Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Profil Penduduk Kalsel

miminradar-Radar Banjarmasin • 2020-08-21 09:41:47
Drs Abdul Munir MSc MM, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Panca Setia Banjarmasin
Drs Abdul Munir MSc MM, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Panca Setia Banjarmasin

SITUASI dan kondisi penduduk di Kalimantan Selatan sangat variatif baik dari segi jumlah, pertumbuhan, kepadatan, sosial-ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan sosial-budaya. Sebagian besar penduduk mendiami wiayah perdesaan di kabupaten dengan mata pencarian pada umumnya di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan perdagangan kecil.

==========================
Oleh: Drs Abdul Munir MSc MM
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Panca Setia Banjarmasin
==========================

Transisi demografis di Kalimantan Selatan menggambarkan keadaan yang wajar dari segi kuantitas. Jumlah dan pertambahan penduduk tergolong dengan pertumbuhan yang cepat, yaitu dari 1.469.227 jiwa (1960), menjadi 1.669.105 (1971), dan dari 2.063.277 jiwa (1980), menjadi 2.596.647 (1990), begitu pula dari 2.970.244 (2000), memuncak ke 3.626.119 (2010).

Kita mengetahui bahwa penduduk Kalsel bertambah dua kali lipat (doubling time) dalam kurun waktu 40 tahun. Sungguh suatu pertumbuhan yang harus dikendalikan untuk menyeimbangkannya dengan daya tampung alam dan daya dukung lingkungan. Sementara itu laju pertumbuhan penduduk 1960, 1971 1980, 1990, 2000, 2010, 1469227, 1669105, 2063227, 2596647, 2970244, 3626119 (AGR) pun masih tergolong tinggi. Yaitu 1,98 % per tahun dalam rentang tahun 2000—2010. Angka ini di atas rerata nasional (1,49%).

Upaya untuk menekan laju pertumbuhan penduduk telah dilakukan melalui penyelenggaraan program keluarga berencana bersama instansi terkait, walaupun tidak seintensif seperti di era Orde Baru.

Kepadatan penduduk secara agregat menurut hasil Sensus Penduduk 2010 tercatat 97 jiwa per km. Namun kepadatan itu tidak merata, spasial, dan sporadis. Karena penyebaran penduduk lokal maupun migrasi pendatang mendiami daerah-daerah tertentu.

Wilayah yang terpadat adalah Kota Banjarmasin, yaitu 8.606 jiwa per km, dengan distribusi 17,25 %, sementara Kotabaru 31 jiwa per km, dengan distribusi 8,02 persen. Distribusi penduduk yang juga cukup tinggi adalah Kabupaten Banjar, 3,10 persen, sedangkan Balangan hanya 3,10 persen. Nisbah atau rasio jenis kelamin secara keleseluruhan se Kalimantan Selatan didominasi penduduk laki-laki, tetapi di empat daerah daerah lain seperti Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara dan Kota Banjarmasin menunjukkan lebih banyak penduduk perempuan.

Dinamika penduduk Kalsel tidak jauh berbeda dengan sebagian penduduk provinsi-provinsi lain di Indonesia. Di antaranya di ibu kota provinsi penduduknya sangat padat, di perdesaan sangat jarang, persebaran dan penyebaran penduduk belum merata, tingkat pendidikan dan derajat kesehatan masih rendah.

Fertilitas

Menurut versi SDKI, angka fertilitas total (TFR) Kalsel berfluktuasi menurun dalam masa 20 tahun terakhir, yaitu dari 2,7 (1991) turun signifikan 3 poin menjadi 2,3 (1994). Tetapi, kemudian naik 2 poin menjadi 2,5 (1997), dan stagnan pada 2,6 (2002/3) dan 2,6 (2007). Kalsel pernah mengalami penduduk tumbuh seimbang (PTS) pada tahun 1994 bersama dengan provinsi-provinsi lainnya. Rata-rata dalam keluarga terdapat sebagian besar dua anak atau catur warga. Kita dapat melihat riwayat kelahiran secara total agregat dari tahun 1991—2012.

Dari segi kesehatan, angka kematian anak dan kematian ibu waktu melahirkan masih tergolong tinggi. Namun tingkat kesadaran masyarakat akan kesehatan telah membaik dan praktik perdukunan bayi sudah jauh berkurang.

Yang menggembirakan, bidan di desa semakin bertambah. Apalagi Akademi Kebidanan sedang menjamur di Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura yang menunjukkan ada perbaikan ke arah mortalitas.
Angka harapan hidup juga masih tergolong rendah mencapai 65 tahun dan IPM pun masih rendah, lebih rendah daripada Kalteng. Migrasi penduduk sejak pemerintahan Hindia Belanda, Kalimantan Selatan menjadi daerah tujuan transmigrasi atau dikenal dengan sebutan koloni.

Daerah transmigrasi yang tertua adalah Kecamatan Pengaron di Kabupaten Banjar, kemudian di masa Orde Lama dan Orde Baru tersebar di Tanah laut, Kotabaru/Tanah Bumbu, dan Batola. Permukiman transmigran sangat potensial terhadap pertumbuhan ekonomi daerah terutama di bidang pertanian, perkebunan, dan agribisnis.

Di masa Reformasi dan Otonomi Daerah, telah banyak dibuka eksplorasi tambang batu bara dan perkebunan kelapa sawit, sehingga menarik tenaga kerja dari luar provinsi berdatangan ke kabupaten seperti Kotabaru, Tanah Bumbu, Tanah Laut, Tapin, Tabalong, dan Banjar. Oleh karenanya pertumbuhan penduduk meningkat akibat migrasi masuk. Namun dalam waktu 10 tahun terakhir, pertumbuhan penduduk kota Banjarbaru sangat signifikan yaitu dari 2,03 % ke 4,87 %. Sungguh pertumbuhan yang tertinggi di Kalsel.

Pertambahan penduduk dari faktor nonfertilitas dialami Kotabaru, Banjarmasin, Banjarbaru, dan Tanah Laut. Daerah-daerah ini menjadi tujuan pencari kerja asal Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan sekitarnya. Sedangkan penduduk Kalsel yang bermigrasi sementara (dalam waktu kurang lebih 5 tahun) ke luar provinsi, tergolong kecil. Terbatas pada siswa SMA yang melanjutkan kuliah ke sekitar Jawa Timur, Yogyakarta, dan Bandung, dan sekitarnya. (*/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#opini