita bertahun-tahun. Pasien merasa menyusahkan orang lain, dan lebih baik tidak lagi hidup agar tidak menyusahkan keluarganya. Bahkan bunuh diri juga menjadi ancaman bagi orang lanjut usia.

Mereka seakan putus asa karena menganggap dirinya tak lagi berdaya, sudah tak berguna bahkan menjadi beban keluarga. "Alhasil mereka memilih  tidak mau berobat dan membiarkan rasa sakit itu berharap dengan begitu hidupnya segera berakhir," kata Jojor.

Keinginan bunuh diri juga bisa dipengaruhi tekanan hidup yang berat. Selain persoalan ekonomi, juga bisa dipicu masalah kesehatan, pendidikan, dan lainnya. "Misalnya orang terlilit utang yang banyak, pinjol, kemudian tidak tahu harus membayarnya gimana? Dari pada malu atau keluarga yang menanggung beban,  lebih baik bunuh diri," pungkasnya.  

 

Jalankan Program Sadar Kesehatan Mental Remaja

Ketua Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia Wilayah Kalbar, Umi Kalsum mengatakan, upaya yang bisa dilakukan adalah dengan membentuk mental yang sehat sedini mungkin. IPKI Kalbar sendiri memiliki program sadar kesehatan mental yang menyasar remaja di Pontianak.

“Kita akan turun ke sekolah, melakukan program sadar kesehatan remaja,” ungkap Umi. Dia menilai, kesadaran terhadap kesehatan mental remaja menurutnya sangat penting dilakukan guna mencegah berbagai potensi memburuknya mental yang membuka peluang terhadap hal-hal yang tidak diinginkan, salah satunya bunuh diri.  

“Sasarannya adalah sekolah terutama pada tingkat SMA. Namun, bila memungkinkan kita juga ingin menjangkau SMP,” tuturnya.

Masa remaja menurutnya sangat penting karena merupakan fase pembentukan karakter dan mental. Masa ini merupakan masa yang penuh gejolak dan pencarian jati dirinya sebagai manusia.

Umi pun mengingatkan kepada orang tua untuk membangun hubungan emosional yang baik di setiap fase kehidupan anak, termasuk saat remaja. Orang tua harus peka dengan respon atau tanda-tanda anak yang mengalami masalah mental. Fenomena bunuh diri berawal dari individu bersangkutan yang mengalami masalah sosial, terutama kesalahpahaman dengan keluarga.

“Kebanyakan kasus yang bunuh diri atau percobaan bunuh diri dipicu oleh persoalan keluarga,” tuturnya.

Dia menilai, sadar dan peka terhadap perubahan orang di sekitar bisa mencegah seseorang untuk bunuh diri. Ciri-ciri orang yang mengarah pada tindakan bunuh diri ini seperti perubahan emosi, perilaku atau sikap, menunjukkan emosi tidak stabil, dan lain sebagainya.

Dalam berbagai kasus percobaan bunuh diri yang ada, Umi menceritakan bahwa keinginan bunuh diri bisa diawali dengan tindakan seseorang yang mencoba menyakiti dirinya sendiri (self harm). “Ada juga yang sengaja makan puluhan obat dalam waktu bersamaan,” tutur Umi menceritakan.

Umi mengingatkan perlunya meningkatkan kesadaran dan kepekaan terhadap anggota keluarga dan masyarakat sekitar, terhadap perubahan perilaku pada diri orang di sekitar. Mengenali perubahan seseorang diharapkan dapat membantu mereka untuk mengurungkan niat bunuh diri. Tentunya, kata dia, juga bisa dengan melibatkan profesional untuk penanganan medis dan psikologis.

“Beberapa yang datang itu karena kepekaan dari guru hingga teman dekat. Ada juga inisiatif sendiri lantaran sudah tidak sanggup atau tidak mampu dengan tekanan yang dirasakan,” tuturnya. (*)

Editor : izak-Indra Zakaria