Jumlah kelotoknya ada sembilan. Deklarasi pada tanggal sembilan. Disertai ajakan sembilan. Apa makna angka sembilan di sini?
---
BANJARMASIN - Sembilan kelotok dihiasi warna-warni partai koalisi. Komplet dengan spanduk wajah Ibnu Sina dan Arifin Noor. Perjalanan dimulai dari seberang Pulau Bromo, Banjarmasin Selatan.
Perlahan menyusuri Sungai Martapura, kedua bakal calon itu tak lelah melambai-lambaikan tangan. Menyapa warga di pesisir sungai.
Iring-iringan itu berhenti di Dermaga Museum Wasaka, Banua Anyar. Di sini, calon petahana memberikan orasi.
Pantauan Radar Banjarmasin, harus diakui, deklarasi itu cukup ketat dalam menerapkan protokol kesehatan. Anggota tim pemenangan dan kader partai pendukung mengenakan masker dan face shield.
Lalu, satu perahu hanya boleh ditumpangi 10 orang. Dari kapasitas 20 orang. Agar mudah menjaga jarak. Terakhir, bekal makanan dilarang dibawa dengan kantong kresek untuk mengurangi sampah plastik.
Filosofinya adalah bapaslon ini memegang tekad untuk menggeliatkan pariwisata sungai dan peduli lingkungan.
Namun, kalau ada pertanyaan, terkait makna angka sembilan. Spanduk di badan kelotok tampak mencolok. Bunyinya, "Tanggal 9 hari Rabu, Ibnu Sina-Arifin pilihanku".
Apakah itu tergolong curi start kampanye? Mengingat Pilkada 2020 baru mencapai tahap pendaftaran. KPU bahkan belum menetapkan kandidat Pilwali.
Ketika pertanyaan itu diajukan kepada Ketua Tim Pemenangan Ibnu-Arifin, Bambang Yanto menjawab, deklarasi pihaknya sama saja dengan bapaslon lain.
Tidak ada maksud untuk berkampanye. "Yang namanya deklarasi wajar-wajar saja. Kami ingin tampil beda. Dari sini lah kami memulai," kata tokoh Partai Demokrat tersebut.
Soal makna angka sembilan di sini, memang ada filosofinya. "Kalau ingat tanggal 9, orang jadi ingat Ibnu Sina dan Arifin. Intinya kan begitu," tambahnya.
"Kami ingin warga pinggiran juga diperhatikan. Ingat, sungai adalah denyut nadi masyarakat Banjarmasin. Baik dari segi ekonomi, sosial maupun budaya," jelasnya.
Sulit Dibedakan
Pengamat politik dari UIN Antasari, Ani Cahyadi mengakui, antara sosialisasi dan kampanye memang sulit dibedakan.
Kampanye punya jadwal yang ditetapkan KPU. Sedangkan sosialisasi, masih abu-abu. Celah inilah yang kerap digunakan peserta pemilu.
"Artinya tidak memiliki dasar hukum. Maka Bawaslu pun kesulitan untuk menindak," ujarnya via telepon.
Soal gaya deklarasi, menurutnya sah-sah saja jika masing-masing menunjukkan gaya dan cara berbeda. "Misalkan susur sungai oleh petahana. Selama ini kan Ibnu Sina selalu menggaungkan wisata sungai," tambahnya.
Ani hanya mengingatkan kepada kandidat, tim pemenangan dan relawan, bahwa pandemi belum berlalu. "Tetap utamakan protokol kesehatan," tegasnya. (war/at/fud)
Judul sambungan: Deklarasi Terapkan Protokol dengan Ketat