Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Di Kathmandu, Duo Traveler Banua Terjebak Lockdown Selama Sebulan, Pernah Diusir Polisi

miminradar-Radar Banjarmasin • Senin, 27 April 2020 - 18:19 WIB
TERKURUNG DI HOTEL: Teddy Herianto (paling kanan) dan Adi Murdani (dua dari kanan), yang kini berada di Hotel Yalla Peak, Kathmandu. | FOTO: TEDDY HERIANTO FOR RADAR BANJARMASIN
TERKURUNG DI HOTEL: Teddy Herianto (paling kanan) dan Adi Murdani (dua dari kanan), yang kini berada di Hotel Yalla Peak, Kathmandu. | FOTO: TEDDY HERIANTO FOR RADAR BANJARMASIN

Sinyal telepon sering hilang dihantam badai. Hujan salju dan berkabut menyelimuti Annapurna Circuit Trek, Nepal. Alhasil, pengumuman lockdown pun terlambat diketahui Adi Murdani dan Teddy Herianto.

-- Oleh: WAHYU RAMADHAN --

KEDUANYA adalah traveller asal Banua. Adi dan Teddy sama-sama berasal dari Banjarmasin.

Andai tidak ada penerapan karantina wilayah di Negeri Seribu Kuil (julukan Nepal) itu, sesuai jadwal perjalanan, keduanya kembali ke Banua pada 26 Maret lalu. Namun, satu bulan berlalu, belum ada tanda-tanda kepulangan.

Posisi kedua traveller ini sekarang berada di Hotel Yala Peak, Kathmandu. Mengikuti peraturan pemerintah setempat yang sekarang masih memberlakukan karantina wilayah.

"Kami berdua sehat, tapi tidak bisa ke mana-mana. Hanya mengurung diri di hotel," ucapnya.

Adi mengisahkan, keberangkatannya ke Nepal tak lain untuk mendaki gunung. Jadwalnya, dari tanggal 8 sampai 26 Maret.

Mulanya, semua berjalan lancar. Tidak ada masalah Bahkan ketika tiba di Nepal, keduanya langsung berjalan ke Poon Hiil. Kemudian, ngetrek ke Annapurna Circuit Trek (ACT).

Namun, tepat pada 19 Maret, di tengah kawasan ACT, keduanya mendengar pengumuman itu: karantina wilayah. Saat itu pula, keduanya memutuskan menghentikan pendakian.

"Kami juga mencari-cari mobil jeep yang bisa membawa kami ke starting point di kota Besishahar," ucapnya.

Jeep didapat. Tepat 20 Maret, keduanya menempuh perjalanan selama delapan jam. Menuju Besishaha, kemudian melanjutkan perjalanan lagi selama empat jam menaiki bus mini. Dengan tujuan Pokhara, kota terbesar kedua di Nepal.

Di kota berjuluk Permata Himalaya ini keduanya bergegas mencari tiket pesawat secara online dengan tujuan Indonesia.

Celaka, semua pemesanan tiket berstatus no flight alias penerbangan tidak tersedia.

Keesokan hari, yakni 22 Maret, keduanya memutuskan berangkat ke jantung Nepal, Kathmandu. Ditempuh dalam waktu delapan jam perjalanan menaiki bus.

Setiba di sana, keduanya mendatangi maskapai penerbangan di pusat kota. Namun, kantornya sudah tutup. Tidak ingin menyerah, keduanya lantas menaiki taksi menuju bandara.

"Situasi di bandara waktu itu padat oleh banyak turis yang mencari tiket pulang. Seperti di pusat kota, kantor maskapai penerbangan juga sudah tutup. Jadi tidak ada tiket pesawat. Kami pun memutuskan kembali ke hotel," jelasnya.

Adi menuturkan, Nepal memberlakukan karantina wilayah total sejak 24 Maret. Dua hari sebelumnya, statusnya masih semi karantina.

"Tidak ada peringatan jauh-jauh hari dari otoritas setempat bahwa ada karantina. Makanya kami tetap naik gunung. Kemudian, ketika awal kami datang, COVID-19 di sini sudah 0 kasus," urainya.

Kini, baik Adi maupun Teddy, hanya bisa pasrah sembari berharap pemerintah Indonesia mengevakuasi WNI yang terjebak di Nepal.

"Semakin lama di negara ini, biaya hidup semakin membengkak. Pengeluaran sehari bisa Rp125 ribu hingga Rp150 ribu. Belum termasuk pembayaran visa," ucapnya.

Hal senada juga diungkapkan Teddy. Selain sebagai seorang karyawan perusahaan, dia juga merupakan kepala keluarga di rumah.

"Bagi saya, lockdown di sini berdampak sekali. Selain meninggalkan pekerjaan, saya juga meninggalkan keluarga," tuntas Eddy.

___

Kepergok Polisi di Ritel

"KATHMANDU yang semula ramai, kini bagai kota mati," tutur Adi Murdani.

Sudah lebih sebulan, Adi berada di Nepal. Terjebak lockdown saat pendakian. Dia bertahan bersama rekannya Teddy di Hotel Yala Peak.

Karantina wilayah membuatnya lekas bosan. Dia pun menawarkan diri membantu karyawan hotel menyiapkan makanan.

Tak hanya itu, dia juga harus keluar hotel dalam beberapa hari sekali untuk membeli persediaan logistik.

Masalahnya, pasar dan toko tutup. Ada memang ritel yang tetap buka, tapi sembunyi-sembunyi.

"Saya kepergok polisi ketika hendak ke supermarket. Untung cuma diusir kembali ke hotel oleh polisi," ungkapnya.

Selain diusir, Adi juga pernah berlari kencang menghindari razia. Lagi-lagi ketika dia hendak berbelanja.

"Ada sanksi kalau sampai ditangkap polisi. Bisa diperingati di tempat. Atau pantat dipukul tongkat. Seperti polisi yang di India itu. Tergantung kebijakan polisi saat itu," ucapnya terkekeh.

Seiring berjalannya waktu karantina, Adi pun mulai enjoy. Dia beserta tamu hotel lain cukup beruntung selama menjalani masa karantina. Urusan makan, kini dibantu oleh pemilik hotel.

"Meskipun tetap mengeluarkan biaya untuk kebutuhan pribadi dan biaya penginapan," tuturnya.

Tepat pada Kamis (24/4) lalu, Adi mengaku mendapatkan bantuan berupa uang tunai dari KBRI (Keduataan Besar Republik Indonesia) yang diwakilkan oleh Konsultan Kehormatan di Kathmandu. "Cukup lah untuk membeli logistik," ungkapnya.

Agar rasa khawatir dan bosan lekas hilang, Adi mengaku rajin berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia.

"Menyiasati rasa bosan di hotel, saya biasanya mengerjakan beberapa hal. Seperti meditasi atau yoga sederhana, membuat konten YouTube, menonton film sampai membaca buku," tuntasnya. (war/fud/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Banua Covid-19 Corona #Feature Umum