Pemko terpaksa menyetop tes swab massal untuk sementara waktu. Lantaran antrean sampel di laboratorium provinsi sudah menumpuk. Wali kota pun terpikir untuk membeli unit RT-PCR sendiri.
--
BANJARMASIN - Padahal, sebelumnya, Dinas Kesehatan Banjarmasin begitu gencar. Dalam sepekan, tes bisa digelar sampai tiga kali.
Juru Bicara Gugus Tugas P2 COVID-19 Banjarmasin, Machli Riyadi memastikan, tes swab terakhir digelar besok.
"Hanya swab massal yang disetop. Rapid test tidak. Besok (Sabtu) terakhir," kata Kepala Dinkes Banjarmasin tersebut.
Ketua gugus tugas, yakni Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina pun setuju. "Kalau diambil lagi, bakal kembali menumpuk. Sementara ya ditahan dulu," ujarnya, kemarin (11/6).
"Sebagai gambaran, kalau sampel diambil hari ini, kemudian dua pekan belum diolah, hasilnya bisa tidak valid lagi," tambahnya.
Diceritakannya, saking banyaknya sampel swab dari warga reaktif, tertumpuk di alat Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Ini pula yang menjadi perhatian pemerintah pusat. Yang kemudian men-drop bantuan dua unit RT-PCR untuk Pemprov Kalsel.
Maka bukan hanya sampel warga Banjarmasin yang diperiksa. Tapi 12 daerah lainnya. Bahkan Kalteng juga menumpang di sini.
Dari informasi yang Ibnu peroleh, ada 2.800 sampel yang belum diperiksa dan masuk daftar tunggu. Kemungkinan, memakan waktu 10 sampai 20 hari untuk diperiksa.
"Sampel swab di Banjarmasin saja yang masuk daftar tunggu atau antrean ada 500 sampel. Sedangkan RT-PCR memiliki keterbatasan. Satu alat hanya mampu memeriksa 100 hingga 130 sampel per hari," urainya.
Mengentaskan masalah ini, Ibnu berencana membeli sendiri alat RT-PCR agar pemeriksaan swab lebih cepat. Keinginan ini bahkan sudah didengar gugus tugas provinsi.
"Kalau hasil swab keluarnya lambat, maka sulit menegakkan diagnosis. Warga yang dikarantina karena hasil rapid test-nya reaktif, bakal bertanya-tanya apakah hasilnya positif atau negatif," lanjutnya.
Sisi lain, beberapa waktu lalu, Palang Merah Indonesia (PMI) Banjarmasin sempat menawarkan bantuan. Berupa sebuah alat yang diklaim bisa memeriksa sampel swab.
Namun, Ibnu melihat hasilnya lebih mirip rapid test, bukan swab test. Meskipun keuntungannya bisa lebih masif.
Lantas, berapa unit kah alat yang kiranya diperlukan pemko? Ibnu menyebutkan, setidaknya Banjarmasin memiliki satu unit. Dengan kapasitas pemeriksaan 90 sampai 150 sampel sehari. "Jadi kalau misalkan ada 500 sampel yang diperiksa, dalam sepekan sudah rampung," tuntasnya.
___
Klaim Angka Sembuh Lebih Besar
BANJARMASIN mencatat rekor kematian terbanyak bila dibandingkan kabupaten dan kota lain di Kalsel.
Pada Rabu (10/6) pukul 16.00 Wita, yang meninggal dunia mencapai 86 orang. Disusul yang mendapat perawatan berjumlah 613 orang. Paling mencolok adalah adalah angka kesembuhan, hanya 29 orang.
Tentu menimbulkan banyak pertanyaan. Terutama tentang bagaimana merawat pasien. Ketika dikonfirmasi, Juru Bicara Gugus Tugas P2 COVID-19 Banjarmasin, Machli Riyadi mengklaim tingkat kesembuhan yang lebih tinggi dari angka yang dilaporkan.
"Karena memang data kesembuhan, masih harus perlu diperbaiki sistem informasinya," kata Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin itu.
Sistem yang dimaksud, yakni penyampaian data dari rumah sakit ke gugus tugas. Machli menuding, rumkit milik Pemprov Kalsel, hanya melaporkan data milik Dinas Kesehatan provinsi saja.
Padahal, data itu juga semestinya dibagikan kepada Pemko Banjarmasin. Alasannya, sekalipun dikelola provinsi, rumkit rujukan itu berada di Banjarmasin.
"Seharusnya berimbang. Karena kami tak bisa mengintervensi rumah sakit di ranah provinsi. Selama ini belum ada laporan ke Dinkes kota," jelasnya.
Machli mengaku tak bisa berbuat banyak. Dia hanya berharap, ada instruksi lebih tegas dari pemprov kepada semua rumkit di Banjarmasin.
"Barangkali selama ini yang aktif cuma laporan pasien meninggal. Sebaliknya laporan pasien yang sembuh tidak begitu aktif. Makanya harus diperbaiki," tegasnya.
Lantas, apakah memang ada pertambahan angka sembuh? Pantauan Radar Banjarmasin, angkanya memang bertambah, tapi merangkak pelan.
Karut-marut data pemko dan pemprov juga terjadi. Terjadi selisih data. Contoh, data Rabu (10/6), versi pemprov mencatat ada 624 pasien yang dirawat. Sedangkan versi pemko mencatat 613 orang.
Soal tingkat kesembuhan, sama saja, mencatat 29 orang. Tapi untuk tingkat kematian, versi pemprov mencatat 88 jiwa. Sedangkan versi pemko lebih sedikit, mencatat 86 jiwa. (war/at/fud)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin