Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Melatih Merpati Balap di Teluk Kelayan: Gampang Bila Kembali, Susah Bila Kabur

miminradar-Radar Banjarmasin • Senin, 21 Desember 2020 - 17:33 WIB
SERU: Beginilah suasana sore hari di Teluk Kelayan, tak jauh dari rusunawa. Melatih burung merpati balap di siring tepi Sungai Martapura. Foto diambil kemarin (20/12). | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
SERU: Beginilah suasana sore hari di Teluk Kelayan, tak jauh dari rusunawa. Melatih burung merpati balap di siring tepi Sungai Martapura. Foto diambil kemarin (20/12). | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Ketika aba-aba diberikan, seekor merpati jantan melesat. Terbang lurus menyeberangi sungai. Menuju arah tangan sang pelatih yang menggenggam merpati betina.

-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Radar Banjarmasin --

SEGEROMBOL pemuda tak henti-hentinya berteriak. Begitu pula dengan bocah di dekat mereka.

Semua mata menatap lurus ke depan. Di kejauhan, beberapa ekor merpati tampak mengepakkan sayap. Ada yang terbang meliuk, ada pula yang terbang lurus menuju sumber suara.

Teriakan mereka mereda ketika seekor merpati hinggap di tangan.

Itulah cara warga Teluk Kelayan di Banjarmasin Selatan mengisi waktu luang di sore hari. Yakni melatih burung merpati balap.

"Merpati tercepat yang hinggap ke tangan majikan, itulah pemenangnya," kata Madin, salah seorang pemilik merpati.

Ditemui kemarin (20/12) sore di kawasan rusunawa, sedikitnya ada sembilan pasang merpati balap yang dibawa pemuda 31 tahun itu. Semuanya dilatih bergantian.

Tampak dua rekannya Amat, 37 tahun dan Mahrus, 23 tahun. Mereka dibantu para bocah yang antusias.

Melatih merpati balap sebenarnya gampang-gampang susah. Gampang ketika merpati kembali ke tangan sang majikan. Susah apabila merpati tak kunjung kembali.

"Kami pernah melepas lima merpati. Tapi yang kembali cuma empat. Susahnya minta ampun, karena harus mencari ke mana-mana. Dan jarang bisa ketemu," kisah Amat seraya tertawa.

Melatih merpati balap bukan sesuatu yang asing di sini. Sudah rutin dilakoni warga pendatang Teluk Kelayan.

"Khususnya yang pendatang, rata-rata memelihara merpati balap. Jadi hiburan. Menghilangkan stres setelah bekerja. Selain itu, menjauhkan kami dari perkara negatif," ungkap pria asal Pamekasan, Jawa Timur tersebut.

Senada dengan Mahrus. Layaknya sepak bola, para pegiat merpati balap pun memiliki tim. Mahrus, Amat, Madin dan dua anggota lainnya membentuk tim bernama Sekmasek Putra Bumi.

Baik ia sendiri, Amat dan Madin, juga tergabung dalam tim yang cukup sederhana. Yang berisikan empat sampai lima orang anggota. Nama timnya, Sekmasek Putra Bumi.

"Tim dibentuk buat mengikuti lomba. Kalau tanpa tim, sulit. Kan yang dibawa tak hanya sepasang saja," tambahnya.

Melihat cara ketiganya melatih merpati, sungguh mengasyikkan. Pertama, merpati betina dipegang sang pelatih. Sedangkan merpati jantan, dibawa menjauh. Dalam kasus ini dari seberang sungai.

Begitu siap, si pemegang merpati betina memberikan aba-aba agar merpati jantan dilepas. Merpati jantan pun terbang, mencari keberadaan pujaan hatinya.

Agar memudahkan pencarian, sang pelatih sesekali berteriak. Kian cepat posisi si betina diketahui, kian cepat terbangnya. Siapa tercepat, dialah pemenang. Sesederhana itu.

Dari perhitungan penulis, penyeberangan itu hanya perlu 20 detik. "Kalau hanya menyeberangi sungai, belum seberapa. Seharusnya, minimal jarak melatih merpati balap itu sekitar satu kilometer," ucap Mahrus.

Sekilas, bila melihat merpati yang dilatih, tak jauh berbeda dengan merpati yang biasanya keluyuran. Bedanya cuma kecepatan. "Kalau merpati biasa, terbangnya ya seperti burung biasa. Sedikit lebih lamban," tutupnya.

Kalau Juara Ditaksir Jutaan Rupiah

MENURUT Madin, merpati termasuk golongan burung pintar. Terbukti dengan kemampuannya dalam mengenali kandang dan daerahnya.

Khusus untuk merpati balap, ada kelebihan lain. Yakni mampu mengenali pasangan, pemilik, dan pelatihnya dari jarak cukup jauh.

"Harga jual merpati balap yang sudah sering juara di berbagai lomba pun sangat lah mahal. Berkisar antara belasan hingga puluhan juta," ungkapnya.

Pun demikian dengan anakan merpati balap. Harga yang ditaksir juga tak murah. Menurut Madin, rata-rata harga anakan dijual ratusan ribu. Bahkan lebih satu juta rupiah.

Untuk bisa memiliki merpati balap, Madin mengaku membeli secara patungan bersama rekan-rekannya. Dibeli dari tangan si peternak. Yang biasanya mangkal di pasar-pasar.

"Dipilah-pilih. Dilihat dari segi postur tubuh, sayap dan lain sebagainya," bebernya.

Lantas, apakah ada trik khusus untuk melatih atau merawat merpati balap? Terkait itu, Mahrus membeberkan trik pertama, memisahkan merpati jantan dan betina.

Dalam artian, sangkarnya tak boleh digabung selama sepekan. Atau hingga merpati sama-sama birahi.

"Kalau sudah birahi baru dibawa untuk berlatih. Biasanya, pada waktu birahi, insting si jantan akan cepat menanggapi di mana posisi si betina," tuturnya.

Sedangkan dalam pemeliharaan untuk persiapan menghadapi lomba, merpati balap yang jantan biasanya perlu diberikan jamu. Yang dibuat antara telur ayam dan kunyit. Atau rempah-rempah lainnya.

"Diminum sebelum dan sesudah mengikuti lomba. Agar burung balap lebih prima," tambahnya.

Lantas, bagaimana urusan pakan? Diakuinya, makanan adalah sumber energi utama. "Biasanya pakai jagung kering. Kacang hijau sebagai tambahan," tutupnya. (war/fud/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Feature Umum #Banua Tani, Sawah, dan Ternak