Penjual aneka bunga segar di depan Pasar Rakyat Kayu Tangi, Kota Martapura tersenyum. Jumat membawa ceria bagi mereka, karena hari ini biasanya banyak pembeli akan menghampiri.
-------------------------------------------
Muhammad Amin, Martapura.
-------------------------------------------
Rangkaian bunga bagi masyarakat Banjar adalah pernak pernik “wajib” dalam berbagai acara keagamaan dan tradisi kemasyarakatan.
Mulai dari peringatan hari besar keagamaan seperti maulid dan isra mikraj, pernikahan, tujuhbulanan, tasmiyah, khataman, sampai kematian.
Bahkan setelah dimakamkan, rangkaian bunga senantiasa menyertai keluarga yang akan berziarah. Sehingga tidak salah, bila setiap Jumat kebutuhan meningkat, stok pun ditambah dua kali lipat.
Martapura, selama ini dikenal sebagai pemasok utama bunga yang kemudian menyebar ke beberapa daerah di Kalsel. Mulai dari bunga segarnya, sampai yang sudah berupa rangkaian, biasa disebut kambang barenteng dan kambang sarai.
Acil Ati, seorang penjual bunga yang ditemui Radar Banjarmasin, Jumat (15/2) kemarin menjelaskan, kambang barenteng adalah rangkaian bunga segar aneka jenis, biasanya terdiri dari melati, mawar, kenanga, dan kembang kertas. Dirangkai dengan tali serat dari daun kelapa atau gadang (batang) pisang.
“Meski sekarang lebih banyak yang menggunakan tali rafia,” ungkapnya.
Satu kupak (sepotong gadang pisang berisi 10 rangkaian bunga) biasa dijual seharga Rp5 ribu. Tapi saat momen tertentu, bisa mendadak naik. Bisa karena permintaan tinggi, atau pasokan yang kurang.
“Bila stok kurang dan musim lagi buruk, paling isinya diganti dengan bunga yang lain, seperti kaca piring atau kembang kuning,” terang Acil Ati.
Beda lagi dengan kambang sarai, timpal Acil Hamidah, penjual bunga dari Desa Bincau, Martapura. Harganya lebih mahal dan pembuatannya sangat rumit.
Rangkaian kambang sarai didominasi melati. Dibentuk sesuai keinginan pembeli. Tambah besar, harganya makin tinggi. Mulai Rp50 ribu sampai Rp500 ribu, bahkan lebih.
“Kambang sarai ini khas dan milik orang Martapura. Harganya bervariasi, sesuai permintaan. Lihat saja tiap acara maulid, biasanya jadi hiasan,” terang Hamidah yang sudah 18 tahun berjualan kembang.
Hamidah mengaku, hari biasa ia bisa menjual 20-30 kupak dan 3-5 buah kambang sarai.
Martapura juga menjadi pasar besar bunga, karena di sini banyak lokasi wisata ziarah. Pengunjung yang ingin berziarah, biasanya terlebih dahulu berbelanja. Uniknya, ada kekhasan tersendiri yang menandakan, ke mana tujuan mereka akan berziarah.
“Kalau membeli kambang barenteng dengan ikatan tali rafia, biasanya ke makam Abah Guru Sekumpul. Tapi kalau beli rangkaian dari gadang pisang, biasanya untuk ziarah ke Datu Kelampaian, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary,” ungkap Hamidah.
Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Banjar HM Fachry menyebut, bahan baku kembang sangat mudah didapat. Semua langsung dari sentra bunga yaitu Desa Labuan Tabu, Jingah Habang Ilir, Jingah Habang Ulu, Pandak Daun, dan Bincau.
Kelebihan petani kembang, mereka yang menanam, merawat, dan panen, sekaligus pelaku utama perajin kembang.
Ditambahkannya, jenis kambang sarai sangat diminati oleh warga. Disamping bentuknya menarik, aromanya pun asli yang dihasilkan oleh paduan aneka bunga.
“Usahakan memesan terlebih dahulu jika tidak ingin menunggu. Karena kambang sarai yang ada di meja penjualan biasanya pesanan orang,” ungkapnya.
Ditemui terpisah seorang perajin kembang di Desa Bincau, Anang Sarpini mengemukakan kisah menarik. Syahdan ujarnya, perajin dan pemilik kebun kembang masih keturunan Nini Randa.
Perempuan itu dianggap sebagai penemu pertama kembang, dan menciptakan kreasi kembang barenteng dan kembang sarai. Cerita lama ini tetap lestari dibungkus oleh sisi mistis, dan dituturkan turun temurun.
Mereka yang sudah lama menggeluti kerajinan ini ujar Anang, biasanya hafal dengan legenda ini. Nini Randa adalah putri bangsawan yang terbuang.
Ia terusir dari pusat Kerajaan Banjar akibat masalah. Sang Nini lantas hidup ke hutan. Secara kebetulan, tempat yang dipilihnya dipenuhi berbagai jenis yang disebut Pangambangan.
Makanya, kisah Nini Randa ini pun menjadi legenda yang terjaga juga oleh warga Kelurahan Pengambangan, Banjarmasin.
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dia membuat rangkaian bunga. Kemudian dijualnya ke para bangsawan. Nini Randa biasanya ke pusat kota naik perahu dari Bincau. Kreativitasnya disukai dan kembang itu laku, diborong para bangsawan.
“Karena kaum bangsawan menggunakan kembang tiap upacara, akhirnya rakyatnya ikut-ikutan,” pungkasnya.
Nini randa hidup di hutan itu hingga tua dan memiliki keturunan. Kemudian, mengajarkan ilmu merangkai kembang itu turun temurun sampai hari ini.
Keyakinan generasi tua yang masih hidup, perajin kembang di Bincau masih ada pertalian darah dengan Nini Randa. Leluhur parentengan itu bahagia anak cucunya melestarikan kebudayaan ini.
Sepeninggalnya, ujar Anang lagi ada sepenggal cerita mistis yang berkembang di Bincau. Di waktu tertentu, arwah Nini Randa menampakkan diri. Biasanya, aroma harum menyebar saat Magrib. Itu sebuah tanda sosok magis Nini Randa hadir.
“Saya pernah melihatnya, wujudnya seperti nenek bungkuk, tetapi tidak mengganggu, mungkin hanya menjenguk anak cucu dan keturunannya,” tuturnya. (mam/by/bin)
Editor : aqsha-Aqsha Radar Banjarmasin