Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Sektor Pertanian Kalbar Mulai Ditinggalkan, Industri Pengolahan Tumbuh Pesat Jadi Magnet Pekerja Baru

Redaksi Prokal • 2026-02-08 12:45:00
Ilustrasi, pekerja menata buah naga saat panen. Petani buah naga di Sambas mengakui cuaca panas yang terjadi belum lama ini, memengaruhi hasil panen mereka.
Ilustrasi, pekerja menata buah naga saat panen. Petani buah naga di Sambas mengakui cuaca panas yang terjadi belum lama ini, memengaruhi hasil panen mereka.

 

PONTIANAK – Wajah ketenagakerjaan di Kalimantan Barat (Kalbar) mulai menunjukkan pergeseran yang signifikan. Meski sektor pertanian masih memegang takhta sebagai penyerap tenaga kerja terbesar dengan angka 41,44 persen hingga November 2025, kontribusinya terus menunjukkan tren penurunan yang memprihatinkan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar, jumlah angkatan kerja di provinsi ini mencapai 3,12 juta orang. Menariknya, di saat jumlah pekerja di sektor pertanian merosot tajam hingga 17,78 persen jika dibandingkan dengan Agustus 2025, sektor industri pengolahan justru mengalami lonjakan pertumbuhan sebesar 36,93 persen.

Ketua Gerbang Tani Kalbar, Heri Mustari, menilai fenomena ini sebagai realitas ekonomi yang realistis namun miris. Menurutnya, pendapatan dari sektor pertanian pangan saat ini belum sepenuhnya mampu menjamin kesejahteraan petani.

“Pendapatan petani relatif rendah dan tidak pasti karena sangat bergantung pada cuaca, harga pasar, hingga serangan hama. Kondisi perubahan iklim memperburuk situasi ini,” ujar Heri, Jumat (6/2/2026).

Daya Tarik Sektor Formal

Heri menjelaskan bahwa sektor industri pengolahan kini menjadi "pintu masuk" bagi masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan formal. Kepastian upah yang mengacu pada Upah Minimum Provinsi (UMP) serta jaminan sosial seperti BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan menjadi daya tarik utama yang tidak dimiliki oleh sektor pertanian tradisional.

Selain masalah pendapatan, alih fungsi lahan untuk pemukiman dan infrastruktur serta mekanisasi pertanian turut andil dalam berkurangnya kebutuhan tenaga kerja di area on-farm. Kebijakan hilirisasi pemerintah juga membuat nilai tambah produk lebih banyak tercipta di sektor pengolahan, sehingga lapangan kerja lebih banyak tumbuh di area off-farm.

Penurunan jumlah pekerja ini membawa kekhawatiran besar pada keberlanjutan sektor pangan di masa depan. Sebagian besar petani saat ini masih bersifat subsisten (hanya memenuhi kebutuhan keluarga), dan belum tentu anak-anak mereka bersedia meneruskan profesi tersebut.

“Kebutuhan hidup terus meningkat. Tanpa jaminan sosial di sektor pertanian, pekerjaan formal akan selalu menjadi pilihan utama,” tambah Heri.

Meski demikian, secercah harapan masih ada. Heri melihat mulai tumbuhnya komunitas anak muda di Kalbar yang tertarik membangun gerakan pertanian modern. Dukungan pemerintah melalui penambahan subsidi pupuk dan kenaikan harga beli gabah diharapkan dapat menjaga semangat para petani yang tersisa.

Transformasi dari sekadar "bertani" menjadi "pengusaha tani" dinilai menjadi kunci agar sektor pertanian Kalbar tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu bersaing di tengah pesatnya digitalisasi dan industrialisasi. (*)

Editor : Indra Zakaria