Perwakilan Tinggi Uni Eropa Urusan Hubungan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, Josep Borrell menilai blokade Israel terhadap masuknya air, makanan, bahan bakar, dan pasokan medis ke Jalur Gaza melanggar hukum internasional.
“Melakukan blokade terhadap pasokan air, makanan, bahan bakar, dan medis tidak sesuai dengan hukum internasional,” katanya saat konferensi pers di Cina, seperti dilansir kantor berita WAFA, Sabtu (14/10).
Borrel juga menilai masyarakat internasional telah melupakan masalah Palestina.
Ia berharap komunitas internasional berusaha merespons kondisi ini dan mendesak agar Israel mematuhi hukum internasional.
“Israel sudah berdamai dengan negara-negara Arab lainnya, tetapi mengabaikan Palestina. Perdamaian juga harus dipupuk antara Palestina dan Israel," kata Borrell.
"Kami telah mengatakannya di Ukraina, dan kami mengatakannya di Gaza: Anda tidak boleh memutus aliran air dan semua fasilitas umum untuk seluruh penduduk," sambung Borrell.
Pernyataan ini disampaikan sehari setelah Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen terbang ke Israel guna bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan menjanjikan dukungan Eropa untuk Israel.
"Kini yang terpenting adalah mengatasi situasi tersebut dan mencegah konflik meluas," sambung Borrell.
Menurutnya, ada kekhawatiran situasi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk, khususnya karena kekurangan air, makanan, pasokan medis, bahan bakar dan listrik. Borrel menilai seruan Israel terhadap 1,1 juta warga sipil Palestina untuk meninggalkan rumah mereka di Jalur Gaza utara dan pindah ke selatan dalam tempo 24 jam adalah seruan yang sama sekali tidak realistis.
“Delegasi kami di sana mendapat informasi dari orang-orang di tempat penampungan dan rumah sakit di mana orang-orang terluka dan berkata: ‘Bagaimana kami bisa pergi, bagaimana kami bisa pindah jika transportasi pun tak ada?’”
Meskipun Eropa berbeda pendapat dalam konflik di Gaza, menurutnya sebagian besar pejabat Uni Eropa sepakat bantuan untuk Palestina harus tetap mengalir.
Borrell yang baru mengunjungi China, mengaku telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri China tentang situasi Israel-Palestina.
“Menteri China itu, seperti menteri-menteri lain dari negara-negara Arab, menekankan bahwa kita telah melupakan Palestina. Tak apa. Namun, hal itu tidak boleh membenarkan apa yang dilakukan Hamas yang tentu saja tidak membantu perjuangan Palestina," kata dia.
UNICEF Serukan Gencatan Senjata
Terpisah, juru bicara UNICEF James Elder menegaskan anak-anak Palestina di Gaza menghadapi situasi sulit di tengah serangan militer Israel. Korban jiwa terus berjatuhan di kalangan anak-anak dan kaum rentan. Dia menyerukan gencatan senjata segera guna menghentikan krisis kemanusiaan.
"Ratusan anak-anak tewas dan terluka. Jumlah anak-anak yang tewas di Gaza bertambah setiap jam. Pembunuhan anak harus dihentikan," kata Elder. Elder melukiskan gambaran suram mengenai dampak perang yang diderita anak-anak.
"Gambaran dan narasinya jelas: anak-anak mengalami luka bakar yang akut, luka akibat tembakan peluru dan kehilangan anggota tubuh. Rumah sakit-rumah sakit sudah kewalahan merawat mereka yang jumlahnya terus bertambah," paparnya.
Elder juga mengungkapkan kekhawatiran UNICEF terhadap keselamatan 1,1 juta manusia yang hampir separuhnya anak-anak, yang diperintahkan Israel agar meninggalkan rumah mereka karena negara itu akan melancarkan serangan darat.
"Anak-anak dan keluarga-keluarga Gaza praktis kehabisan makanan, air, listrik, obat-obatan dan akses aman ke rumah sakit akibat serangan udara selama beberapa hari dan terputusnya semua jalur pasokan," kata Elder.
Sama-Sama Berhak
Sementara itu, Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyebut Israel memiliki hak menjadi satu negara, namun Palestina pun berhak mendapatkan perlakuan serupa.
"Warga Israel telah telah mendapat perlindungan untuk bertahan hidup, tapi siapa yang peduli dengan kelangsungan hidup rakyat Palestina? Bangsa Yahudi sudah tidak lagi tak memiliki tanah air, tapi kapan bangsa Palestina kembali ke wilayahnya?" kata Wang di Beijing dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA, Sabtu (14/10).
Wang menyampaikan hal itu dalam keterangan bersama dengan Diplomat Utama Uni Eropa untuk Politik Luar Negeri dan Keamanan Josep Borrell setelah keduanya memimpin Dialog Strategis Tingkat Tinggi China-Uni Eropa di Beijing.
"Banyak sekali ketidakadilan yang terjadi di dunia, tapi ketidakadilan terhadap Palestina telah berlangsung selama lebih dari setengah abad. Penderitaan yang melanda generasi ke generasi tidak boleh berlanjut," tambah Wang.
Menurutnya, solusi dua negara dan berdirinya negara Palestina merdeka adalah cara Palestina dan Israel bisa hidup berdampingan secara damai dan bagaimana bangsa Arab dan Yahudi hidup harmonis. Wang juga menyoroti empat prioritas yang dianggap mendesak oleh China.
"Pertama, menghentikan konflik sesegera mungkin, mencegah perluasan konflik dan menghindari memburuknya situasi," ungkap Wang.
Kedua, Wang menyebut sangat penting mematuhi hukum humaniter internasional, melakukan segala upaya guna menjamin keselamatan warga sipil dan membuka jalur penyelamatan serta bantuan kemanusiaan secepat mungkin.
"Tujuannya untuk mencegah bencana kemanusiaan yang parah," tambah Wang.
Ketiga, negara-negara terkait harus menahan diri, mengambil sikap objektif dan adil, berupaya meredakan konflik dan menghindari dampak keamanan regional dan internasional yang lebih besar.
"Keempat, PBB harus memainkan perannya dalam menyelesaikan masalah Palestina. Dewan Keamanan PBB perlu mengambil tanggung jawab penting dalam hal ini, membangun konsensus internasional secepat mungkin dan mengambil tindakan nyata untuk mencapai tujuan tersebut," tambah Wang. Wang juga mengungkapkan China sedang berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait.
"China akan berpartisipasi aktif dalam konsultasi darurat dalam Dewan Keamanan PBB dan mendukung seruan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres agar melindungi warga sipil. China akan memberikan bantuan kemanusiaan darurat ke Jalur Gaza dan Otoritas Nasional Palestina melalui PBB," papar Wang.
Dukungan Terus Mengalir
Sementara itu, ribuan orang berkumpul di Kota New York pada Jumat waktu Amerika Serikat guna memberikan dukungan kepada Palestina dan menentang serangan Israel di Gaza. Para demonstran menuntut pendudukan Israel diakhiri dan pembebasan wilayah Palestina. Mereka menuduh Israel melakukan "genosida" di wilayah itu.
Sementara itu, ribuan orang berkumpul di Kota New York pada Jumat waktu Amerika Serikat guna memberikan dukungan kepada Palestina dan menentang serangan Israel di Gaza. Para demonstran menuntut pendudukan Israel diakhiri dan pembebasan wilayah Palestina. Mereka menuduh Israel melakukan "genosida" di wilayah itu.
Sambil membentangkan bendera Palestina dan berbagai spanduk, para demonstran berpawai dari Times Square sampai Konsulat Jenderal Israel sebagai solidaritas terhadap rakyat Palestina. Spanduk-spanduk bertuliskan pesan seperti "Bebaskan Palestina", "Perlawanan Itu Sah", "Gaza menolak rezim Zionis", dan "Akhiri semua bantuan AS untuk Israel", terlihat jelas.
Namun, unjuk rasa ini mendapatkan tandingan dari demonstran yang menyatakan bersolidaritas kepada Israel. Anadolu menyiarkan cuplikan gambar terjadinya konfrontasi antara dua kelompok yang berlawanan itu, termasuk satu orang yang ditangkap polisi. Aksi unjuk rasa yang kedua kalinya terjadi di New York ini berlangsung di tengah serangan udara Israel yang terus berlanjut sejak serangan Hamas ke Israel akhir pekan lalu.(ant)
Editor : izak-Indra Zakaria