Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Laporan Pameran Tunggal di Kampung Buku: Penyatuan Ekspresionis dan Tasawuf

miminradar-Radar Banjarmasin • Senin, 26 Oktober 2020 - 22:02 WIB
MURSYID: Potret para guru tasawuf yang dilukis Hajriansyah. Lukisan karya perupa 41 tahun itu bisa dinikmati warga Banjarmasin di Kampung Buku sampai 8 November nanti. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
MURSYID: Potret para guru tasawuf yang dilukis Hajriansyah. Lukisan karya perupa 41 tahun itu bisa dinikmati warga Banjarmasin di Kampung Buku sampai 8 November nanti. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Belasan talenan kayu menempel ke dinding. Tungku gerabah berjejer rapi di bawah. Kedua perabot itu tak luput dari sapuan kuas Hajriansyah. Perupa yang menggelar pameran tunggal bertema 'Suluk'.

-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin --

MEMASUKI area pameran tunggal di Kampung Buku, Jalan Sultan Adam, Banjarmasin Utara, dua benda itulah yang pertama kali menyambut mata pengunjung.

Kedua benda itu tak kalah mencolok dibandingkan dengan seluruh lukisan di situ. Yang umumnya menggunakan kanvas sebagai media lukis.

"Perupa kerap dihinggapi bosan. Muncul keinginan mencoba media lain untuk dilukis. Misalnya menyapukan kuas di tungku gerabah dan talenan kayu," ucap perupa kelahiran 10 Oktober 1979 itu.

Dalam berkarya, Hajriansyah mengusung gaya ekspresionis. Atau kecenderungan perupa untuk mengungkapkan efek-efek emosional dalam lukisan.

Pameran tunggal yang digelar sedari tanggal 24 Oktober sampai 8 November itu sarat dengan nuansa sufisme.

Bagaimana tidak, seluruh karya di situ merupakan hasil perenungan Hajriansyah selama 10 tahun ber-suluk.

Suluk adalah istilah khas tasawuf. Bagi penganut tarekat, suluk adalah jalan yang ditempuh untuk menuju kesempurnaan batin.

Artinya, ke-15 buah karya itu merupakan hasil perjalanan spiritual pribadinya. Melalui pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang makna keberadaan diri.

"Merekam kehidupan pribadi dengan orang-orang yang saya temui maupun alam sekitar. Tentang orang-orang terdekat, tentang Pegunungan Meratus. Termasuk makna dari huruf hijaiyah (Arab) yang ada di hampir seluruh lukisan. Huruf-huruf itu memiliki makna tersendiri," tutur Hajriansyah.

Bagi orang awam seni (apalagi awam tasawuf), demi menangkap makna lukisan-lukisan ini, tentu perlu berdiskusi langsung dengan perupa. Membaca karya Hajriansyah memang gampang-gampang susah. Atau lebih banyak susahnya.

Untungnya, pada setiap karya, disematkan kertas kecil berisi judul dan keterangan bahan cat yang digunakan.

Contoh di atas gerabak tungku yang ia lukisi, diberi judul 'Menuju Meratus'. Ini pernyataan sikap Hajriansyah yang menolak eksploitasi Pegunungan Meratus.

"Apabila Meratus dirusak, sedikit banyak kita di sini juga terkena imbasnya. Meratus adalah pegunungan spiritual bagi masyarakat Kalimantan," tuturnya.

Di pojokan lain galeri, Hajriansyah juga melukis potret wajah guru-gurunya. Salah satunya Syekh Nazim Al Haqqani. "Saya tidak pernah bertemu beliau. Tapi saya merasa dekat dengan beliau," tuturnya.

Tapi yang paling menggambarkan perjalanan spiritual Hajriansyah adalah lukisan berjudul 'Suluk'. Lukisan itu berada di pojok galeri. Ada gambar dua orang, seorang duduk di kursi, seorang lagi bediri. Didominasi cat berwarna biru, suasananya tampak getir.

"Ketika teknologi kian maju. Sadar atau tidak, masing-masing seakan mengucilkan diri. Sibuk dengan masing-masing kegiatannya," tutupnya.

Dari Ruang yang Tak Biasa

Berkunjung ke pameran tunggal Hajriansyah, tentu memberikan seabrek pengalaman. Bagaimana menyulap ruang publik menjadi ruang pameran. Dan bagaimana pengunjung belajar menghargai sebuah karya di dalamnya.

Kampung Buku yang umumnya digagas menjadi wadah nongkrong (pengunjung bisa makan dan minum, juga berbelanja buku) dan diskusi, kini disulap menjadi galeri terbuka.

Maka, bisa dibayangkan bila ada pengunjung yang duduk santai sambil menyulut tembakau atau mengudap camilan, sementara di sampingnya ada lukisan.

Kemudian, bandingkan dengan galeri yang punya penerangan canggih. Dan tentu tak boleh menyentuh barang yang dipamerkan, bahkan diberi jarak tertentu.

Bagi Hajriansyah, ini menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana mengajak pengunjung Kampung Buku untuk menghargai karya seni rupa.

Hal senada diungkapkan seniman muda Noviyandi Saputra. Ia menilai, menikmati karya Hajriansyah di Kampung Buku, menghadirkan pengalaman estetik baru dan tidak biasa.

Utamanya dalam ruang yang dipakai. "Karena kalau berharap galeri yang mapan, Kalsel dan khususnya Banjarmasin tidak punya itu," ucapnya.

Maka, menyikapi keterbatasan ruang, menurut Novi, para seniman harus memanfaatkan ruang-ruang baru untuk meletakkan karya.

Terkait karya-karya Hajriansyah, dia berpesan agar pengunjung mengubur dalam-dalam ekspektasi realisme. "Karena tidak bakal ditemukan di semua karya yang dipamerkan di situ," tegasnya.

"Karyanya bergaya ekspresionis. Serta hasil dari banyaknya peristiwa dalam suluknya," tutup direktur artistik di komunitas seni NSA Project itu. (war/fud/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Feature Seni Budaya