Niswi Ulfini, founder Kertas Madrasah ini enggan menyebut kalau apa yang dibentuknya tersebut sebagai sebuah komunitas. Ia menyebutnya sebagai kelas inspirasi dan motivasi. Berikut kisahnya.
---------------------------------------------------
MUHAMMAD RIFANI, Banjarbaru
---------------------------------------------------
Kertas Madrasah. Dari namanya, jelas salah satu kelas inspirasi dan motivasi asal Banjarbaru ini fokus ke sekolah Madrasah. Yakni sekolah yang berbasis Agama Islam dalam sistem dan pendidikannya.
Kelas Madrasah sebenarnya baru sekali terbentuk. Pengurusnya pun tidak banyak. Bahkan usianya masih remaja. Mereka juga alumnus dari berbagai Madrasah yang sukses menjalani pendidikannya.
Niswi Ulfini adalah salah seorang yang bertanggung jawab dibalik munculnya Kertas Madrasah. Remaja asal Cempaka Banjarbaru yang satu ini mendirikan Kertas Madrasah karena kekhawatirannya terhadap pandangan anak-anak madrasah, khususnya di Banjarbaru.
Niswi menceritakan bahwasanya banyak anak madrasah yang ketika lulus tidak mau melanjutkan jenjang pendidikannya ke tahap lebih lanjut. Yaitu kuliah di Perguruan Tinggi.
"Ada beberapa alasan, apakah soal keuangan, hingga Kurangnya kepercayaan diri karena merupakan anak madrasah," ucap alumnus Program Studi Bahasa Inggris ULM Banjarmasin ini.
Kepercayaan diri kata Niswi adalah yang benar-benar sangat mengkhawatirkan. Karena hal tersebut ujarnya akan terus menciptakan kesenjangan antara yang lulusan Madrasah dengan sekolah umum atau swasta lainnya.
"Itulah yang membuat saya bersama dengan teman-teman mendirikan Kertas Madrasah, rasa tidak percaya diri ini harus dipangkas, karena meskipun dari lulusan sekolah Madrasah, itu bukan alasan untuk tidak bisa melanjutkan pendidikan," tegasnya.
Target Kertas Madrasah sendiri kata Niswi fokus kepada motivasi untuk para siswa siswi di Madrasah. Untuk tingkatan kelas, Niswi dan kawan-kawan memilih Madrasah Aliah (setara SMA) dan yang sudah kelas XII atau tingkat akhir.
"Kenapa Aliah dan kelas XII. Karena mereka yang paling dekat dengan kelulusan dan memilih pilihan bagaimana kelanjutan pendidikannya," jawab putri kedua dari pasangan Humaidi dengan Hairiani ini.
Lantas seperti apa sebenarnya kegiatan Kertas Madrasah? Untuk sekarang ini, Niswi menggeber program mengunjungi ke delapan Madrasah yang ada di Banjarbaru. Baik negeri maupun swasta.
"Kita menyosialisasikan apa itu Kertas Madrasah, dan yang terpenting, kita memotivasi serta coba menginspirasi mereka, bahwa lulusan anak Madrasah juga bisa, tidak ada bedanya dengan lulusan sekolah umum lainnya," bebernya.
Mengenai cara menginspirasi, Niswi bercerita kalau dalam setiap kunjungan dirinya selalu menghadirkan narasumber yang inspiratif. Dan tentunya adalah seratus persen lulusan Madrasah.
"Para pemateri ini akan bercerita tentang alasan dan pengalaman mereka melanjutkan kuliah, juga masalah yang dihadapi sewaktu di Perguruan Tinggi, Alhamdulillah responsnya sangat bagus," kata Niswi yang ternyata sudah beberapa kali menuntut ilmu ke luar negeri lewat jalur beasiswa pendidikan ini.
Tak lupa, Kertas Madrasah dalam kunjungannya ujar Niswi juga memberikan wawasan serta pengetahuan perihal fakultas-fakultas dan jurusan-jurusan yang ada di Perguruan Tinggi di Kalsel.
"Karena mungkin masih ada yang belum terlalu banyak mengenal tentang jurusan, jalur masuk, dan beasiswa di perguruan tinggi, nah kita coba merangkum perguruan tinggi, jurusan, jalur masuk, dan beasiswa yang bisa di dapatkan oleh siswa-siswi madrasah ketika mereka akan melanjutkan ke perguruan tinggi," tuturnya.
Terbaru, awal tahun 2019 katanya menjadi waktu yang krusial bagi siswa-siswi kelas 12. Sebab, dalam waktu beberapa bulan saja siswa harus menentukan pilihan masa depan: apakah melanjutkan kuliah atau tidak?
"Jika melanjutkan maka mengambil jurusan apa dan di mana? Disinilah komunitas kertas madrasah mencoba menawarkan program Bimbingan Online Masuk Kuliah sebagai jawaban," cetusnya.
Bimbingan Online Masuk Kuliah sendiri katanya program yang digagas Kertas Madrasah untuk khusus siswa Madrasah kelas 12. Selain Niswi, Fitriana Aulia ujarnya sangat berkontribusi atas akar program ini. Tugasnya sebagai PJ (Penanggung Jawab) Bimbingan Onlone.
"Program bimbingan ini dilaksanakan secara online dan simpel. Hanya melalui grup WhatsApp saja," promosinya.
Meskipun cukup simpel, Niswi dan kawan-kawan turut menyematkan strategi khusus. Tujuannya untuk mengajak siswa lebih terampil menggunakan teknologi.
"Harus melek teknologi, meskipun anak madrasah juga harus beradaptasi dengan kemajuan zaman dan industri 4.0. Contohnya, saat mendaftar ke grup BO, mereka wajib mengisi data diri di laman Google Form dan mengecek kotak masuk email," ceritanya.
Tapi ekspektasi tak sepenuhnya terjadi. Niswi curhat bahwasanya strategi terampil digital ini berbuntut cukup rumit. Khususnya kepada anak yang jarang berurusan secara online.
"Tidak semua siswa yang mendaftar terbiasa dengan format pendaftaran tersebut sehingga banyak kesulitan terjadi. Ketidakterampilan ini tentunya tidak boleh dibiarkan begitu saja. Siswa mesti belajar dan membiasakan diri agar terampil dengan teknologi karena hal tersebut dipastikan akan selalu digunakan di dunia perkuliahan," pandangnya.
Jika sudah masuk grup. Setiap dua hari, laman chat grup ini beber Niswi ramai dengan bahasan topik seputar dunia perkuliahan. Baik cara memilih jurusan kuliah, tata cara mendapatkan beasiswa Bidikmisi, jalur masuk kuliah melalui SPAN, SBMPTN, hingga jalur masuk kuliah mandiri.
"Kita juga ajak para siswa peserta grup aktif melakukan tanya jawab dan konsultasi kepada kakak-kakak pembimbingnya, sharing dan berbagi pengalaman," katanya. (rvn/al/ram)
Editor : aqsha-Aqsha Radar Banjarmasin