BANJARMASIN - Selasa (12/2) mendekati tengah malam, Jalan Lambung Mangkurat sudah lengang. Hujan deras dan angin kencang baru saja reda. Dan pasangan satpam yang berjaga di pos gedung PT PLN Cabang Banjarmasin pun menggigil.
Dingin dan kantuk sirna seketika. Menyaksikan 20 pemuda dan pemudi menyerbu memasuki halaman kantor yang tak jauh dari perempatan Masjid Sabilal Muhtadin itu.
Beberapa mengenakan jaket almameter warna kuning cerah. Tampang mereka tampak tegang.
"Kami tidak berdemo. Demonstrasi mestinya membawa massa yang lebih besar. Kami cuma sweeping mendadak. Demi memastikan pekerjaan orang-orang dari BUMN ini. Sudah beres atau belum," kata Aldy Farizaldi Putra.
Aldy adalah Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Aksi spontan itu berawal dari sidang paripurna keluarga mahasiswa yang digelar di gedung serba guna kampus Jalan Hasan Basry.
Sidang dimulai sejak jam 3 siang. Mendekati jam 10 malam, diskusi masih alot. Namanya saja mahasiswa. Berdebat berjam-jam hingga dini hari adalah perkara biasa.
"Ada angin kencang, lalu listrik padam. Mahasiswa pun riuh. Matinya enggak sekali, tapi sampai berkali-kali," imbuhnya.
Mahasiswa sudah coba menghubungi nomor layanan pengaduan PLN. Tapi hanya dijawab oleh bunyi tot-tet-tot.
Geram, puluhan aktivis memutuskan langsung bergerak. Enggan menunggu besok siang.
Kantor itu jelas sudah sepi. Mengingat jam kerja telah lama berakhir. Mahasiswa kemudian lesehan di halaman kantor. Sementara Aldy melancarkan lobi kepada pihak pengamanan.
Ancamannya, jika tak ada atasan PLN yang datang menemui, mahasiswa bakal menumpang tidur di gedung PLN.
Ditegaskannya, sweeping ini merupakan puncak kekecewaan mahasiswa. Atas kondisi byarpet listrik yang terus-menerus menghantui masyarakat Kalsel. Sementara perut Bumi Antasari terus diobok-obok untuk menyediakan pasokan batu bara bagi kebutuhan nasional.
"Kami capek mendengarkan dalih pohon roboh. Klasik! Kami ingin menagih utang PLN kepada masyarakat. Banyak orang di luar sana yang membutuhkan listrik. Banyak barang elektronik warga yang rusak. Masa Banjarmasin sebagai pusat provinsi masih gelap-gulita," bebernya.
Mahasiswa bertahan cukup lama. Pada Rabu (13/2) dini hari, sekitar pukul 00.20 Wita, perwakilan mahasiswa diajak berpindah ke gedung belakang.
Di situ mereka diterima Manajer Bagian Jaringan UP3 PLN Banjarmasin, Sugianto.
Wajah Sugianto tampak lelah. "Listrik mati bukan disengaja. Ini murni gangguan. Jangan karena sedikit-sedikit padam, PLN langsung didemo. Kalau begitu melulu, bagaimana kami bekerja," ujarnya.
Setelah perdebatan yang singkat, daya kesabaran Sugianto pun habis. "Kalian kan orang pintar. Mau menyampaikan aspirasi silakan. Tapi jangan tengah malam! Mana ada demo malam-malam," imbuhnya.
PLN kemudian mengancam menelepon aparat kepolisian. Membubarkan paksa kerumunan mahasiswa.
Merasa menemui jalan buntu, mahasiswa berunding di depan gedung PLN. Mereka kemudian membacakan pernyataan sikap dan pulang kembali ke kampus.
Ada tiga butir dalam pernyataan itu. Pertama, sidang paripurna merupakan momen sakral bagi keluarga mahasiswa ULM. Dan PLN telah mengecewakan peserta sidang.
Kedua, menuntut penjelasan kepada mahasiswa atas pemadaman listrik mendadak. Paling lambat 24 jam setelah aksi sweeping.
"Terakhir, Kalsel sebagai pemasok energi nasional, sudah saatnya untuk mandiri. Mampu memenuhi kebutuhan listriknya sendiri. Bebas dari byarpet listrik," pungkas Aldy. (fud/ay/ran)
Editor : aqsha-Aqsha Radar Banjarmasin