BANJARMASIN - Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Jawa-Bali berdampak dengan kegiatan keberangkatan dari Kalsel ke Pulau Jawa maupun sebaliknya. Tak hanya penumpang pesawat yang harus memenuhi syarat vaksinasi, penumpang kapal laut pun demikian.
Bagi penumpang kapal laut yang dari Pulau Jawa atau sebaliknya, harus melengkapi syarat dan dokumen perjalanan. Syarat yang harus dimiliki penumpang adalah wajib PCR yang berlaku 2x24 jam, atau rapid tes antigen yang berlaku 1x24 jam.
Tak hanya itu, agar bisa melakukan perjalanan menggunakan kapal laut, penumpang juga harus menunjukkan minimal kartu vaksin pertama. Sebelum berangkat, calon penumpang juga harus mengisi kartu kewaspadaan kesehatan (E-HAC).
Kelonggaran diberikan kepada pengemudi angkutan logistik. Mereka tak diwajibkan menunjukkan minimal kartu vaksin pertama seperti penumpang. Meski demikian, para sopir tetap wajib PCR yang berlaku 2x24 jam, atau rapid tes antigen yang berlaku 1x24 jam dengan hasil negatif Covid-19.
Diwajibkannya menunjukkan minimal kartu vaksin pertama kepada calon penumpang, disebut Kepala Cabang PT Dharma Lautan Utama (DLU) Banjarmasin Anton Wahyudi, sangat berdampak terhadap jumlah penumpang. Pengurangan sebutnya mencapai 50 persen. “Berkurang setengahnya dari hari biasa,” ujarnya kemarin.
Bagaimana tidak, vakisanasi sendiri saat ini belum menyasar semua masyarakat. Beda dengan PCR dan rapid test yang dapat dilakukan calon penumpang. Sementara, vaksinasi masih banyak warga yang belum melakukannya.
Anton mengaku, meski berdampak terhadap jumlah penumpang, pihaknya sangat mendukung terhadap kebijakan ini. “Kita tahu sendiri, kasus Covid-19 khususnya di Pulau Jawa meninggi. Jangan sampai karena dilonggarkan, kasus di Kalsel juga akan meninggi,” ujarnya.
Di sisi lain, salah seorang calon penumpang kapal laut tujuan Surabaya, Sumarlan mengaku bersyukur dia bisa berangkat. Kartu vaksin yang didapatnya tempo lalu saat vaksin massal yang digelar Polda Kalsel, menyelamatkannya. “Bagus saja. Daripada kasus meninggi seperti di Jakarta. Saya juga takut menularkan virus ke keluarga,” katanya.
Seperti diketahui, sebelumnya penerapan aturan ini sudah dilakukan lebih dulu bagi penumpang pesawat di Bandara Internasional Syamsudin Noor. Aturan ini menyusul keluarnya Surat Edaran Kementerian Perhubungan RI Nomor 45 Tahun 2021, penerbangan ke pulau Jawa dan Bali atau sebaliknya akan diperketat.
Varian Delta Berpeluang Masuk ke Kalsel
MESKI sudah menyebar ke sejumlah wilayah di Indonesia. Namun, Covid-19 varian delta belum terdeteksi di Kalsel. Meski begitu, bukan berarti virus ini tidak bisa masuk ke Banua.
Ahli Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan ULM, Prof Husaini mengatakan, Kalsel merupakan salah satu daerah yang terbuka. Sehingga, berbagai varian Covid-19 sangat berpeluang masuk. "Kalsel sangat terbuka wilayahnya. Jadi peluang varian delta masuk itu ada," katanya.
Oleh karena itu, dia menyarankan agar pemerintah memperketat skrining terhadap orang-orang yang masuk dan keluar dari wilayah Kalsel. "Juga perbanyak sampel untuk diperiksa whole genum squencing (pengurutan keseluruhan genom)," sarannya.
Kemudian, Husaini juga meminta supaya program 3T (tracing, testing dan treatment) lebih diperketat oleh Satgas Covid-19 Kalsel. "Vaksin Covid-19 juga harus lebih digencarkan di masyarakat. Serta, perketatan disiplin masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan," pintanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kalsel M Muslim menuturkan, hingga kini pihaknya memang belum menerima surat terkait adanya varian delta di Kalsel. "Kita beberapa kali menerima surat dari pusat, tapi tidak ada instruksi Covid 19 concern terkait delta ini," ujarnya.
Meski begitu, dia mengakui bahwa saat ini terjadi peningkatan kasus di beberapa kabupaten/kota di Kalsel. Di antaranya, Tanah Bumbu, Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar dan Tanah Laut.
"Kalau Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar, Tanah Laut itu 'kan sering disebut Banjarbakula. Jadi kalau satu naik kasusnya, yang lain juga menyusul. Karena daerah aglomerasi atau lintasan yang tidak tersekat," ucapnya.
Menurutnya, kenaikan kasus Covid-19 terjadi lantaran mobilitas masyarakat yang masih tinggi. Serta protokol kesehatan yang mungkin belum mantap.
"Kita berupaya keras untuk melakukan pencegahan peningkatan kasus dengan edukasi, informasi, dan komunikasi. Serta, kita juga minta masyarakat agar proaktif bersama melakukan pencegahan," bebernya.
Penambahan kasus positif Covid-19 harian di Kalsel sendiri kemarin (6/7) kembali meningkat. Yakni ada sebanyak 55 orang, berasal dari Tanah Bumbu 15 orang, Barito Kuala 13 orang, Tanah Laut 9 orang, Kota Banjarbaru 6 orang, Hulu Sungai Utara 4 orang, Tapin 3 orang, Hulu Sungai Tengah 3 orang, Banjar 1 orang dan Hulu Sungai Selatan 1 orang.
Sedangkan, pasien Covid-19 yang dilaporkan sembuh sebanyak 69 orang. Berasal dari Karantina Kota Banjarbaru 22 orang, Karantina Tanah Bumbu 18 orang, Karantina Tanah Laut 13 orang, Karantina Hulu Sungai Tengah 7 orang, Karantina Banjar 5 orang, Karantina Kotabaru 3 orang dan Karantina Barito Kuala 1 orang.
Kemudian pasien Covid-19 yang dilaporkan meninggal sebanyak tiga orang. Berasal dari Barito Kuala dua orang dan Tapin satu orang yang semuanya meninggal pada 5 Juli.
Dengan bertambahnya 55 kasus harian, maka total warga Kalsel yang positif Covid-19 ada 36.721 orang. Dengan rincian sembuh 34.583 orang, dirawat 1.058 orang, meninggal 1.080 orang, dan suspek 143 orang.
Siapkan Halaman IGD Jika Darurat
SEMENTARA ITU, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin Suciati menyebutkan dua pekan terakhir lonjakan pasien Covid mulai terasa. 20 Juni 2021 mulai melandai, pasien yang dirawat tersisa 19 orang."Tanggal 21 Juni mulai naik, sampai sekarang sudah 61," katanya.
Kenaikan hingga tiga kali lipat itu membuat Suci waspada. Sejumlah rencana cadangan disiapkan jika sewaktu-waktu terjadi lonjakan. Salah satu yang dipersiapkan adalah menambah tempat tidur bagi pasien. "Disaster plan sudah kita siapkan, kalau memang tidak muat kita pakai tenda didepan IGD," ujar Suci.
Antisipasi yang dilakukan sementara ini, menambah jumlah tempat tidur dari 206 menjadi 400 tempat tidur. Tiap ruangan yang sebelumnya hanya untuk satu pasien sekarang diisi dua.
Ruangan yang disiapkan untuk menampung pasien Covid ada tiga, Bougenville satu lantai, Anggrek empat lantai dan Mawar lima lantai. "Kalau dulu pasien yang masuk klaster perorangan, sekarang banyak yang klaster keluarga," jelasnya.
Bagaimana ketersediaan oksigen? Suci menyebutkan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Pemprov Kalsel untuk menambah stok. "Melalui pemprov kita sudah pesan 300 tabung untuk persediaan," ujarnya sembari menyebut oksigen di RS Ulin hanya berjumlah 80 tabung.
Meski ada lonjakan, Suci tetap berharap, jangan sampai terjadi seperti di provinsi lain. Ia mengimbau agar masyarakat menerapkan protokol kesehatan (Prokes) ketat. "Mudah-mudahan di Kalsel tidak naik," harap Suci. (mof/ris/gmp/ran)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin