Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Sahbirin + Muhidin = Tak Terkalahkan...?

miminradar-Radar Banjarmasin • Selasa, 7 Januari 2020 - 21:29 WIB
Mudihin (kiri) saat berpasangtan dengan Gusti Farid Hasan Aman di Pilkada 2015 yang lalu
Mudihin (kiri) saat berpasangtan dengan Gusti Farid Hasan Aman di Pilkada 2015 yang lalu

BANJARMASIN – Dengan siapa Sahbirin Noor berpasangan pada pemilihan gubernur (Pilgub) 2020 ini? Hingga saat ini belum ada jawaban pasti. Pasalnya, DPD Golkar Kalsel hingga saat ini sedang melakukan survei siapa pasangan jagonya yang paling tinggi elektabilitasnya.

Sampai batas waktu pendaftaran calon wakil gubernur yang dibuka Golkar  pada 15 Oktober 2019 lalu, ada 7 orang yang meyerahkan formulir pendaftaran.

Mereka adalah, Gusti Syahyar (Staf Ahli Gubernur Kalsel), Rosehan NB (anggota DPRD Kalsel Fraksi PDI Perjuangan), Sofwat Hadi (mantan anggota DPD RI), Gusti Iskandar (politisi Golkar), Abdul Wahid (Bupati HST), Muhidin (Ketua DPW PAN Kalsel), dan Supian HK (Ketua DPRD Kalsel).

Menariknya, nama terakhir (Supian HK) dimasukkan sebagai bakal calon pendamping petahana. Lantaran hasil survei awal yang dilakukan internal Partai Golkar menunjukkan hasil yang cukup bagus.

Sayangnya, Golkar Kalsel tak mau mengungkapkan siapa yang paling tinggi elektabilitasnya ketika berpasangan dengan Sahbirin. Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPD Partai Golkar Kalsel, Puar Junaidi mengatakan, siapa yang akan disandingkan dengan Sahbirin hingga saat ini terus berproses.

Menurutnya, siapa yang disandingkan nanti, dia adalah yang paling tinggi hasil survei yang dilakukan oleh DPD Partai Golkar Kalsel. Bahkan, sebutnya, DPP Partai Golkar pun akan melakukan survei kandidat yang ditawarkan oleh DPD.

Disinggung nama Muhidin yang saat ini isunya kencang berhembus, Puar menegaskan belum final. Bahkan dia menegaskan, kabar tentang adanya koalisi Madinah yang mencuat ke permukaan tidak benar.

“Jangan melemahkan kandidat lain. Semua ada mekanismenya. Saat ini tengah berproses, tunggu saja hasil survei dan hasil resmi dari DPP,” ujarnya.

Sementara, Ketua Harian DPD Partai Golkar Kalsel, Supian HK yang namanya dimasukkan sebagai bakal calon wakil gubernur mengacu hasil survei awal mengatakan, sesuai mekanisme pihaknya menunggu penetapan dari DPP.

Jika nanti disandingkan dengan Sahbirin ia siap melepas jabatan yang saat ini diembannya. Menurutnya, apapun yang diinginkan partai, itu adalah amanah yang harus diemban. “Saya sepenuhnya menyerahkan ke Ketua DPD Partai Golkar Kalsel,” ucap Supian.

Terpisah, mantan rival Sahbirin pada Pilgub 2015 lalu, Muhidin mengatakan, kepastian dirinya mendampingi petahana pada Pilgub tahun ini masih menunggu persetujuan DPP PAN Pusat. Boleh dikatakan, pasangan ini juga belum final diusung PAN.

“Masih tetap, tapi belum final. Persetujuan pencalonan belum dimintakan lagi sama DPP PAN pusat,” ujar Muhidin kemarin.

Mantan Wali Kota Banjarmasin itu masih berharap dirinya lah yang akan mendampingi Sahbirin untuk bertarung melawan calon lain. Dia sendiri tegas tak akan lagi melawan Sahbirin seperti Pilgub 2015 lalu.

Muhidin hanya ingin menjadi pendamping dulu selama lima tahun. Dan setelah itu, baru dia yang akan maju sebagai kandidat calon Gubernur Kalsel. “Untuk sementara final di tingkat daerah,” tandasnya.

Sementara, pengamat politik ULM, Gazali Rahman menganalisa, jika pada akhirnya Sahbirin dengan Muhidin berpasangan maju pada Pilgub tahun ini, akan susah dilawan calon lain. Menurutnya, baik petahana maupun Muhidin, memiliki modal pemilih yang jelas.

Contohnya sang petahana, dia memiliki modal kinerja lima tahun kepemimpinan, dan kedekatan dengan konstituen yang sudah terkomunikasi sangat bagus. Sementara yang menjadi nilai plus ketika berpasangan dengan Muhidin adalah memiliki konstituen yang stabil. “Jika mereka disandingkan, sangat kuat dan susah dikalahkan,” ujar Gazali.

Muhidin, sebut dosen FISIP ULM itu, harus mengambil langkah politik tahun ini. Pasalnya, momentum untuk maju ada di tahun ini. Dalam politik terangnya, ada istilah momentum.

“Sekarang momentumnya. Lima  tahun mendatang, bisa saja momentumnya tak lagi bagus. Apalagi jika ada figur lain yang bagus. Belum lagi lima tahun mendatang tak ada lagi calon petahana yang maju. Sekarang adalah watku yang tepat bagi Muhidin,” tandasnya. (mof/tof/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Banua Politik