Di samping itu, Erna juga menjelaskan beberapa gejala hewan yang terindikasi menularkan rabies. Pada umumnya, hewan terjangkit rabies akan lebih progresif, mata kemerahan, air liur berlebihan, dan hewan tersebut takut terhadap matahari, dan takut terhadap air.
Sementara untuk gejala umum yang timbul pada manusia yang terinfeksi rabies, biasanya demam, mual, rasa nyeri atau terbakar pada area gigitan, nyeri tenggorokan, takut terhadap matahari, dan air, serta mengeluarkan air liur yang berlebihan.
"Gejala-gejala tersebut yang harus diwaspadai, terhadap gejala yang timbul terhadap anjing peliharaan atau anjing yang ditemukan di wilayah atau lingkungan tempat tinggal,” pesannya.
Sementara untuk penanganan dini terhadap gigitan hewan berpotensi menular rabies ini, Erna menyarankan agar melakukan langkah pertama dengan mencuci bekas luka gigitan selama 15 menit menggunakan air mengalir dengan sabun. Kemudian, segera laporkan kejadian GHPR ke fasyankes terdekat.
Dengan demikian, petugas kesehatan bisa berkoordinasi dengan aparat desa maupun pihak pemerintah kabupaten/kota agar pasien mendapat penanganan, dan diberikan Vaksin Anti Rabies (VAR). “Dan untuk VAR ini sudah kami terapkan, dengan data keseluruhan yang sudah mendapatkan suntikan vaksin sebanyak 1.414 kasus,” terangnya.
Untuk stok VAR sendiri, Erna membeberkan bahwa Dinas Kesehatan Kalbar memiliki stok vaksin sebanyak 5.267 vial. Jumlah yang sudah didistribusikan ke kabupaten/kota sebanyak 3.717 vial. “Untuk pendistribusian VAR ini kami salurkan sesuai dengan permintaan yang diajukan oleh kabupaten/kota ke Dinkes Kalbar,” lanjutnya.
Lebih jauh terkait kasus GHPR, Erna juga memastikan Dinkes Kalbar terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).Terutama dalam upaya pemberian edukasi, melakukan promosi kesehatan lebih aktif, dan juga distribusi VAR dari Kemenkes. “Kami juga terus melakukan upaya untuk pencegahan, dan pengendalian terkait kasus gigitan hewan penular rabies ini,” pungkasnya. (bar)