BANJARMASIN - Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Banua masih cukup memprihatinkan.
Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kalsel mencatat, sepanjang 2018 mereka telah menemukan 214 kasus.
"Jumlah tersebut tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, yang berkisar 234 kasus," kata Kepala Dinas P3A Kalsel, Husnul Khatimah.
Dia memaparkan, jenis kekerasan terhadap perempuan dan anak yang paling mendominasi ialah kekerasan seksual.
"Dari 253 jenis kekerasan, 75 diantaranya merupakan kekerasan sosial. Disusul kekerasan psikis 60 kasus dan kekerasan fisik 59 kasus," paparnya.
Kekerasan terhadap perempuan dan anak sendiri, terbanyak ditemukan di Banjarbaru dengan total 37 kasus. Disusul Kabupaten Tanah Laut, berjumlah 31 kasus.
"Di Banjarbaru ini kekerasan terhadap anak yang mendominasi, dari 37 kasus hanya delapan yang kekerasan terhadap perempuan," ucap Husnul.
Dia menjelaskan, kekerasan terhadap perempuan dan anak masih marak terjadi diakibatkan oleh sejumlah faktor. Di antaranya, kemiskinan, pergaulan, narkoba dan minuman keras.
"Kesalahan pola asuh juga dapat mempengaruhinya," jelasnya.
Untuk menekan kasusnya, Husnul mengungkapkan, pihaknya selama ini sudah berupaya melakukan pencegahan. Dengan cara menyosialisasikan akan hak anak dan perempuan.
"Kami juga berusaha menguatkan perempuan dalam segi ekonomi. Supaya, mereka tidak kalah dengan laki-laki dalam hal mencari pendapatan," ungkapnya.
Lalu bagaimana dengan perempuan dan anak yang sudah terlanjur jadi korban? Dia menyampaikan, Dinas P3A Kalsel memberikan pelayanan penanganan, pengaduan, rehabilitasi kesehatan dan sosial. Serta pendampingan bantuan hukum.
"Kami juga menyediakan pelayanan pemulangan untuk korban tafficking," ujarnya.
Secara terpisah, Guru Besar Sosiologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof. Dr. H. Wahyu menyampaikan, perempuan dan anak selama ini memang rentan menjadi korban kekerasan.
Itu dikarenakan, posisi mereka yang lemah. Tidak punya kekuatan seperti kaum laki-laki dewasa.
"Mereka kalau terkena kekerasan pasti tidak akan melawan dan pasrah apa adanya. Kecuali ada pihak yang ikut membelakan," ucapnya.
Timbulnya kekerasan sendiri menurutnya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya, lantaran himpitan ekonomi yang seringkali membuat hilangnya akal sehat seseorang. Sehingga melakukan tindakan kekerasan.
"Pergaulan yang mengarah pada hal-hal negatif juga jadi faktornya. Sebab, hal negatif membuat orang melakukan tindakan yang mengabaikan norma dan akal sehatnya," ujarnya.
Bukan hanya itu, maraknya peredaran minuman keras juga dapat menambah jumlah daftar kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sebab, alkohol membuat akal sehat tidak normal lagi.
"Ketika ada senggolan atau ketersinggungan ucapan, orang yang mabuk akan bertindak keras," ungkap Dekan FKIP ULM ini.
Orang yang seringkali menonton adegan kekerasan di film menurutnya juga bisa melakukan hal yang anarkis.
"Selain itu, pendidikan keluarga, agama dan umum yang kurang menunjang juga jadi faktor orang melakukan kekerasan. Sebab, pribadinya kurang mempunyai kesalehan individu dan kesalehan sosial," ucapnya.
Untuk itu, dia menyarankan agar kaum perempuan dan anak-anak dibekali kiat-kiat untuk bisa membela diri. Ketika mereka mendapatkan perlakuan kekerasan. Baik dari keluarga, orang dekat maupun orang asing.
"Selain itu, harus ada penegakan hukum yang benar-benar bisa membuat jera kepada siapa saja yang melakukan tindakan kekerasan," pungkasnya. (ris/by/ran)
Editor : berry-Beri Mardiansyah