Selepas hujan mengguyur Kota Banjarbaru, Senin (2/3) menjelang tengah malam. Dari kejauhan, seorang anak perempuan perlahan mendekat. Di pundaknya, melintang tali pita webbing warna hitam, menopang keranjang jualannya. Pemandangan miris di balik predikat Kota Layak Anak.
-----------------
Putri –bukan nama sebenarnya- masih sangat belia, 8 tahun, baru duduk di kelas II SD, menjual kerupuk aneka rasa. Manis, asin sampai pedas. Harganya Rp10 ribu perbungkus.
Mengenakan kerudung putih polos, dipadu baju kaus kuning Hello Kity. Kaki kecilnya yang beralas sendal jepit biru muda, membawanya melangkah dari satu meja ke meja lainnya di sebuah kedai kopi depan Kolam Renang Idaman, tempat wartawan koran ini nongkrong malam itu.
Jajanan Putri terlihat laku malam itu. Ada yang memborong 5 bungkus. Kepada pembeli, ia membalas dengan senyuman. Pengunjung yang baik hati memberikan bonus, “Ambil saja kembaliannya”.
Radar Banjarmasin coba mewawancarai Putri. Tentunya tanpa sepengetahuannya. Dari hasil bincang-bincang, Putri mengaku kerap berjualan di akhir pekan. Namun sesekali di luar momen tersebut, ia turut berjualan. Seperti malam itu. Jika mujur, ia sampai 30-40 bungkus perhari. Kalau apes, paling 10 bungkus yang laku.
Banyak sedikitnya jualan yang laku tak memengaruhi upah Putri. Ia diberi Rp50 ribu sekali jualan. Uang tersebut digunakannya untuk jajan dan sebagian ditabung. Sedangkan bonus dari pembeli, juga bisa ia kantongi, asal tak ketahuan yang menyuruh.
Sedih mendengarnya, yang menyuruh ibunya sendiri. Sedangkan kerupuk jualan yang buat tantenya. "Ayah sudah meninggal. Mama menunggu di rumah, tidak kerja" ujarnya lirih, mulai ia tampak berhati-hati menjawab.
Meski berkilah keranjangnya tak menyiksa. Tapi jelas terlihat ia berat memanggulnya. Sesekali Putri menaruh keranjang di meja dan melonggarkan tali penyangga.
Putri bercita-cita menjadi guru. Alasannya tulus: ingin mengajarkan ilmunya ke orang lain. Karena itulah, meski bekerja sampai larut malam. Ia tetap memaksa bisa turun sekolah.
Tetapi dampak pekerjaannya tak bisa dibohongi. Kelelahan sering dirasakan. Sesekali ia harus telat masuk sekolah. Guru dan teman-teman tak mengetahui pekerjaannya. "Pernah ada mau masuk rumah makan, ternyata ada guru. Ulun (saya, Red) langsung menghindar. Malu dan takut kalau dimarahi," ungkapnya.
Biasanya, Putri berjualan selepas sekolah. Setelah berganti pakaian, ia diantar ibu atau paman. "Tapi kalau capek tidak turun. Biasanya siang sudah mulai berjualan jika tidak hujan. Malam pulang, paling lama jam 11-an," jelasnya.
Ditanya kapan waktu belajar, Putri terdiam.
Dari pantauan Radar Banjarmasin, Putri tak sendiri di kota ini. Ada sekitar 4 anak dengan jualan serupa. Usianya sepantaran Putri. Fuad –juga bukan nama sebenarnya- berjualan kerupuk, sama persis dengan Putri. Keranjangnya pun mirip. Bedanya, tali pita webingnya berwarna coklat. Hasil modifikasi dari tali tas selempang.
Juga berjualan hingga larut malam, pendapatan Fuad lebih besar dari Putri. "Kalau laku dua puluh bungkus 75.000, kalau lebih 100.000," jawabnya.
Ia juga kerap dikasih bonus oleh pembeli. Hasil jualan dipakainya buat beli kuota internet. Fuad hobi nonton Youtube dan main game online. Orang tuanya sudah cerai.
"Saya tinggal dengan ayah. Mama sudah pisah sewaktu saya TK. Ayah kerja, tukang bangunan. Berjualan ini karena diajak teman," ceritanya.
Selama Fuad berjualan. Orang tuanya menunggu di rumah. Jika waktunya pulang tiba, ia dijemput.
Sayang ketika coba menggali lagi, Fuad keburu pergi. Dari pengamatan, tampak seorang lelaki mengenakan kendaraan menunggunya dari kejauhan. Ia buru-buru naik kendaraan tersebut. (rvn/al/bin)
---
Tak Tuntas Bila Hanya Tangani Anak
SATPOL PP Banjarbaru mengaku juga beberapa kali memergoki anak-anak yang berjualan hingga tengah malam. Tapi sayang, tak kunjung tuntas. Lantaran, hanya sang anak yang ditertibkan.
"Orang tuanya atau pengantarnya selalu kabur ketika kita giat. Alhasil kita hanya memintai keterangan dengan anaknya. Memang mereka tidak mau terbuka, alasannya berjualan karena perlu uang saja," kata Kasat Pol PP Banjarbaru, Marhain Rahman melalui PPNS Seksi Opsdal, Yanto Hidayat.
Sementara itu, atas fenomena ini Kepala Bidang Perlindungan Perempuan & Anak (PPA) Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana, Pengendalian Masyarakat, Perempuan & Anak (Disdalduk KB PMP & PA) Banjarbaru, Rina Khairina memberi tanggapan.
Saat ini terangnya memang belum ada laporan. Namun, pihaknya sudah mengetahui kondisi ini. Untuk penanganan, pihaknya katanya harus berkolaborasi dengan SKPD atau instansi lainnya.
"Ini memang jadi atensi kami dan juga PR (pekerjaan rumah) bersama. Karena bukan hanya kami saja untuk hak anaknya, tetapi dalam penanganannya bersama-sama. Karena ini menyangkut beberapa aspek lain," ujar Rina.
Ke depan pihaknya berjanji akan tanggap menindaklanjuti fenomena ini. Ia pun berujar juga tidak ingin fenomena ini makin jamak dan jadi tren. "Nanti kita gelar rapat untuk membahas hal ini."
Dalam hal penindakan, sebetulnya katanya sudah terbit Perda Kota Layak Anak. Yang mana di dalamnya juga mencantumkan ihwal penanganan anak-anak yang jadi korban dalam fenomena ini.
"Jadi memang ada aturan yang mengatur hak anak. Salah satunya adalah pola asuh dan tanggung jawab orang tua dan keluarga," tambahnya.
Dinas sendiri belum melakukan peninjauan langsung ke lapangan. Makanya, Rina tak bisa menjawab secara pasti bagaimana fenomena ini bisa merebak. Dan soal apakah ada kelompok yang mengakomodirnya.
"Ini perlu diselidiki, jadi kita belum berani berstatemen. Yang jelas kita tidak ingin ini trennya meluas. Jangan sampai Kota Banjarbaru dijadikan tempat anak-anak berusaha tanpa memandang usianya," tegasnya.
Lalu apa upaya penanganan yang akan digalakkan? Rina menegaskan jika pihaknya akan konsentrasi kepada penanganan anak-anak ini, mereka sebagai korban.
"Kita fokus pada pembinaan anaknya. Makanya nanti ini harus dirapatkan dengan instansi lainnya agar penanganannya secara menyeluruh," tuntasnya. (rvn/bin/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin