TANJUNG - Daerah hulu sungai di Kalsel benar-benar menderita karena banjir. Hujan beritensitas tinggi yang mengguyur sejak Selasa (4/2) malam hingga Kamis (6/2) membuat sejumlah wilayah di banua anam mengakibatkan Banua terkepung air.
Sejumlah kawasan di Kabupaten Tabalong kebanjiran karena meluapnya air Sungai Tabalong. Kemarin, air bahkan mulai menggenangi pusat-pusat kota setelah membanjiri wilayah utara Tabalong.
Menuju lokasi banjir paling parah tidak bisa terjangkau dengan kendaraan bermotor. Seluruh jalan tertutup, terkecuali menggunakan perahu atau lanting. Kondisi paling parah terjadi di dua RT di Desa Nawin Kecamatan Haruai. Ketinggian banjir mencapai atap rumah mereka. beruntungnya, warga sudah dievakuasi ke tempat aman.
Sekretaris Daerah Tabalong, yang juga sebagai Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tabalong, H Abdul Mutalib Sangadji mengatakan, seluruh personel dikerahkan untuk membantu warga." termasuk TNI dan Polri membantu," katanya.
Dalamnya ketinggian luapan air di pemukiman membuat warga tidak lagi bisa beraktivitas sebagaimana biasa. Pemda setempat membuka dapur umum untuk warga yang terdampak. Puluhan ribu nasi bungkus disediakan.
Banjir juga merusak sejumlah jembatan di Tabalong. Jembatan gantung Desa Kapar sempat miring karena tersangkut batang batang pohon yang terbawa aliran sungai. Satu jembatan larut berada di Desa Hayub Kecamatan Haruai. Sedangkan dua jembatan lainnya berada di Kampung Sialing, Kecamatan Haruai dan Jembatan Kalingan Desa Panaan, Kecamatan Bintang Ara rusak parah, lantaran jembatan terputus.
Kepala Seksi Pembangunan Jalan dan Jembatan, Wahyu Hidayat mengatakan, sudah mendapatkan laporan terkait hal ini. "Baru satu yang kami tinjau, yang di Hayub," katanya yang menambahkan segera menginventarisir kerusakan jembatan lainnya.
Ia menjelaskan, kondisi jembatan di Desa Hayub menuju Ribang 1 itu sebelumnya hanya rusak parah, tapi karena derasnya aliran sungai akhirnya larut terbawa air. "Jika memang tidak ada lagi, kami akan mengusulkan supaya masuk dalam dana tidak terduga, supaya bisa dibangunkan jembatan baru," terangnya.
Menejer PLN Cabang Tanjung, Topan memberitahukan pihaknya harus memadamkan listrik di lokasi banjir. Setidaknya ada 27 desa yang terkena dampaknya. "Seluruhnya ada 69 buah gardu termasuk lima gardu BTS yang dipadamkan," ujarnya.
Dia berharap warga bisa memaklumi. Pasalnya cukup berbahaya jika listrik menyala saat banjir. PLN sendiri berharap warga bisa beraktifitas seperti biasa dan terdampak musibah bisa bersabar.
Banjir besar yang terjadi di Kabupaten Tabalong dan beberapa wilayah di Kabupaten Balangan juga membuat warga di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) khususnya yang bermukim di bantaran sungai, mulai was-was.
Hal ini karena air dua sungai yang membelah Kota Amuntai, yakni Negara dan Balanga menunjukkan kenaikan yang signifikan Kamis (6/2) kemarin.
"Meski air naik. Namun Alhamdulillah kediaman kami masih aman dari jangkauan air luapan sungai. Namun kami tentu was-was," kata Putra warga Pekapuran Kecamatan Amuntai Utara.
Meski demikian dirinya tetap melakukan antisipasi dengan mengamankan barang dan dokumen berharga termasuk peralatan listrik.
Sugeng selaku Kepala BPBD HSU mengimbau warga mengantisipasi banjir, tanah longsor dan puting beliung. "Warga juga kami ajak untuk melakukan gotong royong untuk pembersihan saluran drainase," singkat
Adapun wilayah yang bisa berdampak dengan kiriman air dari kabupaten tetangga ini yakni Kecamatan Banjang, Amuntai Utara, Amuntai Tengah, Sungai Pandan dan Haur Gading.
---
1.236 Jiwa Terdampak Banjir
SEMENTARA ITU, aktivitas warga Kecamatan Tapin Utara dan Kecamatan Bungur, Tapin lumpuh Kamis (6/2) pagi. Banjir menggenangi permukiman mereka akibat meluapnya sungai Tapin.
Di Kecamatan Bungur sejumlah perumahan, sekolah dan kantor Koramil terdampak. "Untuk air di luar sampai lutut orang dewasa sedangkan di dalam sekitar satu jengkal," ucap Danramil Bungur, Kapten Inf Budiman.
Dijelaskan Budiman, bahwa langkah antisipasi sudah dilakukan agar Koramil tidak kebanjiran dengan cara membuat pagar penghalang mengelilingi kantor. Tapi, hal ini sia-sia. "Akan coba kita pikirkan lagi, terutama agar air tidak masuk kedalam," ucapnya.
Bergeser ke Kecamatan Tapin Utara. Di daerah perkotaan Tapin banyak warga yang terdampak banjir, termasuk beberapa sekolah, yakni SDN Kupang 1, SDN Kupang 2 dan MI Muhammadiyah dan pemukiman warga.
Akibat genangan air ini, aktivitas belajar mengajar di sekolah terpaksa diliburkan. Momen ini dimanfaatkan sebagian siswa untuk bermain di sekolah. "Memang kalau sekolah kebanjiran otomatissekolah tidak melakukan aktivitas belajar mengajar," ucap Kepsek SDN 1 Kupang, Normaniah.
Memang diakuinya, setiap kali hujan lebat sekolahnya selalu terdampak banjir. Bahkan, air sampai masuk ke ruang kelas. Kondisi ini sudah keempat kalinya sejak pihaknya mengantisipasi dengan memagari agar air tak masuk. "Tapi, walaupun sudah diantisipasi air tetap masuk kedalam," pasrahnya.
Sementara Siti Aisyah warga Kelurahan Kupang mengungkapkan bahwa air sudah naik sekitar pukul 11 malam tadi. Hingga pagi hari air masih menggenangi rumahnya. "Rumah saya sudah kemasukan air. Terpaksa saya harus di luar," ucapnya, warga RT 12 ini.
Diceritakannya, sejak malam ia bersama suami beserta anak-anaknya langsung melakukan langkah antisipasi, agar barang-barang berharga tidak terendam air. Dia berharap bantuan bisa diberikan kepada warga yang terdampak banjir.
Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Tapin, Akhmad Syofyan, menuturkan bahwa ada dua Kecamatan yang terdampak banjir tahun ini. Kelurahan Rangda Malingkung, Kelurahan Kupang, Desa Lumbu Raya yang masuk Kecamatan Tapin Utara dan Desa Bungur Kecamatan Bungur," ucapnya.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun tim BPBD, ada 319 kepala keluarga dengan total 1.236 jiwa yang terdampak banjir tahun ini. "Kita membuka posko gabungan dan mendirikan dapur umum untuk membantu makanan kepada warga yang terdampak banjir," ucapnya.
Hingga pukul 15.30 Wita, BPBD Tapin sudah membagikan sebanyak 550 nasi bungkus. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapin, Said Abdul Nasir, mengimbau untuk orang tua, agar selalu mengawasi aktivitas anak-anaknya.
"Kita tidak ingin ada korban dalam musibah ini," ucapnya. Selain itu, ia juga mengimbau kepada masyarakat yang terdampak banjir, untuk bisa mematikan alat-alat elektronik di rumah masing-masing. (ibn/mar/dly/ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin